Internasional

Scott Bessent Minta Mitra AS Dukung Rencana ‘squash’ Ekonomi Iran

×

Scott Bessent Minta Mitra AS Dukung Rencana ‘squash’ Ekonomi Iran

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Scott Bessent urges US partners to back plans to 'squash' Iran economy

jurnalistik.co.id – Sekretaris Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, meminta sekutu Washington untuk mengambil keputusan terkait rencana menekan ekonomi Iran. Pernyataannya disampaikan setelah Presiden Donald Trump mengunggah ancaman konsekuensi ekonomi bagi negara yang memberi “lifeline” kepada rezim Iran.

Dalam wawancara dengan CNBC, Bessent menekankan perlunya kesepakatan dari mitra AS. Ia menyatakan: “It is time for our allies and the rest of the world to make a decision,” serta menggarisbawahi pesan utama yang ditujukan kepada sekutu.

Bessent menyampaikan bahwa pilihan yang dihadapi sekutu adalah berada di pihak AS atau menentangnya. Ia menyebut, “You are either with us or against us,” dalam upaya memastikan dukungan terhadap tekanan ekonomi.

Trump sebelumnya menulis di Truth Social bahwa negara yang menyediakan “any type of lifeline” kepada Republik Islam Iran akan menghadapi “tremendous economic consequences”. Bessent kemudian mengaitkan seruan tersebut dengan kampanye isolasi ekonomi.

Menurut Bessent, AS akan menjalankan rencana yang digambarkan sebagai penekanan menyeluruh terhadap ekonomi Iran. Ia mengatakan, “We are going to squash the economy of this murderous regime,” seraya menambahkan bahwa langkah baru itu akan menjadi bagian dari “the greatest coordinated economic isolation in the history of the world”.

Ia juga menegaskan konsekuensi bagi pihak yang tetap melakukan transaksi dengan Iran. Bessent menyatakan jika mitra memilih untuk tetap berdagang, termasuk dengan mentransfer uang atau membeli minyak, maka Departemen Keuangan AS dan pemerintah AS akan menggunakan “full might and force towards enforcing against you.”

Dalam penjelasannya, Bessent menguraikan bahwa rencana penekanan ekonomi dirancang untuk menekan kebutuhan terhadap eskalasi konflik. Ia berargumen kampanye tekanan tersebut dapat meminimalkan perlunya “a large-scale kinetic restart” dalam konflik.

Pemerintah AS menyatakan detail lebih lanjut terkait rencana ini akan diumumkan dalam konferensi pers pada 24 Agustus. Sementara itu, pesan yang disampaikan Bessent menempatkan keputusan sekutu sebagai bagian dari strategi penekanan ekonomi.

Dampak sanksi dan kekhawatiran pelaku usaha

Seorang pengusaha Iran yang berbicara kepada Middle East Lifeline menyebut prospek sanksi baru membuat perusahaan global menimbang potensi kerugian. Ia mengatakan bahwa jika setiap negara yang berdagang dengan Iran berisiko dikenai sanksi, maka keputusan untuk membuat perjanjian perlu dipikirkan dengan sangat hati-hati.

Pengusaha itu menegaskan kekhawatirannya dengan mengatakan, “I could end up losing money.” Ia menempatkan risiko sanksi sebagai faktor yang mempengaruhi cara perusahaan merencanakan investasi dan perdagangan.

Ia juga menggambarkan kondisi ekonomi Iran yang sudah lama berada dalam tekanan sanksi internasional selama puluhan tahun. Dalam laporan yang dirujuk, keadaan tersebut disebut telah membuat ekonomi Iran “left it in tatters.”

Di awal tahun, Iran mengalami protes yang berlangsung selama berminggu-minggu. Protes tersebut dikaitkan dengan lonjakan biaya hidup dan inflasi, sementara warga sehari-hari menyalahkan rezim atas kesulitan yang mereka hadapi.

Data resmi yang disebut dalam laporan menunjukkan bahwa dalam 12 bulan hingga Februari 2026, harga kebutuhan pokok meningkat rata-rata sebesar 60%. Pada periode yang sama, harga makanan disebut “doubled”.

Ketika protes terjadi, Trump mengatakan kepada para demonstran bahwa “help is on the way” dan meminta mereka “keep protesting”. Lebih dari sebulan setelah itu, AS bergabung dengan Israel dalam serangan terhadap Iran, lalu kemudian menerapkan blokade atas pelabuhan Iran yang mengancam sanksi lanjutan.

Kronologi langkah AS terhadap pendapatan dan ekspor

Pada April, AS juga meluncurkan gelombang sanksi terhadap bank dan perusahaan asing yang berbisnis dengan Teheran. Langkah itu diambil setelah terlihat bahwa operasi militer tidak menghasilkan pembalikan rezim atau kepatuhan yang diharapkan.

Rencana yang disebut Operation Economic Fury diumumkan oleh Departemen Keuangan AS bersama Pentagon pada April. Tujuannya disebut untuk melemahkan kemampuan berperang Teheran dengan memotong jalur pendapatan, sekaligus meliputi blokade angkatan laut untuk menghentikan ekspor Iran.

Laporan tersebut juga menyinggung Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani Iran dan AS pada Juni. MoU itu memuat klausul bahwa AS akan “terminate all types of sanctions” terhadap Iran dalam jadwal yang disepakati.

Namun, menurut laporan yang sama, Trump kini disebut menyiapkan langkah ekonomi yang digambarkan sebagai operasi paling menekan. Ia dikatakan berencana “to unleash the ‘most crushing economic operation ever taken against any country’.”

Pandangan warga Iran tentang tekanan ekonomi

Seorang warga di provinsi Khuzestan bagian tengah menyampaikan bahwa Iran telah lama menghadapi sanksi sehingga memiliki pengalaman untuk bertahan. Ia mengatakan, “There may be an impact at first, but that doesn’t necessarily mean Iran won’t be able to overcome the crisis.”

Ia menilai bahwa dampak awal tidak otomatis berarti krisis tidak bisa diatasi oleh Iran. Dengan kata lain, ia menempatkan kemampuan untuk menghadapi tekanan sebagai hal yang sudah teruji.

Seorang warga lain juga meragukan bahwa penalti baru akan memengaruhi ketahanan rezim. Perempuan tersebut menyatakan, “Not everything changes because of statements made by President Trump,” dan menambahkan bahwa Iran telah menjalani sanksi selama bertahun-tahun.

Ia menilai masyarakat menjadi terbiasa dengan situasi tersebut, lalu menyampaikan keyakinan bahwa Iran akan menemukan cara lain untuk tetap berdagang. Ia mengatakan, “I’m sure Iran will find other ways to continue trading.”

Meski begitu, ia mengakui akan ada pengaruh. Ia menyatakan bahwa “there will be some impact and the economy may weaken,” tetapi penurunan itu tidak berarti ekonomi akan runtuh.

Dalam keseluruhan rangkaian pernyataan dan langkah yang disebut, seruan Bessent kepada sekutu AS menempatkan keputusan dukungan atau penolakan sebagai penentu arah kampanye tekanan ekonomi. Sementara itu, jadwal pengumuman detail pada 24 Agustus akan menjadi momen yang ditunggu untuk memperjelas rencana yang dimaksud.