jurnalistik.co.id – West Indies mencetak malam yang nyaris sempurna dalam ODI kedua di Guwahati. Di laga yang masih menyisakan babak India untuk mengejar, mereka sudah membukukan 405-7 (50 overs) berkat tiga pemain berbeda yang sama-sama menorehkan abad.
John Campbell menjadi pembuka yang paling cepat menghidupkan tempo, dengan 101 run. Shai Hope menyusul lewat 104 run, sementara Amir Jangoo menutup dengan 114 run untuk memastikan West Indies melampaui batas-batas yang sebelumnya terlihat “aman” di format satu hari.
Kemenangan bukan sekadar kata kunci dalam pertandingan ini, tetapi angka. Total 405-7 merupakan capaian tertinggi sepanjang sejarah West Indies dalam laga ODI. Catatan itu sekaligus menyingkirkan rekor sebelumnya milik tim yang sama, yakni 389 yang pernah mereka raih saat melawan Inggris di St George’s pada 2019.
Selain rekor total, peristiwa di Guwahati juga ditandai oleh satu penanda statistik yang jarang muncul: ini hanya kali keenam dalam sejarah ODI ketika satu tim mampu menampilkan tiga pemain centurions dalam satu inning. Ketiganya—Campbell, Hope, dan Jangoo—membagi beban sekaligus memastikan West Indies tak hanya “kencang di awal”, melainkan juga kuat saat pertandingan masuk fase kunci.
Campbell dan Hope menciptakan fondasi yang menentukan pada fase awal. Keduanya menorehkan kemitraan 110 run dari 79 bola untuk wicket kedua, cukup untuk membuat bola-bola India terasa seperti “terlambat” sejak menit-menit awal. Dari sana, West Indies tidak langsung berhenti, melainkan menaikkan intensitas.
Momentum paling besar justru datang ketika kemitraan Hope dan Jangoo melebar menjadi 182 run untuk wicket ketiga. Kemitraan tersebut menjadi pijakan yang kemudian mengangkat West Indies ke total yang jauh melampaui ekspektasi standar inning ODI.
Berita Terkait
Campbell melengkapi performanya dengan gaya yang agresif namun tetap terukur. Ia menyumbang lima kali enam angka (sixes) dalam abadnya. Dari sisi detail perlawanan India, Campbell juga mampu “mengambil alih” satu over Prasidh Krishna dengan meraih 22 run dalam satu kesempatan tersebut.
Di sisi lain, pertandingan ini ikut menyisakan kabar buruk bagi India dari aspek kesehatan pemain. Prasidh Krishna dan Naman Dhir sama-sama mengalami cedera sepanjang laga. Pada saat yang sama, Auqib Nabi menghadapi debut yang sulit karena ia harus menerima kontribusi 84 run—sebuah angka yang tercatat sebagai yang keempat terbanyak bagi seorang pemain India dalam debut ODI pertamanya.
Rangkaian angka yang tercetak di Guwahati juga punya kaitan dengan reputasi Campbell dalam kemitraan. Ia diketahui memegang rekor opening stand tertinggi di ODI, yaitu 365 run untuk wicket pertama bersama Shai Hope saat melawan Irlandia pada 2019. Catatan itu terasa “nyambung” dengan bagaimana Campbell dan Hope kembali berperan besar dalam laga ini.
Kinerja West Indies juga datang di tengah situasi internal yang sedang menekan. Kurang dari sepekan sebelumnya, muncul kabar bahwa para pemain mereka harus menjalani pemotongan gaji sebesar 25% sebagai bagian dari langkah penghematan yang lebih luas. Dengan kondisi seperti itu, hasil di lapangan justru menjadi semacam jawaban bahwa tim tetap punya daya gedor yang besar ketika peluang terbuka.
Di sisi kompetisi berikutnya, West Indies juga masih bergulat dengan target jadwal turnamen. Mereka harus menghadapi tantangan untuk memastikan kualifikasi langsung pada ajang tahun depan, setelah pada tahap awal 2027 mereka justru ditempatkan ke babak kualifier—sebuah posisi yang menuntut perjuangan ekstra.
Secara keseluruhan, ODI kedua di Guwahati menampilkan pola yang konsisten: ketika West Indies menemukan ritme, mereka bukan hanya mengumpulkan angka, tetapi membangun struktur inningnya dari awal sampai fase penting. Dengan 405-7 dan tiga abad yang ditorehkan dalam satu inning, West Indies kini menjadi tim yang mengubah standar permainan, sementara India harus menyiapkan respons penuh ketika inning mereka akhirnya dimulai.












