Internasional

Fr Aidan Troy: Sengketa Holy Cross disebut ‘hatred at its worst’

×

Fr Aidan Troy: Sengketa Holy Cross disebut ‘hatred at its worst’

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Holy Cross: School dispute was 'hatred at its worst' says Priest

jurnalistik.co.id – Fr Aidan Troy, imam yang pada masa sengketa Sekolah Holy Cross membantu melindungi siswi, mengatakan bahwa “luka” dari peristiwa 2001 di Belfast utara masih mungkin muncul lagi.

Pernyataan itu disampaikannya dalam rangka peringatan 25 tahun peristiwa Holy Cross. Ia menuturkan, pengetahuan bahwa kekerasan serupa bisa kembali menjadi alasan ia tetap “devos pada dialog, percakapan, pencarian keadilan, dan kepedulian pada sesama”.

Dalam wawancara itu, Troy menyebut sengketa sektarian sebagai “hatred at its worst”. Ia menggambarkan situasi yang terjadi ketika arus protes berubah menjadi konfrontasi fisik di sekitar jalur sekolah.

Peristiwa bermula di utara Belfast saat sejumlah pengunjuk rasa loyalis berupaya menghalangi rute yang ditempuh murid Holy Cross beserta orang tua mereka menuju sekolah. Para siswa yang berangkat dari latar belakang Katolik berjalan menuju kelas setiap hari.

Setelah kekerasan awal terjadi, kepolisian dan militer kemudian menempatkan crash barriers untuk menjaga koridor agar rute khusus siswa Holy Cross tetap bisa dilewati. Troy mengingat ketegangan yang menyelimuti suasana sejak langkah pertama.

Gambar-gambar siswi yang ketakutan kemudian tersebar luas. Mereka terlihat harus berlari melalui “koridor” di antara dua barisan polisi lapis perlindungan (armoured) demi sampai ke sekolah dasar tempat mereka belajar.

Troy juga menyinggung narasi yang beredar saat itu. Menurut pengunjuk rasa dari pihak Protestan, mereka mengklaim bahwa umat Katolik menyerang rumah-rumah mereka, dan aksi protes di sekolah dianggap sebagai cara untuk menyoroti kekhawatiran mereka.

Selama beberapa pekan masa gejolak, lemparan batu dan botol terjadi, termasuk penggunaan kembang api. Dalam periode kerusuhan itu, bahkan dilaporkan ada ledakan bomb.

“Tidak ada dari kami yang ingin melihat kebencian”

Fr Aidan Troy, yang pada saat kejadian menjabat sebagai pastor paroki di Ardoyne, mengatakan kepada BBC News NI bahwa “none of us want to see hatred”. Ia menyampaikan pandangannya bahwa kebencian adalah sesuatu yang paling buruk dan paling merendahkan martabat manusia.

Dalam komentar yang sama, ia berkata, “Hatred is the rawest, smelliest, most awful thing that anyone stood in the middle of.” Ia menegaskan bahwa cerita tentang kejadian itu diceritakan bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan sebagai pengingat bahwa manusia mampu melakukan hal yang sama terhadap satu sama lain.

Ia menambahkan perlunya komitmen: agar tidak ada tindakan yang pernah merendahkan cara anak-anak itu diperlakukan pada saat kejadian. Baginya, keberlanjutan dialog menjadi jalan agar tragedi tidak terulang.

Troy juga menyebut bahwa banyak orang menghampirinya dan menyampaikan terima kasih atas perannya saat itu. Ia mengatakan merasa “malu” karena menurutnya ia tidak melakukan sesuatu yang benar-benar sangat bernilai.

Ia menuturkan bahwa sebagian orang memaknai perlindungan itu melalui “martabat” yang diberikan kepada anak-anak mereka. “They were worth going in the front door and they were worth fighting for,” ujarnya, sebelum menyatakan bahwa ia berdiri di tengah jalan dan menyatakan hal tersebut.

Namun, Troy tidak menutup kemungkinan bahwa situasi serupa dapat terjadi kembali. Ia mengatakan, “it could happen again”.

Menurutnya, kejutan setelah Holy Cross, bahkan setelah 25 tahun, membuat kemungkinan itu tidak muncul persis dalam bentuk yang sama seperti kala itu. Meski begitu, ia menekankan bahwa “hurt” atau luka itu selalu mungkin ada.

Ia menjelaskan, “The shock of Holy Cross, even 25 years later, probably means that it probably would not happen [again] in the exact same form, but the hurt is always possible.” Dengan kata lain, bentuknya bisa berbeda, tetapi dampaknya terhadap orang-orang yang mengalaminya tetap bisa muncul lagi.

Dampak psikologis pada siswa

Selain pengingat mengenai kerusuhan, kesaksian juga menyinggung dampak langsung pada anak-anak. Sekitar seratus murid membutuhkan konseling akibat pengalaman harian yang mereka jalani, menurut kepala sekolah pada masa itu, Anne Tanney.

Tanney kemudian berbicara kepada BBC pada 2004. Ia menggambarkan bahwa bahkan setelah dewasa pun, ia tetap merasa terluka secara psikologis oleh protes yang terjadi.

Ia mengatakan ada masa-masa ketika ia tidak bisa makan dan tidak bisa tidur. Ia juga mengaku pernah menggigit bibirnya sendiri agar tidak menangis di depan anak-anak.

Kesaksian Tanney itu memperlihatkan bahwa konflik yang berlangsung di ruang publik tidak berhenti pada bentrokan fisik, tetapi merembes menjadi pengalaman traumatis yang panjang.

Di tengah pembahasan peringatan 25 tahun Holy Cross, Fr Aidan Troy dan Anne Tanney sama-sama menempatkan ingatan atas peristiwa itu sebagai peringatan. Bagi Troy, dialog dan percakapan adalah cara untuk mencari keadilan serta menjaga agar martabat anak-anak tidak lagi direndahkan oleh kebencian.

Dalam narasi tersebut, Holy Cross menjadi simbol tentang bagaimana ketegangan sektarian dapat berubah cepat menjadi kekerasan, dan bagaimana upaya melindungi siswa menuntut komitmen moral yang terus-menerus.