jurnalistik.co.id – Inggris menutup musim internasional mereka dengan cara yang meyakinkan ketika meraih kemenangan besar pada laga penentuan seri ODI melawan Sri Lanka di The Oval.
Di Metro Bank ODI ke-3, Inggris mengunci 355-7 dalam 50 overs. Tom Banton tampil sebagai poros kemenangan dengan mencetak 126 dari 105 bola, sementara Harry Brook menyusul 77 dan Jordan Cox menambah 76.
Setelah itu, Sri Lanka kesulitan sepanjang inning dan hanya mampu mengejar 132 sebelum tersingkir habis dalam 29,1 overs. Kusal Mendis menjadi top skor untuk tim tamu dengan 35, sedangkan Liam Dawson mencatat 3-26 untuk memastikan Inggris tidak memberi ruang.
Dengan perbedaan 223 run, Inggris akhirnya memastikan kemenangan terbesar mereka melawan lawan turis tersebut. Hasil ini juga sekaligus menandai sign-off musim yang padat dinamika bagi Inggris, baik di luar maupun di dalam lapangan.
Banton mengunci babak dengan abad internasional pertamanya
Banton meraih abad ODI internasional perdananya melalui inning yang menegaskan bahwa bakatnya memang nyata. Pemain sayap kanan berusia 27 tahun itu sebelumnya sempat dianggap sebagai bintang muda setelah debut pada 2019, tetapi perjalanan berikutnya tidak selalu mulus; ia sempat kehilangan arah hingga hubungan dengan permainan sempat meredup.
Namun ketika mencapai 100 pada bola ke-95 di pertandingan ini, ia merayakannya dengan gestur melebar ke samping lalu mengangkat kedua tangan, seolah meninggalkan kekecewaan lama di belakang. Bagi Inggris, momen itu bukan sekadar angka, tetapi juga sinyal kendali sejak fase awal.
Di tengah kondisi awal yang tidak mudah, Banton mampu mengatur pukulan dengan presisi. Ia menghasilkan 126 dari 105 bola sekaligus menjadi penyeimbang ketika Joe Root justru tampil tidak seperti biasanya dengan 18 dari 37 bola.
Inilah kunci berikutnya: Banton kemudian berbagi kemitraan agresif bersama kapten Harry Brook. Keduanya membangun partnership 150 dari 117 bola yang membuat pertandingan bergeser, dengan Brook menambah 77 dan Cox menutup posisi tiga angka yang sama pentingnya untuk total Inggris.
Brook pada akhirnya menyumbang 77, sementara Cox—dilajukan menggantikan Jos Buttler yang sedang cedera—mencetak 76 hanya dari 52 bola. Total 355-7 sejak awal sudah terlihat punya peluang besar menjadi batu sandungan, terutama di permukaan yang menyediakan pantulan bagi pelempar cepat sekaligus memberi belok untuk spinner.
Reaksi Inggris, lalu Sri Lanka ambruk
Berita Terkait
Setelah Inggris menekan sejak awal, Sri Lanka tidak mampu mempertahankan ritme. Mereka juga sempat kehilangan momen penting karena sempat menjatuhkan Root sebelum pemain Inggris itu tersingkir.
Di momen lain, penjaga gawang sekaligus kapten Kusal Mendis juga membuat kesalahan ketika Brook telah mengoleksi tujuh angka. Setelah Inggris mulai menekan lebih rapi, Sri Lanka akhirnya runtuh dalam rentang waktu yang relatif singkat hingga berakhir 132 dalam 29,1 overs.
Kapten Inggris memulai inning dengan lambat, tetapi setelah memasuki fase setelah 25 overs dan berada di posisi 108-2, permainan mulai berbalik. Dari titik itu, Brook dan Cox membantu mengubah arah, sekaligus menambah daya dorong untuk memperbesar angka.
Peran Cox juga dipandang penting karena ia melanjutkan momentum dari penampilan yang lebih mengesankan di level Test saat menghadapi Pakistan. Inggris kemudian memperoleh kontribusi dari Sonny Baker, yang dipanggil kembali untuk ODI kedua menggantikan Josh Tongue, ketika ia menyingkirkan Pathum Nissanka dengan bola yang berayun dan naik dua bola setelah awal over kedua.
Sejak saat itu, Sri Lanka tidak menemukan cara untuk bangkit kembali. Liam Dawson—spinner lengan kiri—juga mendapat kepercayaan tampil menggantikan Rehan Ahmed dan memenuhi ekspektasi dengan catatan 3-26, memastikan kemenangan Inggris tetap utuh dari sisi kendali pertandingan.
Catatan perjalanan Banton dan arah musim berikutnya
Kemenangan ini juga mengikat cerita perjalanan Banton yang sebelumnya sempat jauh dari tim ODI selama hampir lima tahun. Pada masa sulit itu, Kevin Pietersen—kini menjadi mentor Inggris—pernah menyebut, “has all the talent but, at the moment, he is wasting it”, sebuah pernyataan yang menambah tekanan karena perbandingan dengan Pietersen justru menjadi tantangan mental.
Meski begitu, minggu ini Banton menegaskan ia masih “in awe” pada sosok petarung batting ikonik Inggris. Di pertandingan ini, ia menunjukkan variasi seperti reverse sweep yang menghadirkan inventivitas—sejalan dengan gaya yang dulu membuat orang membandingkannya dengan Pietersen.
Banton juga terlihat agresif saat memukul pull dan menebas bola melewati area cover. Saat Ben Duckett tersingkir pada over kedua dan Root harus melewati 13 bola berturut-turut tanpa angka, Banton tidak goyah; ia tetap melanjutkan ritme pukulan hingga pada akhirnya mengakhiri inning dengan 16 fours dan lima sixes.
Ketika berjalan meninggalkan lapangan, ia mengangkat bat dan disambut tepuk tangan berdiri dari penonton di The Oval. Untuk Inggris, kemenangan ini menjadi penutup musim yang tetap membawa dorongan: ini adalah kemenangan seri ODI ketiga secara beruntun sekaligus modal menuju Piala Dunia tahun depan.
Selain itu, Banton hanya mendapat kesempatan menjadi pembuka karena cedera Jacob Bethell. Ia bisa saja tidak termasuk dalam XI ketika Inggris memulai tri-series di Pakistan pada 20 Oktober, sebuah rangkaian yang juga melibatkan Sri Lanka, sementara jadwal musim dingin menghadirkan rangkaian pertandingan lain di Pakistan, Australia, dan Afrika Selatan.












