jurnalistik.co.id – Di usia 19 tahun, Kimi Antonelli sudah menjadi nama yang sulit diabaikan di Formula 1. Perjalanannya bahkan disebut tidak bermula dari lintasan balap, melainkan dari ruang yang justru terasa “terlalu biasa” untuk melahirkan pembalap kelas dunia.
Menurut ayahnya, Marco Antonelli, Kimi bisa terlihat memiliki naluri balap sejak sangat muda. Marco bercerita bahwa saat Kimi berumur sekitar tiga tahun, ia “sudah natural”. Cerita itu kemudian mengarah pada satu fase yang membentuk cara Kimi mengenal kecepatan: berada dekat mesin, mendengar suara putaran, dan belajar mengendalikan tanpa keraguan.
Marco mengingat momen awal ketika ia mulai menyadari potensi pada putranya. Ia dan Kimi berada di Sirkuit Adria di Italia timur laut. Marco datang dengan tim mobil sport Lamborghini yang ia kelola, sementara Kimi ikut bertanding karting. Menjelang akhir hari, Marco bertanya pada Kimi: “Do you want to try the Lamborghini?” Kimi tentu menjawab dengan antusiasme yang sama seperti yang diharapkan ayahnya.
Bagian menariknya, Marco menempatkan Kimi di kursi, sementara ia sendiri mengatur pijakan awal. Marco mengikatkan sabuk hingga keduanya rapat terpasang, lalu menjelaskan pembagian kendali: ia memegang kendali throttle dan rem, sedangkan Kimi menguasai sisanya. “I couldn’t see the track because he was in front of me with a helmet on,” ujar Marco saat menuturkan apa yang ia lihat selama percobaan itu.
Ia hanya bisa mengamati marker di sisi lintasan, jarak seperti 100m dan 50m untuk tiap tikungan. “We started to drive, step by step, faster, faster, faster,” kata Marco. Ia menceritakan bagaimana akhirnya ia melaju kencang hingga mendekati batas performa: “320km/h, braked very hard and at the limit.” Ketika mobil mulai menunjukkan oversteer, Kimi justru dinilai mampu mengendalikan kondisi yang tidak mudah itu.
Marco menggambarkan alurnya sebagai kerja yang “berhasil berurutan”: “Kimi controlled the oversteer perfectly, then I went on the throttle, Kimi finished the oversteer, changed gear, and went.” Setelahnya, Marco sempat menghentikan sesi karena ia menilai percobaan sudah masuk zona berbahaya: “I said: ‘OK, stop, because it has now become dangerous.’” Namun saat melihat rekaman, ia justru mendapati semua tampak lebih rapi daripada yang semestinya untuk usia sepuluh tahun: “Maybe he has something special.”
Kisah itu berkelindan dengan kebiasaan Kimi sejak amat dini. Marco menyebut bahwa “Kimi from 15 days old was in the garage and heard the sound of the engine and the smell of the exhaust.” Ia bekerja bersama istrinya, Veronica, dalam usaha tim balap mereka, dan lingkungan bengkel menjadi tempat Kimi tumbuh bersama bunyi mesin. Marco menempatkan momen lain sebagai titik balik: liburan Natal ketika Kimi—sekitar tiga tahun—mendapatkan simulator yang dibawa pulang dari Bologna Motor Show, hasil pembelian untuk para tamu.
“Each evening, Kimi wanted to drive,” ingat Marco. Ia bahkan menarik perbandingan dengan pengalaman bertahun-tahun kemudian saat Kimi duduk di atas kakinya di Lamborghini, dengan pembagian kendali yang sama. Marco juga menceritakan satu kejadian yang berakhir dengan tabrakan kecil karena ia terlalu lelah. “And Kimi said: ‘Dad, dad, no sleep, no sleep. I have to drive.’” Kalimat itu, menurut Marco, menggambarkan energi yang sejak awal terasa tidak biasa.
Walau begitu, Marco tidak langsung menginginkan putranya menjadi pembalap. Ia memahami bayang-bayang keras yang pernah ia alami dalam kariernya sendiri. Ia menilai jalan menuju profesional tidak hanya soal cepat, tetapi soal posisi dan konteks yang tepat: “Sometimes you are fast but not in the right position to become a professional driver.” Pada era 1990-an, ia sempat berada di ambang menjadi works driver di DTM. Ia bahkan menguji untuk Alfa Romeo, tetapi peluang itu hilang ketika pimpinan tim pergi. Peluang serupa kemudian muncul bersama BMW, bersama Roberto Ravaglia dan Steve Soper, namun pola yang sama kembali terjadi.
“I suffered a lot for it,” kata Marco. Dan ia mengaku sempat takut Kimi mengulang cerita serupa: “And, of course, I was scared that my son [would] relive the same situation. At the beginning, I was very stressed about the passion my son had for motorsport.”
Kendati ada ketakutan itu, Kimi tetap melaju. Saat berusia lima tahun, ia mencoba go-kart untuk pertama kalinya dan langsung memperlihatkan ketertarikan pada detail lintasan—garis balap, titik pengereman, serta cara mobil merespons kendali. Marco menyebut keluarga mereka sebagai “a normal family”, sehingga mereka tidak mungkin membayar seluruh jalur balap dari satu kategori ke kategori berikutnya tanpa strategi. Ia memutuskan mendanai Kimi lewat karting dan satu tahun di kategori single-seater dasar, Formula 4. Setelah itu, Marco memperkirakan jalan berikutnya mungkin melalui mobil GT, agar Kimi tetap bisa menuju level profesional.
Berita Terkait
Tetapi yang terjadi justru membuat rencana itu bergeser lebih cepat: Kimi langsung menonjol. Di setiap kategori yang ia masuki, ia tidak hanya cepat, tetapi juga memenangkan balapan. Marco menambahkan detail identitas yang sering muncul saat wawancara: nama lengkapnya adalah Andrea Kimi Antonelli, dan Kimi menyatakan bahwa teman dekat serta keluarga memanggilnya “Andrea”, meski di Formula 1 ia dikenal luas sebagai “Kimi”.
Menjelang usia 11 tahun, nama Kimi mulai bergaung di lingkaran motor racing. Mercedes mendengar kabar itu, dan scout akademi mereka, Gwen Lagrue, terbang ke Italia untuk memeriksa langsung. Saat itu, Kimi berada di kart yang tenaganya lebih kecil dibanding pesaing. Marco mengatakan kondisi itu justru dikelola sebagai kesempatan belajar, bukan sekadar tantangan hasil. “Gwen was impressed about this condition of power and driving in this category that Kimi did,” ungkap Marco. Menurutnya, mungkin dari sana mereka menangkap bahwa Kimi memiliki karakter yang berbeda.
Ketika Kimi menjadi bagian dari Mercedes driver academy, kekhawatiran Marco soal biaya pelatihan mulai berkurang. Ia kemudian ikut mengalihkan energi untuk membantu Kimi mencapai potensi penuh. Banyak tokoh besar F1 juga memperhatikan ketajaman tersebut. Max Verstappen, juara dunia empat kali dan satu-satunya remaja yang pernah menang di F1, menilai Kimi sebagai salah satu talenta pembeda: “When he was in karting, you could already see he was one of the stand-out talents.”
Pada usia 15 tahun, Kimi siap naik kelas ke mobil balap. Untuk persiapan akhir, ia menjalani beberapa balapan di kategori kart yang sudah menggunakan gir. Debutnya menorehkan pole position meski pengujian sebelum balapan minim. Setelah itu, ia melaju ke world final dan kembali meraih pole. Setelah penghujung 2021, Antonelli pindah sepenuhnya ke balapan mobil: melalui 2022 ia menyapu banyak kejuaraan di Formula 4, lalu di 2023 pola serupa terjadi pada Formula Regional.
Pada titik ini, Mercedes juga mulai berpikir jauh ke depan. Toto Wolff, bos tim, sudah menilai Kimi berpotensi menjadi penerus di masa depan, bahkan kemungkinan pengganti Lewis Hamilton. Ketika Hamilton mendekati usia 40 dan proses transisi antargenerasi perlu diatur, negosiasi kontrak menjadi bagian dari strategi. Pada 2023, saat kontrak baru dibicarakan, Wolff memainkan pendekatan tegas: Hamilton menginginkan setidaknya dua tahun yang lebih pasti, sedangkan Wolff hanya satu. Pada akhirnya ada kompromi untuk kontrak musim 2024 dengan opsi 2025. Hamilton kemudian memutuskan mencari opsi lain dan menandatangani bersama Ferrari pada 2025, memberitahu Wolff pada akhir Januari 2024 menjelang musim berjalan.
Wolff langsung menelepon Marco Antonelli untuk menyampaikan “berita besar” itu. “’We put Kimi in Formula 1,’” Marco mengingat Wolff berkata, “’What do you think?’” Marco menjawab dengan kehati-hatian: “I said: ‘Oh, [it] is a difficult question you ask me. Of course I’m happy that you think about Kimi but are you sure he’s ready?’”
Di internal Mercedes, keputusan itu dibarengi evaluasi teknis. “We were reviewing options and trying to come to a fairly rapid conclusion,” tutur trackside engineering director Andrew Shovlin. Tim, kata Shovlin, sebenarnya ingin segera bergerak dengan Kimi karena yakin talenta itu nyata. Namun tetap ada risiko, dan dari sana muncul rasa tantangan yang dianggap menarik: “It seemed like a good challenge.”
Menariknya, Kimi bahkan belum sempat mengendarai mobil F1 sebelum keputusan diambil. Mercedes kemudian menyusun program tes untuknya: “20-odd days” di mobil yang sudah berusia beberapa tahun, di lintasan berbagai negara, sebagai persiapan debut F1 2025. Shovlin mengaku tim langsung terkesan dengan kecepatan adaptasi. “What you normally see with drivers is they’re just incrementally going a little bit quicker, braking a bit later,” katanya. Namun pada Kimi, pola yang muncul justru berbeda: ia butuh beberapa putaran untuk memahami karakter mobil, lalu bisa berada “more or less on the limit”. Shovlin juga menyoroti “fidelity of the car control”—kemampuan menjaga mobil tetap di tepi batas saat masuk tikungan, bahkan ketika kondisi mobil mulai mengarah keluar kendali.
Jika muncul kesalahan, Shovlin menilai itu bukan “run-out-of-talent mistakes”, melainkan masalah pertimbangan atau kurangnya pengalaman. Meski begitu, pada Grand Prix Italia 2024, Antonelli membuat kesalahan yang menjadi sorotan. Wolff memberinya kesempatan pertama merasakan akhir pekan F1 melalui sesi latihan pertama di Monza, sebagai debut. Debut itu spektakuler—dari sisi terbaik sekaligus terberat. Antonelli mencatat waktu tercepat pada putaran awal, bahkan berusaha lagi. Tetapi setelah menunjukkan performa yang jauh lebih cepat, ia mengalami crash berat di tikungan terakhir, Parabolica.
“No-one on earth could have got the car around the corner at the speed he was attempting,” kata Shovlin. Ia menilai kecelakaan itu terjadi karena keputusan dan penilaian yang melompat: “He clearly got into his head that he would try and do something special and it was an error of judgment.” Wolff kemudian menenangkan Antonelli di pinggir lintasan, memberi sinyal agar ia tidak panik—meski insiden itu tetap memengaruhi mentalnya.
Wolff juga menyiapkan ekspektasi publik sejak awal. Ia mengaku sudah membiasakan diri pada dua kemungkinan: momen cemerlang dan momen yang membuat frustrasi. “I conditioned myself so strong that I said: ‘There’s going to be moments of brilliance and moments where you want to tear your hair out’,” ujarnya. Untuk Kimi, musim keduanya di F1—dengan usia yang masih 19 tahun—menjadi bukti bahwa proses panjang yang dimulai dari “garasi” itu akhirnya menemukan panggungnya di lintasan.












