Olahraga

Kematian Fin Tarling jadi peringatan soal risiko balap, kata Jonathan Vaughters

×

Kematian Fin Tarling jadi peringatan soal risiko balap, kata Jonathan Vaughters

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Fin Tarling death shows risks in races - Jonathan Vaughters

jurnalistik.co.id – Insiden fatal pada Volta a Portugal menyisakan pesan yang sulit diabaikan: balap sepeda di jalan raya menuntut kontrol keselamatan yang serius, bukan sekadar anggapan bahwa kecelakaan adalah “bagian dari permainan”. Jonathan Vaughters menilai pengendara mempertaruhkan nyawa di lomba dengan beban biaya besar, sementara badan pengatur sepeda dunia dinilai belum mampu menjauhkan kendaraan dari rute.

Fin Tarling, pesepeda Inggris berusia 19 tahun, meninggal pada Jumat setelah sebuah tabrakan berkecepatan tinggi. Ia terlibat kecelakaan dengan van yang dikabarkan menyimpang dan masuk ke jalan yang telah ditutup untuk balapan.

Untuk mengenang Tarling, sebuah halaman Go Fund Me dibuat. Ia membela NSN Cycling Development Team dan merupakan saudara Josh Tarling dari Netcompany-Ineos.

Vaughters, co-founder serta bos EF Education-Easypost World Tour, menilai ada sikap publik di dunia balap yang terlalu cepat memaklumi insiden. Ia mengutip pandangan tersebut lalu membantahnya, dengan berkata: “What I’m really not enjoying is this sentiment that’s coming from very powerful people in cycling, that says: ‘What can you do? Sometimes cars just end up on the road – this is just part of doing competitive sport on the open road.’ That is not true. This is preventable.”

Menurutnya, Tour de France sering tampak romantis saat melewati pedesaan Prancis, padahal risikonya tetap nyata. Ia menambahkan: “People look at the Tour de France and see a bunch of riders going through the beautiful French countryside, but fundamentally it’s a very dangerous sport. From the start of my career I can’t tell you how many people we’ve lost.”

UCI dinilai belum mampu menjamin “bebas lalu lintas”

Vaughters menyampaikan bahwa otoritas dunia sepeda tidak bisa lepas tangan. Ia menilai UCI “cannot keep traffic off the roads”, sehingga insiden tidak bisa dianggap sepenuhnya mustahil.

Ia juga menyinggung arah fokus keselamatan yang, menurutnya, keliru. Vaughters menyebut UCI memperdebatkan aturan yang sudah sangat terdokumentasi, termasuk “handlebar-width” rule, sementara pengelolaan lalu lintas masih dipandang tidak memadai.

Dalam kritiknya, ia mengatakan: “I’m tired of the governance in charge of this sport introducing changes around ridiculous little issues, when they prove themselves to be unable to govern a sport to keep traffic off the road”.

Ia menambahkan dari pengalaman menghadiri lomba-lomba lebih kecil: “The number of smaller races I’ve been to where there’s traffic on the course is unreal. I’m not blaming anyone other than the ultimate authority which needs to do a better job of governing the sport.”

Vaughters menegaskan bahwa lomba-lomba jalan raya memang diselenggarakan penyelenggara independen, tetapi UCI mengawasi sebagian besar acara dan menetapkan standar pengelolaan balapan. Karena itu, ia menggarisbawahi tanggung jawab ketika lomba disahkan. Ia berkata: “[The Volta a Portugal] was sanctioned by the UCI. The UCI are a sanctioning authority of the race and take a fee from event organisers.” Ia lalu menambahkan standar yang semestinya diterapkan: “If you are forcing teams to fight for ranking points at this event then you damn well better make sure the event is up to standard.”

Setelah kecelakaan yang menewaskan Tarling, UCI menyatakan mereka “was deeply saddened” dan “extends its deepest condolences to Finlay’s family, friends, and team-mates”. BBC juga melaporkan bahwa pihaknya telah menghubungi UCI untuk menanggapi komentar Vaughters, tetapi belum ada komentar lanjutan.

Dalam tiga tahun terakhir, BBC mencatat enam pesepeda meninggal dunia selama lomba balap jalan raya. Setelah kematian Gino Mader pada 2023 Tour de Suisse, UCI meluncurkan inisiatif SafeR [SafeRoad cycling] yang mempertemukan para pemangku kepentingan—mewakili tim, lomba, dan pesepeda—untuk menilai isu keselamatan.

“Rolling roadblocks” dipandang berisiko ketika rombongan pecah

Dalam penilaiannya, Tour de France adalah event terbesar dan terdanai paling baik dalam kalender yang dipenuhi sekitar 700 lomba. Ia menyebut mayoritas ajang meraup pemasukan dengan mengenakan biaya kepada kota-kota yang dilewati, serta menjual hak siar kepada penyiar.

Untuk lomba level bawah, termasuk Volta a Portugal tingkat ketiga, ia menilai hak siar dijual dengan biaya lebih rendah dan pengamanan jalan dibuat lebih hemat. Pada Tour de France, pengamanan dikenal memakai penutupan total di banyak tahap untuk waktu yang lama, sedangkan ajang lebih kecil seperti Volta a Portugal dan Tour of Britain menggunakan “rolling roadblocks”, yakni polisi dan pejabat bergerak di depan serta di belakang rombongan pesepeda.

Vaughters menegaskan ia tidak menyasar organisasi Volta a Portugal secara personal. Ia berkata: “I’m not going to criticise the organisation of the Volta a Portugal,” sambil menambahkan timnya tidak tampil di Portugal, meski sering berlaga di level serupa dan juga bertanding di Tour de France serta event top lainnya.

Ia menyebut masalahnya berulang dan bukan “salah satu hari”. “There have been too many races at this level that have exactly the same problem. This [Tarling’s death] just happened to be terribly unlucky. It could have been any of the other races.”

Ia juga mengakui faktor finansial yang menekan penyelenggara lomba: “The costs [for smaller races] are enormous, organisers are really struggling and hoofing it financially and I sympathise with that.”

Menurutnya, perbedaan besar ada pada detail penguncian titik persimpangan. “The Tour de France closes its road for the duration many hours before an event. There’s a gendarme on every T-junction. A barricade at every T-junction.”

Vaughters menegaskan timnya mempercayai Tour de France, tetapi tidak untuk lomba yang lebih kecil. “As a team, we trust races like the Tour de France, but we don’t trust smaller races.”

Ia memperingatkan skema penutupan bergerak ketika rombongan terpecah menjadi kelompok-kelompok. “Rolling enclosures become a problem when the peloton splits into groups and you don’t have every T-junction blocked, and people think: ‘The race is done – I’m free to go on the road.'”

Ia menggambarkan konsekuensi yang bisa terjadi begitu kontrol lepas. “As soon as they turn on the road, they’re going 100km/h and the opposite way is the peloton at 50km/h – that’s a combined 150km/h. I mean, it’s horrible.” Ia juga menutup penilaiannya: “Rolling enclosures I don’t think work that well.”

Skema poin, persaingan, dan tekanan membuat risiko terasa “masuk akal”

Vaughters menghubungkan risiko dengan cara kompetisi bekerja. Ia menyebut poin yang diberikan sesuai ketentuan UCI menentukan siapa yang masuk ke balapan besar, sehingga sponsor memperoleh eksposur yang lebih luas.

Ia menjelaskan mekanisme perubahan komposisi tim: setiap tiga tahun, tiga tim tersingkir dari World Tour dan digantikan tim dari ProSeries. Untuk tim yang “terdegradasi”, risikonya bisa berupa hilangnya sponsor, sementara bagi pesepeda risikonya berhubungan dengan kontrak untuk terus tampil.

Ia menilai kompetisi yang makin intens dapat mendorong pengendara mengambil risiko lebih tinggi demi meraih poin finis. Dalam pengamatannya, ia menyebut situasi finansial tim jalan raya berbeda dari sepak bola maupun Formula 1. “Unlike football and Formula 1, teams in road cycling do not receive revenue from TV rights.”

Ia menggambarkan tekanan yang dirasakan atlet lewat manajemen tim. “They’re being pressured by team managers like me saying: ‘We’ve got to get points – hurry up.’ There’s millions at stake so athletes feel that pressure.”

Menurutnya, ketika tekanan itu bertemu pengelolaan lintasan yang tak memadai, bencana bisa terjadi. “They start to take risks on the course – if they do that when it’s not properly managed and doesn’t have good enough traffic control, it’s a recipe for disaster.”

Ia menyarankan kalender perlu dibuat lebih selektif dan tata kelola tiap lomba dinilai dengan skeptisisme yang lebih tinggi. “We have way too many events on the calendar – it’s just too much. It needs to be more selective and the governance needs to look at each race with a much higher degree of scepticism.”

Ia juga menyoroti angka 700 hari balap sebagai alasan masalah struktural. “Why do we need 700 race days around the world? It’s fine if those events occur, but not as sanctioned events with riders fighting for points. What’s wrong with 100 days on the race calendar?”

Vaughters menutup dengan peringatan pada keselamatan atlet: “I’m scared for athletes and we are telling them they have to push themselves to the limit – that’s a dissonance that I think is reprehensible.”