jurnalistik.co.id – Di Ukraina barat, di balik tembok tinggi dan lapisan gerbang terkunci, terdapat sebuah kamp penahanan berisi para lelaki yang ditangkap saat bertempur untuk Rusia. Banyak di antara mereka dibawa ke sana dari kota-kota besar seperti St Petersburg dan Yekaterinburg, tetapi tidak semuanya berasal dari etnis Rusia.
Di antara para tahanan perang itu ada pula prajurit yang lahir di Ukraina sendiri—orang-orang yang pergi berperang melawan negara asalnya. Dari sudut pandang peneliti, mewawancarai tawanan perang bukan perkara sederhana: penilaian harus memastikan mereka tidak ditekan, lalu menilai sejauh mana mereka bisa berbicara terbuka dalam situasi yang mereka hadapi.
Di lokasi ini, pewawancara diberi hak untuk menolak wawancara. Mereka yang bersedia berbicara melakukannya jauh dari para penjaga dan tanpa kamera. Selain wawancara formal, sejumlah percakapan dilakukan langsung dengan para tahanan, dengan bahasa Rusia, di beberapa tempat.
Identitas yang dipertanyakan: “saya menganggap diri orang Rusia”
Salah satu tahanan bernama Anton, yang pada usia 10 tahun melihat wilayah Donbas bagian timurnya di Ukraina diambil alih oleh kekuatan yang loyal kepada Moskow. Pada 2022, ketika Vladimir Putin mengeskalasi perang menjadi serangan penuh, Anton berusia 18 tahun dan langsung mendaftar untuk bertempur bagi Rusia.
Anton mengatakan kepada pewawancara, “I don’t regret my choice. I went to defend my land.” Ia menambahkan bahwa “I don’t regret my choice. I went to defend my land,” dan menyebut beberapa teman juga ikut sukarela. Namun, ia menceritakan pesan singkat yang kemudian datang: “Then you get the SMS messages. Dead, dead, dead.”
Menurut beberapa tahanan lain, banyak dari mereka yang berangkat bersama telah terbunuh. Mereka juga mengaku lebih sedikit orang yang bersedia menggantikan—meski ada biaya pendaftaran yang besar, yang bagi para tahanan itu memberi sinyal bahwa ambisi Putin untuk menghindari mobilisasi besar-besaran bisa diuji dalam waktu dekat.
Bila Ukraina menangkap warga negaranya di medan perang, orang-orang tersebut diadili karena tuduhan makar. Tetapi pada praktiknya, mereka tetap dikirim ke kamp tawanan perang bersama dengan tahanan Rusia. Secara resmi, Kyiv menganggap kendali Rusia atas wilayah itu bersifat sementara, meski realitas di lapangan dinilai lebih rumit.
Petro Yatsenko dari markas koordinasi tawanan perang Ukraina menyampaikan, “They’re very pro-Russian, and their national identity is very blurred.” Anton menegaskan ia tidak menggolongkan dirinya sebagai pengkhianat. Ia menyatakan, “I consider myself Russian. A country means nothing, it’s all about nationality. All my family are from Russia. All my roots are from there.”
Anton juga menanggapi pertanyaan mengenai nama belakangnya yang berbau Ukraina dengan mengatakan hal itu tidak relevan. Dalam penuturannya, generasi yang lahir di Ukraina kini tumbuh di bawah pendudukan, dengan sekolah dan media berbahasa Rusia yang dikendalikan Kremlin, serta narasi yang telah bertahun-tahun menyudutkan otoritas Kyiv sebagai “Nazis” dan tidak sah.
Trauma dan perhitungan materi: Anton, Artyom, dan klaim upah
Anton menggambarkan keyakinannya tetap menyatu dengan slogan-slogan berbahasa Rusia. Ia menyebut Putin sebagai “my President” dan berharap Rusia melanjutkan upaya merebut sisa Donbas, meskipun dalam pandangannya ratusan ribu orang telah tewas dalam upaya-upaya itu.
Ia menilai korban tewas sebagai sesuatu yang disayangkan. “It’s a shame that people died, especially those who are innocent,” katanya. Ia juga berkata, “But war is war. It could have been ended. But no-one wanted to do that.”
Di ruang rumah sakit kamp, Artyom berbaring di sudut tempat tidur. Tubuhnya penuh serpihan peluru atau pecahan, dan ia mengatakan hanya bertempur selama dua bulan. Berasal dari Donetsk seperti Anton, Artyom mengaku ikut berperang dengan sukarela—bukan semata-mata karena uang.
Artyom menyebut bahwa ia dan wilayahnya memiliki “grudges” sendiri, karena pada 2014 wilayahnya mendapat tembakan berat ketika pasukan Ukraina berusaha mencegah Donetsk berpisah dari Kyiv. Namun pengalaman militernya, dalam ceritanya, meninggalkan rasa pahit karena ia menilai komandannya “bad” dan ia tidak pernah menerima biaya pendaftaran yang disebutnya sebesar 400,000 rouble (£3,470; $5,000).
Berita Terkait
Ia juga membandingkan kondisinya dengan tentara Rusia yang terluka di ranjang sebelah. Dalam klaimnya, prajurit itu dibayar “five times” lebih besar.
Kisah wajib militer paksa yang diperdebatkan
Berdasarkan wawancara, hampir semua tawanan yang lahir di Ukraina berasal dari wilayah yang sudah diduduki sejak 2014 dan hampir semuanya bergabung dengan tentara Rusia secara sukarela. Namun seorang tahanan dari Donetsk mengaku ia dipaksa untuk bertempur.
Ia tidak langsung mengarahkan pembicaraan, seolah mencari batas aman dalam mengungkapkan siapa yang bisa ia percaya. Ia menyampaikan bahwa ketika pasukan Rusia menyerang, keluarganya tetap tinggal bukan karena afiliasi politik atau nasionalitas, melainkan karena Donetsk adalah rumah mereka. Kini, satu-satunya ambisinya adalah kembali kepada istri dan anak-anaknya, lalu menghindari dikirim kembali ke garis depan.
Ia berbisik, “I’m just going to hide.” Sejumlah pihak menyebut bahwa lebih dari 50,000 orang Ukraina dikerahkan secara paksa di wilayah pendudukan, berdasarkan perhitungan resmi yang merujuk pada “intelligence”. Tetapi pihak lain menilai angka itu jauh lebih tinggi.
Kerja paksa, permainan propaganda, dan harapan yang tak pasti
Di dekat jendela rumah sakit dan tembok yang baru dicat putih, para tahanan menanam deretan stroberi dan mentimun. Di tempat lain, bau bahan pelarut dari toilet darurat terasa kuat. Di salah satu ruangan kerja, seorang pejabat menantang dengan nada bercanda ketika menunjukkan gagang plastik berwarna emas dari sebuah kantong.
Ia menyebut, “Guess what this is for?” dan ia mengarahkan pembicaraan kepada hal yang mengejutkan: para pria yang bekerja sedang membuat peti mati dari kayu. Menurut penjelasan yang diberikan, kontrak terakhir yang pernah diterima penjara adalah untuk gudang kebun, sementara pekerjaan terbaru kali ini berbeda dan dinilai terasa mematikan.
Di halaman lain, bengkel berbeda memuat sekelompok tahanan membuat pohon Natal buatan. Kepingan dekorasi, seperti bola-bola berwarna cerah, dirangkai dari mesin mereka. Mereka mengaku menggunakan upah yang diperoleh untuk membeli makanan tambahan serta rokok.
Sergei lahir di kota Luhansk, Ukraina, tetapi ia menyatakan dirinya orang Rusia seperti orang tuanya. Keluarga mereka pindah ke Donbas ketika kedua negara masih menjadi bagian Uni Soviet. Sergei mengatakan ia bergabung dengan tentara Rusia satu dekade lalu “to defend my homeland,” namun ia mengaku berniat pensiun setelah kembali, bukan kembali ke front.
Ia berkata, “I’ve done my bit.” Di sampingnya, ada Konstantin—seorang pengedar narkoba yang mendaftar dengan skema yang ia sebut “exclusively” untuk menghindari hukuman penjara panjang. Konstantin menyampaikan, “For me, 15 years in prison was too much,” lalu menambahkan bahwa ia tidak ingin berlindung di balik alasan semata, “I know it probably doesn’t excuse me, but it’s a fact. I’m 44 now, I would be 60. So no.”
Dalam ceritanya, prajurit terhukum—disebut Vshniki—harus bertahan sampai akhir perang agar bisa dibebaskan, sementara peluang di pasukan penyerang dinilai tidak baik. Tiga orang pembunuh yang dihukum mengatakan mereka sempat percaya bisa keluar setelah satu tahun bertempur, tetapi koneksi mereka diperpanjang secara otomatis.
Saat waktu makan siang tiba, para tahanan memakai seragam biru tua dan berjalan masuk ke ruang makan dengan kepala tertunduk, tangan terkatup di belakang punggung. Sementara mereka makan sup dan semur, sebuah video tentang “Myths about Crimea” diputar berulang, yang dalam narasinya membantah klaim Rusia atas kepemilikan historis semenanjung Krimea yang dicuri dari Ukraina pada 2014.
Di sisi negosiasi pertukaran tahanan, Kyiv dipahami ingin menggunakan para tawanan perang ini sebagai pertukaran untuk membawa pulang pasukan mereka. Namun ketika membahas daftar pertukaran, para tahanan yang berdialog mengaku bahwa orang-orang dari Donbas ditempatkan pada prioritas rendah. Konstantin mengeluh, “Only a dozen or so have been transferred this year.” Ia menambahkan, “It seems like they don’t want to exchange us. I think we will be the last to go.”
Bagi banyak orang yang diwawancarai, perang juga belum tampak akan segera berakhir. Mereka percaya Putin tidak akan berhenti sebelum menguasai seluruh Donbas. Tetapi bagi sebagian tahanan, harapan itu hanya berpusat pada satu hal: perang berakhir secepat mungkin, dan mereka bisa pulang.












