Olahraga

Keributan Sorakan Luke Littler: Kekhawatiran ‘could walk away’ dari Darts

×

Keributan Sorakan Luke Littler: Kekhawatiran ‘could walk away’ dari Darts

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Luke Little booing row: Real fear darts superstar 'could walk away' from sport

jurnalistik.co.id – Luke Littler kembali menjadi sorotan di turnamen darts Eropa setelah mendapat boos dan whistle dari sebagian penonton saat tampil di World Series of Darts di Amsterdam. Di usia yang masih sangat muda, ia justru menimbulkan pertanyaan baru: apakah sorakan yang terus berulang bisa membuat bintang asal Inggris itu memilih mundur dari olahraga ini.

Ketika turnamen berlangsung, situasinya terasa berbeda dari biasanya. Atmosfer darts memang sering identik dengan gaya pantomim dan keramaian penonton, tetapi Littler merasa ia ditargetkan secara tidak adil oleh bagian tertentu dari crowd. Kekhawatiran itu pun disuarakan dari berbagai pihak, termasuk jurnalis dan pengamat darts.

Pada ajang di Amsterdam, Littler datang dengan misi besar. Ia sedang berupaya melengkapi “clean sweep” darts dengan menjadi pemain pertama yang memenangkan semua 10 turnamen mayor televisi dalam satu kalender tahun. Namun, perjalanan tersebut akhirnya terhenti.

Langkah Littler sempat berjalan mulus, meski reaksi penonton tidak sepenuhnya mendukung. Di laga babak 16 besar pada Sabtu, wasit sempat menghentikan pertandingan saat Littler meraih kemenangan tipis atas Nathan Aspinall. Penghentian itu dilakukan untuk memberi peringatan terkait perilaku crowd, sebelum pertandingan dilanjutkan.

Sehari sebelumnya, Littler juga sudah menghadapi boos saat menang melawan pemain tuan rumah, Danny Noppert. Bukan hanya hasil pertandingan yang jadi sorotan, melainkan juga cara arena merespons Littler sepanjang hari kompetisi.

Untuk babak perempat final, tantangan Littler datang dari Jonny Clayton. Kekalahan yang dialaminya di fase tersebut memutus upayanya menyelesaikan clean sweep. Meskipun begitu, Littler tetap menilai bahwa penonton bersikap terlalu keras terhadap dirinya.

Dari serangkaian reaksi itu, muncul juga isyarat yang cukup tegas. Littler mengungkapkan bahwa jika boos terus berlanjut, ia tidak akan menghadiri event yang digelar di Belanda. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ia tidak memandang kejadian ini sebagai sesuatu yang bisa cepat berlalu begitu saja.

Samuel Gill, editor Dartnews.com, menilai ancaman Littler bisa menjadi sinyal yang lebih serius dari sekadar kemarahan sesaat. Gill mengatakan ada “ketakutan nyata” bahwa dalam beberapa tahun ke depan Littler bisa saja “berbalik dan meninggalkan olahraga ini”. Ia juga menekankan pesan bagi para penggemar: “Jangan menggigit tangan yang memberi makan.”

Menurut Gill, bila penonton terus menertawakan Littler dan seolah tidak ingin ia menang, bukan tidak mungkin bintang itu memilih berjalan pergi dan tidak lagi terlibat. Dengan kata lain, yang terancam bukan hanya performa turnamen tertentu, melainkan keberlanjutan kariernya di arena yang sama.

Dalam pekan yang sama, Littler juga mengambil langkah konkret terkait jadwalnya. Ia menyatakan telah menarik diri dari beberapa rangkaian acara yang akan datang. Ia beralasan bahwa tidak ada gunanya bepergian sambil tetap mendapat boos dan reaksi negatif.

“Justr no point in me travelling, wasting my time while I’m getting booed,” kata Littler, sebagaimana disampaikan dalam laporan. Kalimat tersebut menegaskan bahwa ia merasa waktu dan tenaga tidak layak dihabiskan untuk situasi yang terus mengarah pada penolakan dari sebagian crowd.

Respons penonton dan bayang-bayang karier

Gill juga menilai bahwa persoalan ini tidak benar-benar unik hanya untuk Littler. Ia mengingat pola serupa yang dulu dialami Michael van Gerwen ketika dominan dalam periode tertentu. Van Gerwen, menurut Gill, menghadapi reaksi boos yang terasa merata selama masa kehebatannya.

Gill menyebut bahwa dalam kurun waktu sekitar lima tahun, van Gerwen hampir tidak pernah kalah dan merebut gelar secara beruntun. Meski begitu, banyak orang tetap ingin melihatnya tersandung, termasuk Gill sendiri saat ia masih menjadi penonton sebelum terjun ke peran jurnalis.

“Sekarang, orang-orang ingin membusukkan (boo) dia,” kata Gill. Ia menambahkan bahwa selama ia menonton dari luar, ia juga merasa terdorong untuk ingin van Gerwen kalah karena itu dianggap memberi “warna berbeda” bagi olahraga yang sama setiap pekan.

Pola ini menjadi bagian dari gambaran yang lebih besar tentang bagaimana darts diposisikan di mata publik. Saat seorang pemain naik terlalu cepat atau terlalu dominan, sebagian penonton justru bereaksi dengan cara yang berlawanan—bukan untuk menambah kompetisi, tetapi untuk “mengganggu” narasi kemenangan.

Saat ini, Littler berada di peringkat nomor satu dunia. Ia bahkan unggul dari rival terdekatnya hingga memiliki keuntungan karena cukup bermain di turnamen-turnamen pilihan. Namun, keuntungan itu tidak berarti sorakan otomatis hilang, terutama ketika penonton menganggap kemenangan Littler terasa “terlalu mudah” atau tidak memberi ruang kejutan.

Perspektif penyelenggara dan penggemar

Ancaman Littler juga disebut bisa berdampak pada penyelenggara turnamen. Karl Holden, sekretaris St Helen’s Darts Academy—tempat Littler diasah sejak usia sembilan tahun—menilai reaksi negatif itu terkait pada persepsi penonton terhadap karakter dan gaya Littler di panggung.

Holden mengatakan bahwa sebagian orang tampaknya tidak menyukai Littler karena ia terlalu bagus. Ia juga menyebut ada unsur “swagger” atau gaya percaya diri yang dibawa Littler, dan itu turut membentuk cara sebagian penggemar bereaksi.

Namun, Holden memandang Littler tetap sebagai profesional puncak. Ia menilai Littler bisa saja menunjukkan sikap yang kadang dianggap “terlalu besar” sesekali, tetapi menurutnya itu diperlukan agar darts tidak terasa membosankan.

Dengan sudut pandang itu, Holden menempatkan persoalan boos sebagai bagian dari dinamika panggung. Ia menyinggung bahwa jika semua orang langsung menyukai pemain dan hanya melihat lemparan tanpa variasi respons, penonton bisa cepat kehilangan minat—karena olahraga juga butuh ketegangan dan emosi untuk tetap hidup.

Jika Littler memilih mundur, siapa yang rugi?

Gill kemudian menilai dampaknya akan lebih luas dari sekadar laga. Ia percaya Littler bisa saja meninggalkan darts dalam “empat sampai lima tahun” jika boos dan whistle terus berlanjut. Ia mengaitkan hal tersebut dengan cepatnya Littler mengumpulkan trofi, bersamaan dengan besarnya uang yang kini mengalir di olahraga ini.

Gill juga menegaskan bahwa kontribusi Littler bagi darts dinilainya sangat besar. Menurutnya, tiket untuk event yang menampilkan Littler sering terjual habis, sementara pendaftaran di akademi darts dilaporkan berada di level tertinggi sepanjang masa.

Karena itu, Gill berpendapat bila Littler benar-benar pergi, yang akan menjadi pihak paling dirugikan adalah olahraga itu sendiri. Ia menyebut Littler membawa darts ke level yang berbeda dan membuat pemain tersebut muncul sebagai “headline” di mana pun ia berada.

Namun, tantangan yang tersisa bagi Littler tetap sama: mempertahankan rentetan kemenangan sambil menjaga hubungan dengan penonton. Di tengah kondisi sebagian penggemar membayar dengan harapan melihat Littler kalah, setiap pertandingan bukan hanya ujian performa, melainkan juga ujian ketahanan mental.

Di sisi lain, pandangan Holden memperlihatkan bahwa darts juga hidup dari karakter dan reaksi yang saling bertabrakan. Bagi banyak orang, Littler adalah sosok yang mengubah cara olahraga ini dipahami dan dinikmati—dan justru itu, ia juga memicu emosi yang paling keras dari penonton di tribun.