Olahraga

CPA Berang, Serukan Helm Lebih Aman Usai Finlay Tarling Meninggal di Volta a Portugal

×

CPA Berang, Serukan Helm Lebih Aman Usai Finlay Tarling Meninggal di Volta a Portugal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Finlay Tarling: Cycling union CPA calls for better helmets for racers

jurnalistik.co.id – Uni sepeda Cyclistes Professionnels Associes (CPA) menyatakan “kemarahan” atas meninggalnya pembalap Inggris Fin Tarling pada etape Jumat Volta a Portugal. Kabar duka ini langsung memicu seruan perbaikan keselamatan helm bagi pesepeda yang berkompetisi di kecepatan tinggi.

Tarling yang berusia 19 tahun tercatat sebagai pembalap NSN Cycling. Menurut laporan, ia mengalami tabrakan dengan kendaraan ringan (light goods vehicle) yang tidak terlibat dalam perlombaan selama tahap tersebut.

CPA menuliskan reaksi emosionalnya di media sosial. “We are speechless and filled with anger,” tulis CPA. “It is not right that a young athlete’s life should end this way, and we are furious that even today it is still not possible to prevent such serious accidents.”

Masih dalam unggahan yang sama, CPA juga menyampaikan doa kepada keluarga dan orang-orang terdekat Tarling. “We share in the grief of his family, friends, team, and everyone who knew Finlay. Rest in peace, young rider; we pray for you, and we will carry you in our hearts.”

Presiden CPA, Adam Hansen, mengatakan kepada BBC Sport bahwa standar keselamatan helm perlu ditingkatkan. Ia menilai kondisi balap modern membuat para pesepeda melaju pada kecepatan yang terus memecahkan rekor, sehingga perlindungan harus lebih memadai.

Adam Hansen mengaitkan isu tersebut dengan risiko yang muncul ketika balap berlangsung di lintasan umum. Ia juga menyoroti bahwa helm sepeda harus mampu menghadapi tuntutan perlombaan jalan yang berbeda dari kebutuhan pengujian standar.

Fin Tarling adalah adik dari Josh Tarling, spesialis time trial yang membela tim British super Netcompany Ineos. Josh tercatat pernah memenangkan satu etape di Giro d’Italia dan meraih gelar European Time Trial.

Fin sendiri sebelumnya mengakhiri etape time trial dengan performa kuat beberapa hari sebelum lomba yang tidak sempat ia selesaikan. Ia dikenal sebagai bagian dari generasi baru pembalap Inggris baik putra maupun putri di World Tour, yang bertumbuh dari keberhasilan pebalap jalan raya berprestasi seperti Mark Cavendish, Chris Froome, dan Lizzie Deignan selama dekade keemasan keterlibatan Inggris di cabang tersebut.

Kehidupan Tarling juga dekat dengan aktivitas balap sejak hari-hari latihan. Seperti layaknya profesional muda, ia menghabiskan banyak waktu setiap hari untuk memaksimalkan performa, sembari tetap menyukai setiap aspek bersepeda dan kerap memilih tetap berada di atas sadel.

Orang tua Tarling, Michael dan Dawn, kerap hadir dalam balapan. Mereka bahkan membentuk tim sendiri di rumah mereka di Ceredigion, barat Wales.

Investasi insiden dan sorotan keselamatan

Sementara itu, aliran dukungan mengiringi proses penyelidikan. Penyelidikan terkait “collision between the cyclist and a light goods vehicle” telah dimulai, demikian disampaikan National Republican Guard di Portugal. Media Portugis melaporkan bahwa pengemudi kendaraan kemungkinan besar tidak akan menghadapi tuntutan.

Serangkaian kekhawatiran juga muncul karena bersepeda jalan makin cepat. Pada turunan di jalan umum, pesaing yang memakai lycra bisa mencapai sekitar 60mph, dengan perlindungan yang pada dasarnya hanya berupa helm. Meski pelaporan insiden makin meningkat, banyak pihak di pelataran olahraga melihat bahwa jumlah korban jiwa bertambah seiring naiknya kecepatan.

Hansen menilai perubahan ritme balap turut memengaruhi situasi. Di ajang seperti Tour de France, kecepatan rata-rata tercatat sempat memecahkan rekor pada etape 11 bulan lalu, ketika para pembalap menyentuh 50.91km/h (31.6mph). Dalam balapan modern, ritme bisa bergerak “full gas from the word go” saat pembalap berupaya mencari keuntungan di berbagai bagian lintasan.

Dalam tiga tahun terakhir, tercatat enam kematian pembalap di balapan jalan. Salah satu contoh yang disebut adalah Muriel Furrer, pesepeda Swiss, yang tidak terlihat saat beranjak keluar dari jalan pada ajang junior Road World Championships 2024, sehingga cedera kepala dibiarkan tanpa penanganan selama lebih dari satu jam. Setahun sebelumnya, Gino Mader juga meninggal dunia dalam Tour de Suisse setelah kecelakaan berkecepatan tinggi pada bagian turunan.

Kematian Tarling menjadi kematian pertama dalam balapan jalan pada 2026, meski rincian lengkap keadaan masih belum diungkap. Untuk memperdalam diskusi, BBC Sport menghubungi badan penguasa olahraga dunia, UCI, guna menanggapi standar helm.

Hansen menekankan bahwa persoalan bukan sekadar label “aman” pada pengujian. “One thing we have to look at is helmets,” kata Hansen. “They need a major upgrade. Bike helmets only need to meet standard testing like all helmets, EU standard CE EN 1078 is only rated for 19.5km/h and I do not believe this is enough for road racing.”

Rolling roadblock dan “lubang” dalam sistem

Selain helm, diskusi juga beralih ke pengaturan lintasan. Menurut Hansen, risiko ada di mana-mana di sepanjang jalur balap, dan tidak mungkin benar-benar mengontrol apa yang terjadi di setiap tikungan pada rute yang bisa mencapai lebih dari 100 mil. Ia menjelaskan bahwa pada balapan terbesar seperti Grand Tour tiga pekan—contohnya Tour de France—sebagian etape berlangsung di jalan yang ditutup penuh, tetapi banyak event World Tour memakai sistem “rolling roadblock”.

Dalam pola ini, polisi dan penyelenggara menggunakan sepeda motor dan mobil untuk memastikan jalan tetap bersih di titik-titik tertentu, serta menerapkan penutupan sementara secara teoritis sampai seluruh kompetitor melewati lokasi. Prosedur ini disebut sebagai proses yang mahal, kerap melibatkan lebih dari 30 kendaraan.

Hansen memahami etape Jumat menggunakan rolling roadblock. Ia juga menyebut Tarling berada di luar rombongan utama (adrift of the peloton), situasi yang umum bagi pembalap yang tidak perlu menjaga kecepatan kelompok utama setelah jarak tertentu, atau yang harus mundur untuk kebutuhan mobil layanan tim.

Namun, Hansen menilai ada masalah dalam implementasinya. “The organisation is [generally] very good, but what happened [on Friday] is a bit of a hole in the system,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa ketika rombongan lepas (breakaway) atau grup utama sudah lewat, sebagian pengendara dari masyarakat bisa mengira itu berarti keseluruhan balapan telah selesai.

Padahal, menurutnya masih ada pembalap lain di belakang. Hansen mencontohkan bahwa pada beberapa etape gunung, jarak antarkelompok bisa mencapai 45 menit, sehingga anggapan “perlombaan sudah lewat” bisa membuat orang tetap masuk ke lintasan yang masih berlangsung untuk grup lain.

“If people do not know racing, then they just naturally think the race has past and go onto the course, where in fact there can be many groups.” Kalimat ini menggambarkan masalah utama: ketidakpahaman terhadap dinamika balapan yang bergerak berkelompok pada rute yang sama.

Hansen menyebut telah ada banyak contoh tabrakan atau “close calls” ketika kendaraan masuk ke rute etape yang sedang berjalan meski ada jenis penutupan tertentu. Ia mencontohkan Max Schachmann yang pernah tertabrak kendaraan saat Il Lombardia pada 2020, serta pembatalan Tour Feminin des Pyrenees 2023 sebelum etape terakhir setelah pembalap menolak berkompetisi menyusul sejumlah kejadian nyaris tabrakan dengan kendaraan di rute tersebut.

Di akhir penjelasannya, Hansen menilai penutupan total jalan adalah tantangan besar. “To close every single road and driveway is difficult and it gets to the point how little risk the organisers want to take and if it’s even possible for them to have people at all those points.”

Tak lama setelah kabar wafatnya Tarling menyebar, BBC Sport juga melaporkan bahwa pihak penyelenggara sedang mempertimbangkan penghormatan khusus kepadanya di Tour of Britain putra yang mulai 2 September. Keluarga Tarling pun dinyatakan patah hati, sementara para rekan dan pendukung berusaha memberi penghormatan di tengah proses penyelidikan insiden.