Pendidikan

Intismeran dan Keytruda Menekan Kembalinya Melanoma pada Uji Coba, Durasi Bebas Kanker Masih Belum Jelas

×

Intismeran dan Keytruda Menekan Kembalinya Melanoma pada Uji Coba, Durasi Bebas Kanker Masih Belum Jelas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Vaccine breakthrough stops cancer returning in trial

jurnalistik.co.id – Intismeran, vaksin pribadi yang dipadukan dengan Keytruda, dilaporkan mampu menahan kembalinya melanoma berisiko tinggi pada peserta uji coba. Namun, hingga pengumuman dari Merck dan Moderna, durasi masa bebas kanker masih belum jelas.

Dalam uji coba fase tiga, terapi ini diberikan setelah pasien menjalani operasi untuk melanoma. Hasil awal menunjukkan bahwa kombinasi tersebut memperpanjang waktu pasien tetap bebas dari kanker, tetapi lamanya manfaat tersebut belum dapat dipastikan.

Para ahli menyebut temuan ini sebagai terobosan, sekaligus mengingatkan agar tidak berlebihan sebelum data lengkap dirilis dan ditelaah dalam proses peer-review. Setelah tahap uji coba selesai, terapi tetap harus melalui persetujuan regulator, lalu melewati proses tambahan sebelum tersedia untuk layanan NHS.

Uji coba melibatkan lebih dari 1.000 pasien

Merck dan Moderna menyatakan penelitian mereka menyoroti pasien dengan melanoma berisiko tinggi pada stadium dua, tiga, atau empat. Secara rentang kasus, peserta berada pada kondisi mulai dari memiliki tumor berukuran besar di area tertentu hingga kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh lain.

Kedua perusahaan menekankan bahwa dibandingkan bila pasien hanya menerima Keytruda, pemberian obat bersama vaksin secara signifikan meningkatkan lamanya pasien tetap bebas kanker. Perusahaan juga menyebut terapi gabungan tersebut menurunkan risiko penyakit menyebar ke organ lain.

Vaksin bekerja menargetkan mutasi spesifik tumor

Intismeran disebut sebagai vaksin personal yang menyesuaikan respons terhadap tumor milik masing-masing pasien. Mekanismenya berangkat dari konsep penargetan mutasi yang spesifik pada sel kanker.

Untuk membentuk vaksin ini, tim peneliti menggunakan teknologi mRNA—teknologi yang juga digunakan pada sejumlah vaksin Covid-19. Prosesnya melibatkan pengambilan bagian kecil dari tumor pasien, lalu melakukan sekuensing DNA untuk mengidentifikasi perubahan yang relevan.

Hasilnya adalah suntikan anti-kanker yang dirancang khusus untuk tumor individu tersebut. Vaksin ini diarahkan agar sistem imun mengenali dan menyerang sel-sel tumor yang tersisa.

Ke depan: masih diuji pada jenis kanker lain

Merck dan Moderna menyatakan mereka juga tengah menguji vaksin personal serupa untuk kanker paru, kandung kemih, dan ginjal. Artinya, pendekatan yang sama masih dieksplorasi untuk memperluas potensi terapi berbasis vaksin personal.

Stephane Bancel, chief executive Moderna, menyampaikan bahwa temuan ini merupakan “pivotal moment” dalam riset kanker. Respons pasar pun disebut mengikuti pengumuman, dengan saham Moderna dan Merck mengalami kenaikan.

Catatan kehati-hatian: data masih awal

Meski sebagian ahli menyambut kabar ini secara positif, mereka menekankan bahwa hasil yang dipublikasikan masih bersifat awal. Dr Talisia Quallo, head of prevention and early detection di Cancer Research UK, menyebut penelitian “shows promise” namun menegaskan data interim perlu ditinjau secara penuh.

Ia juga menambahkan, “It’s vital that research like this continues to be funded so that more people with cancer can have personalised treatment options to help them live longer, better lives”. Pandangan tersebut menempatkan penelitian personalisasi sebagai arah yang bisa memberi opsi terapi yang lebih sesuai kebutuhan pasien.

Sementara itu, Dr Lennard Lee—konsultan medical oncologist serta associate professor di University of Oxford—menilai kabar ini sebagai sesuatu yang baik bagi pasien melanoma, sekaligus memperluas maknanya. Ia mengatakan: “This is certainly good news for patients with melanoma, but the study has much wider implications. It provides proof of principle that personalised cancer vaccines work.”

Dengan demikian, Intismeran bersama Keytruda memberikan sinyal kuat bahwa vaksin personal dapat membantu mencegah kekambuhan pada melanoma berisiko tinggi. Namun, kepastian mengenai durasi masa bebas kanker dan tingkat manfaat jangka panjang tetap menunggu rilis data lengkap dan kajian independen.