jurnalistik.co.id – Harry Brook menorehkan 91 untuk membawa Inggris mengungguli Pakistan secara besar di Tes Pertama di Headingley. Hari kedua dipersingkat karena hujan, namun Inggris tetap menambah tekanan hingga unggul 195.
Pakistan ditutup dengan 171 semuanya habis, dengan Shafique mencetak 61. Tongue meraih 5-46 dan Robinson mengemas 5-51, sebelum Inggris melanjutkan inning berikutnya.
Di sisi lain, Inggris mencapai 366-8 saat tempo permainan memungkinkan, dengan Brook 91, Cox 73, dan Root 66. Setelah itu, Inggris berada 195 di depan menjelang kelanjutan pertandingan.
Brook mengunci keunggulan saat hujan jadi penghalang
Brook tampil menonjol di “gloom” Headingley, mengukuhkan perannya dalam era baru Inggris yang dipimpin Joe Root. Rebutan angka 91 itu menjadi fondasi penting saat hari kedua berjalan tidak sepenuhnya normal.
Inggris sempat terhambat karena hujan, hingga aktivitas tertunda dan baru dimulai kembali pada 14:45 BST. Walau kondisi mendung dan lampu sorot seharusnya memberi kesempatan bagi Pakistan untuk mengejar, faktanya Inggris justru makin menjauh.
Jika sebelumnya hari keempat tampak berpotensi menghadirkan kemajuan besar, cuaca kembali menjadi tantangan utama pada Kamis. Meski begitu, Inggris berhasil menjaga laju mencetak angka dengan ritme sekitar 4,5 run per over ketika peluang terbuka.
Umpire Allahuddien Paleker bertugas dengan sarung tangan, sementara staf ruang belakang Inggris berkumpul di balkon ruang ganti dengan mantel tebal. Situasi itu menggambarkan betapa kondisi Leeds pada hari itu tidak mudah, namun tidak menghalangi Inggris memaksimalkan waktu.
Skor kian kokoh setelah peluang-peluang besar
Setelah Inggris menyelesaikan hari pertama dengan Pakistan 171 all out lalu memulai inning mereka hingga 112-2, Jumat (hari kedua) justru memberi ruang terbatas. Namun Inggris tetap mampu bergerak cepat ketika bola datang dalam kondisi yang bisa dimanfaatkan.
Root dan Jordan Cox sama-sama gagal meraih ratusan, demikian pula Dan Lawrence yang hanya mengumpulkan 51. Meski begitu, adanya pasangan bernilai besar tetap menentukan arah permainan.
Root dan Cox sempat membangun kemitraan 150 untuk jaminan angka sebelum berakhir di wicket Cox. Cox berhenti pada 73 setelah bulu-bulu belakangnya terbaca oleh penjaga gawang saat ia “feathered behind” off putaran kiri Ali Usman.
Empat bola setelah itu, Root terlihat kesal pada dirinya sendiri. Ia tersentak bermain melintasi garis ketika berhadapan dengan lemparan Khurram Shahzad, hingga akhirnya lbw untuk 66.
Setelah dua pukulan penting itu, Brook mengambil alih kendali atas jalannya inning. Ia membawa Inggris mencapai 366-8, dengan Dan Lawrence menyumbang melalui kemitraan 120 yang datang setelah ketiadaan Root dan Cox.
Dalam konteks permainan, ada pula momen “let-off” untuk Brook. Bila Salman Ali Agha mampu menangkap Brook di second slip off Shahzad, Inggris akan kehilangan tiga wicket hanya dalam tujuh run, saat skor saat itu berada di 205-4 dengan keunggulan 34.
Keadaan saat itu masih menyisakan Jamie Smith sebelum giliran para bowler, namun keberuntungan membuat Brook tetap bertahan. Berbekal itu, Brook kemudian menghadirkan sapuan pukulannya yang sesuai statusnya sebagai batter peringkat satu dunia.
Berita Terkait
Kesalahan menjelang penutupan membuat Brook tumbang
Brook sempat terlihat mematangkan peluang menuju ratusan. Namun, sebuah kesalahan fatal terjadi pada setengah jam terakhir sebelum penutupan hari tersebut.
Upaya Brook untuk “whip” Usman ke sisi leg berujung gagal. Ia melewatkan laju tersebut dan akhirnya bowled.
Ini menjadi kali kedua dalam dua Tes dia tersingkir di angka 90-an di halaman sendiri. Sebelumnya, ia juga terhenti pada 99 saat melawan India tahun lalu di tempat yang sama.
Brook pun membawa kilas balik tentang perjalanan kariernya ketika berbicara kepada BBC Sport pekan lalu. Ia mengakui pernah memberi alasan frustrasi bagi sebagian pendukung, serta menyatakan bahwa dirinya belum “finished article” sebagai batter Tes dan akan bekerja keras mengenali situasi yang tepat untuk membentangkan beragam pukulannya.
Dari sisi catatan melawan Pakistan, Brook memang menunjukkan rekam jejak yang kuat. Serangan lawan juga tidak memiliki senjata yang cukup untuk mengganggunya secara berarti, termasuk rencana Mohammad Ali yang menyiapkan serangan “78mph bouncers”. Rencana itu justru dinetralisir dengan pukulan tarik yang menghukum hingga menghasilkan empat run.
Di sepanjang inning, Brook bukan hanya mengandalkan tenaga. Ia juga kerap memainkan pemandu-pemandu halus ke third man, sehingga ritmenya tetap terjaga sebelum penutupan.
Setelah Brook tersingkir, Usman kembali mengunci momen penting. Ia kemudian menyingkirkan Gus Atkinson dan Ollie Robinson dalam bola-bola berurutan untuk meraih lima wicket pertamanya dalam Tes.
Cox dan Lawrence masih menyimpan kekecewaan atas peluang ratusan
Bagi Cox dan Lawrence, kegagalan mencatat angka ratusan membawa refleksi tersendiri. Mereka sempat berada dalam posisi yang dapat membantu memperkuat Inggris, namun peluang itu tidak berbuah secara penuh.
Cox harus menunggu kesempatan run yang lebih panjang akibat cedera, dan peluang untuk berada di nomor tiga hadir karena masalah lutut Jacob Bethell. Sementara itu, Lawrence mendapat kesempatan Tes keempatnya untuk mengisi ruang yang ditinggalkan oleh Ben Stokes yang sudah pensiun.
Dengan Bethell dijadwalkan kembali saat fit, serta Sam Curran yang mengalami cedera dan diisyaratkan bisa menjadi pengganti Stokes, seri ini menjadi ajang bagi Cox dan Lawrence untuk membuktikan diri di depan selektor.
Mulai dari 23 not out semalaman, Cox kembali dengan ketenangan yang ia tunjukkan pada Rabu. Ia memukul tiga fours dalam satu over Shahzad dan melangkah ke setengah abad pertamanya di Tes dengan flick ke area yang mengarah ke tepi halus Mohammad Abbas untuk empat run.
Cox bahkan sempat berpeluang tidak lolos setelah “patted back” kepada Shahzad saat berada di 57. Namun pengembalian itu tidak berakhir menjadi tangkapan, lalu wicket-taking delivery dari Usman justru datang dengan karakter yang tidak terlalu keras.
Cox hanya mengikuti putaran yang membuat bola masuk ke tepi sebelum akhirnya mengarah ke wicketkeeper. Sementara itu, Lawrence memainkan on-drives terhadap seamers dan sapuan terhadap spinners, tetapi satu sapuan terlalu banyak terhadap Usman menghasilkan top-edge yang melambung.
Dengan rangkaian pergantian wicket yang terjadi setelah Brook dibuka oleh Usman, jalannya hari kedua menegaskan bahwa Inggris lebih efektif memanfaatkan kondisi. Pada akhirnya, Pakistan menghadapi kenyataan bahwa mereka bisa ditumbangkan dalam waktu tiga hari.












