jurnalistik.co.id – Final Piala AFF 2026 mempertemukan Thailand dan Vietnam dalam dua leg, dengan Thailand lebih dulu bertindak sebagai tuan rumah pada Sabtu (22/8/2026) di Stadion Rajamangala.
Vietnam melangkah ke laga pamungkas setelah menuntaskan perjalanan mereka di semifinal ASEAN Championship 2026 atau Piala AFF 2026 dengan mengalahkan Malaysia.
Pada semifinal leg kedua, Vietnam menjamu Malaysia di Stadion Nasional My Dinh pada Rabu (19/8/2026). Pertandingan berakhir dengan skor 2-0 untuk Vietnam.
Nguyen Xuan Son tampil sebagai penentu setelah mencetak dua gol, masing-masing pada menit ke-62 dan menit ke-89.
Keunggulan itu membuat Vietnam memastikan tiket final setelah agregat menang 4-0 atas Malaysia. Pada leg pertama di Kuala Lumpur, Vietnam juga menang dengan skor 2-0.
Dengan hasil tersebut, Vietnam akan membawa modal kemenangan beruntun menuju final sekaligus mempertahankan peluang meraih prestasi berikutnya di turnamen level Asia Tenggara.
Secara momentum, Vietnam menilai final ini menjadi kesempatan penting. Mereka datang dari rentetan laga yang berujung pada kemenangan agregat yang meyakinkan atas Malaysia.
Di sisi lain, Thailand bersiap menghadapi leg pertama sebagai tuan rumah. Tim Gajah Perang akan memulai pertandingan pada konteks final yang sejak awal menuntut kendali ritme pertandingan, terutama di markas sendiri.
Namun, sikap yang ditunjukkan pelatih Vietnam tidak berubah meski harus lebih dahulu bertemu lawan di leg pertama. Pelatih Timnas Vietnam, Kim Sang sik, menyatakan tidak ada rasa gentar dan menargetkan mengulang apa yang pernah mereka lakukan.
“Dua tahun lalu kami memenangkan kejuaraan di Thailand, dan kali ini kami kembali mencapai final, jadi saya sangat senang dan merasa terhormat,” kata Kim Sang sik setelah laga melawan Malayasia, dikutip dari The Thao 247.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Vietnam memandang final sebagai kelanjutan dari perjalanan mereka yang berujung ke puncak turnamen. Mereka merasa pengalaman sebelumnya dapat menjadi pijakan untuk menatap pertandingan berikutnya.
Selain soal kesiapan tim, Kim Sang sik juga menyoroti kontribusi Nguyen Xuan Son pada babak semifinal. Menurutnya, ketajaman sang pemain menjadi salah satu alasan Vietnam mampu mengunci kemenangan atas Malaysia.
Berita Terkait
Kim Sang sik juga menegaskan harapannya untuk laga final. Pelatih tersebut menyampaikan keinginan agar Xuan Son kembali tampil menonjol saat Thailand dan Vietnam bertemu.
“Saya berharap Xuan Son bisa mencetak 3 gol di pertandingan final,” sambungnya.
Ekspektasi itu berangkat dari momen saat Xuan Son menjadi supersub pada laga kontra Malaysia. Dua golnya pada menit ke-62 dan 89 membuat Vietnam tidak hanya unggul, tetapi juga mengunci jalannya pertandingan hingga akhir.
Dengan demikian, ketika Vietnam menatap final, fokus mereka turut terkait pada kemampuan pemain yang mampu mengubah keadaan di momen-momen krusial.
Adapun Thailand membawa beban penilaian publik setelah memastikan diri melaju ke final. Pelatih Thailand, Anthony Hudson, menyampaikan responsnya terhadap kritik yang sempat dialamatkan kepada skuadnya.
Menurut Hudson, banyak pihak menilai peluang timnya tidak sejalan dengan hasil yang kemudian mereka raih di ajang ini. Ia menegaskan bahwa pandangan skeptis tersebut ternyata tidak terbukti.
“Mereka bilang skuad ini tidak cukup bagus untuk meraih apa pun. Mereka bilang tim ini tidak akan bisa berbuat banyak. Padahal kenyataannya, mereka baru saja lolos ke final,” ujarnya.
Uraian tersebut menunjukkan bagaimana Thailand menghadapi tekanan dari luar sekaligus menjadikan hasil semifinal sebagai jawaban di lapangan. Setelah berhasil melaju, kritik berubah fungsi menjadi latar yang menguji mental tim.
Final ini juga dianggap tepat untuk mempertemukan dua tim yang selama ini dikenal kuat di level ASEAN. Dalam pemberitaan tersebut, laga pamungkas disebut terasa ideal karena kedua tim merupakan “jagoan” di turnamen level Asia Tenggara sejauh ini.
Dengan Vietnam yang berangkat dari kemenangan agregat 4-0 atas Malaysia, serta Thailand yang memulai leg pertama di Rajamangala, pertandingan pada 22 Agustus 2026 menjadi penentu awal bagi siapa yang lebih dulu membangun modal pada fase puncak.
Thailand akan memaksimalkan keuntungan sebagai tuan rumah di Stadion Rajamangala, sedangkan Vietnam mencoba mempertahankan kepercayaan diri yang mereka tunjukkan ketika menuntaskan semifinal.
Kompetisi pun berlanjut pada momen yang dinantikan setelah kedua tim memastikan tiket ke final. Tinggal bagaimana masing-masing tim merespons tensi pertandingan, terutama ketika final dimulai dengan kemenangan pertama yang bakal sangat menentukan.
Terlepas dari berbagai sorotan sebelum laga, yang paling penting kini adalah kemampuan kedua tim mengubah target menjadi eksekusi. Thailand akan menjadi tuan rumah pada leg pertama, sementara Vietnam siap melanjutkan perjalanan mereka menuju peluang gelar berikutnya.












