jurnalistik.co.id – Luke Littler mengisyaratkan berpotensi memboikot rangkaian turnamen di Belanda setelah mendapat perlakuan dari penonton berupa booing dan peluit saat World Series of Darts Finals di Amsterdam. Ancaman itu muncul setelah ia merasa suasana penonton tidak lagi kondusif untuk pertandingan.
Dalam laga terakhir delapan besar pada Sabtu, wasit sempat menghentikan permainan ketika Littler meraih kemenangan tipis atas Nathan Aspinall. Penghentian tersebut dilakukan untuk memperingatkan kerumunan yang bersikap bermusuhan, sebelum duel kembali berlanjut.
Situasi serupa juga terjadi pada Jumat, saat Littler menundukkan Danny Noppert yang berstatus favorit tuan rumah. Kemenangan itu kembali diiringi booing dari tribun, sehingga momen tersebut membentuk rangkaian respons negatif yang dialami Littler dalam dua malam beruntun.
Littler kemudian mengaitkan respons penonton Belanda dengan pengalaman sebelumnya di Jerman. Ia menyatakan pernah mendapat perlakuan serupa di negara tersebut dan pada akhirnya menghentikan partisipasinya dalam event European Tour di Jerman.
Ketika ditanya apakah ia siap mengambil sikap yang sama untuk turnamen di Belanda, petenis darts berusia 19 tahun itu menjawab tegas, “100%.” Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa ia mempertimbangkan langkah yang lebih jauh jika kondisi di tribun tidak berubah.
Ia juga menyinggung rencana tampil di European Championship yang dijadwalkan berlangsung di Dortmund pada Oktober. Menurut Littler, dengan Jerman ia sudah lama tidak berpartisipasi, dan Dortmund akan menjadi titik ukur apakah situasinya berubah atau tetap sama.
“With the Germans, I haven’t been for a long time, we will have to see in Dortmund whether it changes or stays the same. “If the Dutch stay like this, then I’m not going to do any Euro tours over there. There’s just no point in me travelling, wasting my time whilst I’m getting booed.” Kalimat itu memperlihatkan pertimbangan efisiensi waktu dan kenyamanan saat ia berkompetisi di luar negeri.
Berita Terkait
Di sisi lain, Littler menegaskan bahwa ia tetap memiliki kebutuhan sederhana sebagai atlet, yakni menjalankan permainan darts dan memenuhi kewajiban sederhana setelah pertandingan. Ia menyebut bahwa ia tetap ingin bermain darts, serta tetap menandatangani autograf.
Ia juga menggambarkan dampak booing yang ia rasakan dalam dua malam terakhir. “The past two nights, I’ve done nothing, I’ve just walked off stage and not thanked anyone. There’s no point thanking everyone when they are booing me.” Ucapannya menggambarkan bahwa ia memilih untuk tidak melakukan respons sosial yang biasanya dilakukan seusai pertandingan.
Lebih jauh, Littler pernah mengalami booing pada gelaran PDC World Championship bulan Desember, ketika ia menang atas Rob Cross. Setelah laga tersebut berakhir, ia menyampaikan sikap yang berbeda terhadap gangguan penonton.
“I’m not bothered [by the booing]. Really not bothered. You guys pay for tickets and you pay for my prize so thanks for booing me.” Melalui pernyataan itu, ia menunjukkan bahwa pada kesempatan sebelumnya ia tidak merasa terganggu secara berarti, meski tetap menerima bahwa penonton memiliki hak mengekspresikan penilaian mereka.
Dengan ancaman yang kini disampaikan menjelang lanjutan agenda Eropa, Littler menempatkan perubahan atmosfer penonton sebagai syarat utama. Jika booing dan peluit berlanjut, ia menyebut tidak ada alasan baginya untuk terus melakukan tur ke Belanda, karena ia menilai itu hanya menghamburkan waktu tanpa manfaat.
Dari rangkaian respons yang ia terima dalam dua malam terakhir, Littler menekankan bahwa fokus utamanya adalah menjaga ritme kompetisi, bukan membangun interaksi sosial ketika tribun menunjukkan penolakan. Ia menilai situasi seperti itu membuat setiap langkah di luar pertandingan terasa tidak sejalan dengan tujuannya, sehingga keputusan mengenai kelanjutan tur Eropa sangat bergantung pada perubahan nyata di suasana penonton.
Di saat yang sama, ia juga menunjukkan bahwa sikapnya tidak sepenuhnya seragam sepanjang kariernya. Pada gelaran yang pernah diikutinya sebelumnya, ia tetap bersikap santai terhadap booing dan memaknai ekspresi penonton sebagai konsekuensi mereka membeli tiket dan mendukung acara. Namun untuk kondisi yang terjadi kini, ia memilih mengutamakan kebutuhan atletnya—bermain darts dan menuntaskan kewajiban setelah laga—tanpa mengulang respons yang biasanya dilakukan ketika atmosfer tribun tidak ramah.












