jurnalistik.co.id – Raja Willem-Alexander mengaku terguncang setelah sebuah kajian Universitas Leiden memunculkan gambaran kelam tentang bagaimana keluarganya berkaitan dengan praktik kolonialisme dan perbudakan. Temuan itu, menurut studi yang diterbitkan dalam bentuk beberapa jilid, menempatkan keuntungan historis keluarga kerajaan pada angka yang jauh lebih besar dari yang selama ini dikenal publik.
Dalam penelitian tersebut, diperkirakan keluarga kerajaan memperoleh keuntungan setara 500 juta euro, atau sekitar Rp10,08 triliun. Studi itu menggambarkan bahwa selama berabad-abad, Wangsa Oranye memandang kolonialisme sebagai sumber keuntungan yang sah bagi Belanda.
“Ini adalah kesimpulan yang menyakitkan dan menggugah kesadaran,” ujar Willem-Alexander ketika menerima hasil penelitian di Universitas Leiden, sebagaimana dikutip media Arab News pada Senin (5/10/2026). Ia menyampaikan bahwa pesan penelitian terasa “tegas dan mencolok”, dan tidak mudah diabaikan meski jarak waktunya sudah panjang.
Yang membuat temuan ini semakin menyulitkan, menurut penjelasan dalam penelitian, keluarga kerajaan menemukan kaitan nilai finansial tersebut melalui keterhubungan dengan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) serta wilayah-wilayah jajahan Belanda. Studi itu menautkan konteks “Zaman Keemasan” Negeri Belanda dengan pembiayaan yang berkembang lewat perdagangan maritim pada abad ke-16 dan ke-17.
Dalam periode tersebut, wilayah kekaisaran Belanda meliputi area yang kini dikenal sebagai Indonesia, Suriname, serta sejumlah kepulauan di Karibia. Penjelasan ini menjadi bagian penting dari cara peneliti menelusuri hubungan historis antara institusi dagang, wilayah jajahan, dan kemapanan ekonomi yang diwariskan.
Willem-Alexander juga menyoroti aspek moral yang ia nilai kurang pada masa lalu. Ia menegaskan adanya minimnya “kepemimpinan yang berani melawan arus” dari para leluhurnya saat berhadapan dengan praktik kolonialisme dan perbudakan.
Ia menyampaikan bahwa dampak kesimpulan tersebut tetap ia rasakan meski ia sendiri tidak terlibat langsung dalam peristiwa yang dibahas penelitian. “Kesimpulan ini berdampak pada diri saya, meskipun saya berada tiga generasi setelahnya,” katanya.
Studi yang dimaksud disusun dalam lima jilid dan dipesan Willem-Alexander pada 2022. Penerimaan hasil penelitian di Universitas Leiden menjadi momen yang ia gambarkan sebagai pengungkapan yang mengubah cara memandang jejak sejarah keluarga.
Berita Terkait
Selain menerima hasil riset, Willem-Alexander juga merujuk langkah yang pernah ia sampaikan sebelumnya. Pada 2023, ia telah menyampaikan permintaan maaf atas kurangnya tindakan para leluhurnya dalam menentang perbudakan.
Menurut penuturannya, langkah-langkah tersebut kini ditempatkan sebagai bagian dari upaya keluarga kerajaan untuk mengakui masa lalu mereka. Willem-Alexander menyatakan komitmennya mendorong proses “pemulihan” dan “rekonsiliasi” atas sejarah yang selama ini belum sepenuhnya dipahami secara utuh.
Peran keluarga kerajaan: antara dukungan aktif dan legitimasi simbolis
Ketua komisi penelitian, sejarawan Gert Oostindie, menyebut bahwa keluarga kerajaan memberikan dukungan “aktif dan tanpa rasa sungkan” terhadap sistem kolonial, termasuk perbudakan. Pernyataan itu menegaskan bahwa relasi Wangsa Oranye dengan struktur masa penjajahan bukan sekadar pengamatan dari jauh.
Namun, para peneliti juga menambahkan penjelasan penting mengenai tingkat keterlibatan yang berbeda. Mereka menegaskan bahwa Wangsa Oranye jarang terlibat langsung dalam perumusan kebijakan kolonial, tetapi lebih banyak memberikan legitimasi simbolis bagi kekaisaran Belanda di mata masyarakat.
Dengan demikian, riset tersebut memisahkan dua lapisan dampak: satu yang berupa dukungan terhadap sistem, dan satu lagi yang lebih berkaitan dengan otoritas simbolik yang membantu memperkuat penerimaan publik terhadap kekuasaan kolonial. Pembacaan seperti ini, menurut uraian penelitian, membantu menjelaskan bagaimana keuntungan historis bisa berjalan berdampingan dengan pengaruh sosial dan politik.
Dalam narasi yang disampaikan, Willem-Alexander, yang saat ini berusia 59 tahun, menyatakan bahwa ia menerima hasil penelitian sebagai sesuatu yang menantang diri untuk menimbang kembali warisan sejarah. Ia memandang pengungkapan itu bukan hanya urusan arsip, melainkan juga pemantik tanggung jawab moral atas rangkaian peristiwa di masa lampau.
Kajian Universitas Leiden, dengan lima jilid serta angka perkiraan keuntungan yang disebutkan, akhirnya menempatkan pembahasan kolonialisme dan perbudakan ke dalam konteks hubungan keluarga kerajaan dengan institusi dan wilayah jajahan. Bagi Willem-Alexander, kesimpulan tersebut disebut berdampak meski ia berada tiga generasi setelah para leluhur yang dibahas penelitian.












