jurnalistik.co.id – Mantan kiper Manchester City, Joe Hart, menyampaikan pandangannya terkait keputusan Premier League dalam kasus pelanggaran aturan finansial. Hart menilai keyakinan Khaldoon Al Mubarak sebagai ketua klub cukup kuat, terutama setelah Al Mubarak menyatakan bahwa Manchester City tidak bersalah.
Menurut keputusan yang sudah diumumkan, City dinyatakan bersalah atas sebagian besar dari 115 pelanggaran yang dituduhkan Premier League. Kendati begitu, klub disebut tetap akan mengajukan banding atas putusan tersebut, sehingga prosesnya masih berjalan.
Dalam keterangan yang dikutip, Khaldoon menyatakan komitmennya untuk “proving the club’s innocence” dan menegaskan bahwa “the process still has a long way to run”. Pernyataan itu kemudian menjadi dasar keyakinan Hart bahwa klub tidak melanggar ketentuan secara sebagaimana dituduhkan.
Hart, yang tampil sebanyak 348 kali untuk City di semua kompetisi pada periode 2006 hingga 2016, mengatakan bahwa ia menaruh kepercayaan pada Al Mubarak. Ia bahkan menyebut sosok ketua klub tersebut sebagai figur yang layak dipercaya karena dianggap telah memimpin dengan baik.
Saat berbicara di BBC Radio 5 Live melalui program Monday Night Club, Hart mengatakan bahwa Al Mubarak telah “led the club brilliantly” dan merupakan sosok yang pantas “trust”. Hart menuturkan bahwa ia tidak merasa perlu ikut tenggelam dalam beragam pembahasan yang beredar di sekeliling perkara ini.
Ia menyampaikan: “I’ve heard everyone else go down every single rabbit hole, every single wormhole, every single discussion.” Setelah itu, Hart menegaskan sikapnya dengan kalimat: “My honest opinion is I’ve got no reason not to trust Khaldoon. What he said is enough for me.”
Hart juga menambahkan bahwa ia menyukai cara Al Mubarak menyampaikan penjelasan, serta menyebut adanya surat yang ia anggap berasal dari pihak yang benar-benar peduli pada klub. Ia mengatakan: “I loved how he spoke. I loved the letter because that was from someone who cared about the club.”
Bagi Hart, dinamika kasus ini belum mencapai titik yang membuatnya kehilangan kepercayaan. Ia menilai belum ada hal yang bersifat konkret, sehingga menurutnya urusan ini semestinya dibiarkan “play out”.
“The 39-year-old said because there was “nothing concrete”, it was matter of allowing things to “play out” and none of his achievements are in any way tarnished,” demikian pandangan yang ia sampaikan. Hart kemudian mengaitkan hal itu dengan keyakinannya bahwa proses akan menunjukkan sesuatu yang lebih jelas seiring berjalannya banding.
Berita Terkait
Hart juga menekankan bahwa bila hasil akhirnya benar-benar berubah dan klub dinyatakan bersalah, maka akan ada pembicaraan yang perlu dilakukan. Namun untuk saat ini, ia mengaku tetap tenang dan tidak merasa gelarnya yang pernah diraih perlu dinodai sebelum ada keputusan final.
Hart menyatakan: “If Man City are found guilty, which I don’t think they are because of what Khaldoon said, then there’s conversations to be had.” Ia melanjutkan, “But right now I’m very confident and very, very calm. I’m very proud of what I’ve achieved and what I did with Manchester City and what we achieved as a team. And that doesn’t change. That doesn’t change until you tell me.”
Selama masa bermainnya di City, Hart pernah meraih trofi Premier League sebanyak dua kali, masing-masing pada 2011-12 dan 2013-14. Ia juga mengangkat Piala Liga Inggris pada 2013-14 dan 2015-16, serta menjuarai Piala FA pada 2010-11 bersama klub.
Berdasarkan tuduhan yang dihadapkan kepada City, kasus ini berkaitan dengan berbagai pelanggaran aturan. Pusatnya disebut pada klaim bahwa klub menggelembungkan pendapatan sponsor melalui perusahaan-perusahaan yang terhubung, serta melakukan pembayaran lain yang disebut “off the books” untuk mengakali regulasi finansial.
Hart menyebut bahwa isu-isu yang beredar tidak menjadi sesuatu yang ia anggap perlu dibahas langsung dengan rekan-rekan lama di City. Alasannya, ia mengatakan tidak ingin terlibat dalam spekulasi yang berujung pada pertanyaan-pertanyaan yang belum pasti.
Ia menyampaikan bahwa hal itu “hadn’t “crossed my mind”” untuk membicarakan kabar tersebut dengan mantan rekan satu tim. Penjelasannya: ia “can’t get involved in the ifs, buts and maybes”.
Dalam pandangannya tentang peran dan pengalaman selama bermain, Hart menempatkan fokus pada apa yang ia jalani di lapangan. Ia berkata: “I did what I did. I lined up 11 v 11 and had it out on the pitch. I won some games, lost some games, drew some games, and I shook hands and I walked off.”
Hart juga menambahkan bahwa ia memahami apa yang terjadi pada masa itu. Ia menyatakan: “I know what I did, I know what we did, and I know how it happened. It didn’t feel like we were scheming or plotting.”
Dengan sikap tersebut, Hart menilai bahwa diskusi tentang masa lalu dan pencapaian tim tidak seharusnya langsung berubah hanya karena putusan yang saat ini menjadi bagian dari proses panjang. Ia memilih menunggu perkembangan lanjutan, sembari mempertahankan keyakinan bahwa penjelasan Khaldoon layak dipercaya.
Seiring City tetap menyiapkan banding atas keputusan Premier League, perhatian kini tertuju pada bagaimana proses pemeriksaan akan berlanjut dan apakah pada akhirnya klub akan dipandang sesuai dengan klaim bahwa mereka tidak melanggar aturan finansial. Dalam konteks itu, Hart menempatkan dirinya pada posisi yang paling sederhana: percaya pada apa yang disampaikan Khaldoon, dan membiarkan proses menentukan hasil akhirnya.












