jurnalistik.co.id – Pada tahun fiskal 2025, Ukraina muncul sebagai penerima bantuan luar negeri Amerika Serikat (AS) dengan nilai pencairan terbesar. Realisasi yang tercatat mencapai US$6,75 miliar, jauh mengungguli negara lain dalam daftar 20 penerima teratas.
Di posisi berikutnya, Israel mencatat pencairan sebesar US$3,31 miliar. Sementara itu, Yordania berada tak jauh di urutan tiga dengan total US$1,65 miliar.
Rangkuman peringkat ini dipublikasikan Visual Capitalist dengan merujuk data ForeignAssistance.gov. Angka yang digunakan adalah realisasi pencairan bantuan selama tahun fiskal 2025, bukan sekadar nilai komitmen yang diumumkan di atas kertas.
Tahun fiskal AS berjalan berbeda dari tahun kalender. Periode yang dihitung dimulai 1 Oktober pada tahun sebelumnya hingga 30 September di tahun berjalan, sehingga data ini mencakup rentang 1 Oktober 2024 hingga 30 September 2025.
Dalam bagian komposisi wilayah, tujuh negara dari Afrika menempati peringkat mulai posisi keempat hingga kesepuluh. Ethiopia dicatat sebagai penerima terbesar di benua tersebut, diikuti Republik Demokratik Kongo, kemudian Nigeria.
Di luar tiga negara teratas, pencairan bantuan yang diterima seluruh penerima dalam daftar tersebut berada di bawah US$1 miliar. Indonesia sendiri tidak tercantum dalam kelompok 20 besar penerima bantuan terbesar.
Perincian bantuan dan konteks tahun fiskal
Perbedaan antara tahun fiskal dan tahun kalender menjadi poin penting untuk membaca angka-angka pencairan. Dengan format 1 Oktober–30 September, pembaca perlu memahami bahwa hasil yang terlihat pada tahun fiskal 2025 tidak selalu identik dengan keputusan baru yang dikeluarkan pada periode yang sama.
Dengan kata lain, angka pencairan tahunan mencerminkan kapan dana benar-benar disalurkan. Di beberapa program, bantuan dapat bergerak bertahap sesuai pelaksanaan proyek, pengiriman logistik, atau proses administratif yang memakan waktu.
Mengapa Ukraina menjadi penerima terbesar
Besarnya dukungan AS terhadap Ukraina berkaitan dengan invasi Rusia yang berlangsung sejak Februari 2022. Pada praktiknya, bantuan Washington diarahkan untuk mendukung berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan respons terhadap konflik, termasuk persenjataan, pelatihan, dan intelijen.
Berita Terkait
Selain aspek pertahanan, bantuan juga mencakup dukungan ekonomi serta bantuan kemanusiaan. Paket bantuan yang demikian membuat Ukraina menempati posisi paling atas dalam pencairan pada tahun fiskal 2025.
Menurut Council on Foreign Relations, sejak perang dimulai, Ukraina menjadi salah satu tujuan utama bantuan luar negeri AS. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa prioritas kebijakan yang terbentuk sepanjang konflik turut memengaruhi arah penyaluran bantuan dari waktu ke waktu.
Meski demikian, pencairan pada tahun fiskal 2025 tidak sepenuhnya berasal dari keputusan bantuan baru yang ditetapkan dalam tahun tersebut. Sejumlah dana yang sebelumnya sudah dianggarkan dapat tetap disalurkan secara bertahap saat program dijalankan atau ketika bantuan mulai dikirim.
Penjelasan Council on Foreign Relations juga menyoroti peralihan kepemimpinan di AS. Bantuan yang dianggarkan pada masa pemerintahan Joe Biden masih disalurkan setelah Donald Trump kembali menjabat pada Januari 2025. Karena itu, nilai pencairan tahunan perlu dibedakan dari besarnya komitmen atau anggaran baru yang diputuskan oleh pemerintahan berjalan.
Dukungan publik AS dan preferensi jenis bantuan
Di dalam negeri, dukungan masyarakat AS terhadap bantuan luar negeri menunjukkan pola yang berbeda-beda, terutama jika dilihat berdasarkan tujuan penggunaannya. Survei Pew Research Center yang dipublikasikan pada Mei 2025 menggambarkan perbedaan tingkat persetujuan untuk tiap jenis program.
Hasilnya, 83% orang dewasa AS mendukung bantuan berupa obat-obatan dan perlengkapan medis untuk negara berkembang. Angka dukungan juga tinggi untuk kategori kebutuhan sehari-hari, dengan 78% responden menyetujui bantuan makanan dan pakaian.
Sementara itu, dukungan untuk bantuan pembangunan ekonomi mencapai 63%. Untuk bantuan yang berfokus pada penguatan demokrasi, dukungan publik tercatat sebesar 61%.
Namun, ketika menyangkut bantuan untuk memperkuat militer negara lain, persetujuan yang muncul jauh lebih rendah. Hanya 39% responden yang menyetujui bentuk bantuan tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa kebutuhan dasar cenderung memperoleh dukungan yang lebih luas dibandingkan bantuan yang berorientasi militer. Meski demikian, baik bantuan untuk kebutuhan dasar maupun bantuan militer tetap merupakan bagian dari kebijakan bantuan luar negeri yang dijalankan pemerintah AS.
Secara keseluruhan, peringkat penerima bantuan terbesar pada tahun fiskal 2025 memperlihatkan bagaimana agenda kebijakan luar negeri, dinamika konflik global, serta pola penyaluran anggaran bertemu dalam bentuk angka pencairan. Ukraina berada di posisi teratas dengan US$6,75 miliar, disusul Israel US$3,31 miliar dan Yordania US$1,65 miliar.
Dalam daftar yang sama, distribusi wilayah juga memperlihatkan kehadiran negara-negara Afrika mulai peringkat keempat hingga kesepuluh, dengan Ethiopia sebagai penerima terbesar di kawasan tersebut. Sementara itu, Indonesia tidak masuk 20 besar, menandakan bahwa nilai pencairan bantuan yang tercatat tidak cukup untuk menembus ambang peringkat pada periode pengamatan tersebut.












