Olahraga

Lorena Wiebes: Kemenangan Etape Pembuka Tour of Britain setelah Duka Finlay Tarling

×

Lorena Wiebes: Kemenangan Etape Pembuka Tour of Britain setelah Duka Finlay Tarling

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tour of Britain: Stage winner Lorena Wiebes on Finlay Tarling death

jurnalistik.co.id – Etape pembuka Tour of Britain Women diwarnai suasana berkabung dan perhatian ekstra pada keselamatan setelah meninggalnya Finlay Tarling. Sebelum start digelar, pengendara dan penonton memberi penghormatan untuk pembalap usia 19 tahun itu yang wafat pekan lalu akibat tabrakan berkecepatan tinggi.

Lorena Wiebes kemudian tampil sebagai pemenang setelah sprint untuk merebut kemenangan pada fase awal lomba di Cockermouth. Pembalap Belanda dari SD Worx – Protime memenangi etape pertama di kota pasar tersebut dalam jarak 158,9 km.

Penghormatan dilakukan tepat menjelang balapan. Saat 114 pembalap berbaris untuk memulai etape perdana, foto Tarling ditampilkan pada layar besar, diikuti satu menit hening yang bergema di sepanjang pusat kota Cockermouth.

Tarling meninggal dunia dalam kecelakaan dengan sebuah van yang menyimpang ke jalur, saat ia berlaga pada etape kedelapan Volta a Portugal. Momen itu membuat seluruh komunitas bersepeda terdiam dan mendorong perbincangan serius mengenai prosedur pengamanan di ajang jalan raya.

Usai meraih kemenangan, Wiebes menyampaikan pesan yang ditujukan kepada orang tua para peserta. Ia menegaskan, pengalaman balapan tidak seharusnya menimbulkan ketakutan pulang tidaknya sang anak.

“Most of these riders have family at home. Your parents shouldn’t be scared that you are not coming back from a race.”

Wiebes juga menambahkan kekhawatiran bahwa insiden serupa tidak boleh terulang. “It cannot happen again, and it’s happened already too many times,” ujarnya.

Konteks keselamatan memang menjadi perhatian besar bagi setiap pembalap sejak kematian Tarling mengejutkan dunia olahraga sepeda. Tour of Britain digelar sebagai ajang yang lebih kecil di kalender, namun dinilai mirip dengan Volta a Portugal.

Dalam sejumlah pelaksanaan, lomba menggunakan konsep “rolling roadblocks”, yakni polisi dan petugas bergerak di depan serta di belakang rombongan utama. Namun, pada etape di Cockermouth, beberapa ruas jalan ditutup sepenuhnya di area pusat kota.

Perbincangan mengenai standar pengamanan tidak berhenti pada satu insiden. Hayley Simmonds, pembalap Inggris pemegang tiga rekor British time trial, menilai isu keselamatan perlu terus didorong, terutama setelah pengalaman ketika Tour of the Pyrenees dihentikan pada 2023.

Pada saat itu, para pembalap mengeluhkan bahwa jalan tidak ditutup untuk lalu lintas selama penyelenggaraan balapan tiga hari di Prancis bagian barat daya. Simmonds juga mencatat bahwa beberapa tim memilih mundur sebelum badan pengelola secara resmi membatalkan lomba.

Ia mengutip penilaian yang muncul dari situasi tersebut. “Our response at the time was, ‘No, we just expect to be safe’,” kata Simmonds. “When you go out on your bike, you expect to get home safely.”

Saat mengulas kembali apa yang ia lihat di lapangan, Simmonds menggambarkan situasi ketika kendaraan datang dari arah berlawanan. “We were riding along a road and suddenly there was a car moving towards us in the opposite direction, coming towards you.”

Ia melanjutkan bahwa pikiran pembalap terpecah antara konsentrasi balapan dan ancaman di sekitar mereka. “And then you’re half thinking about that, half thinking about the race, and no race is worth losing your life over.”

Karena itu, Simmonds menyebut mereka akhirnya tidak melanjutkan balapan pada etape ketiga. “And that’s why on stage three, we chose not to race. But it shouldn’t come down to riders having to stop in the middle of a stage and have a discussion about whether they feel safe on their bikes or not.”

Lantas, apa jawabannya menurut Simmonds? Ia menilai pengaturan tidak boleh dipahami sebagai tanggung jawab tunggal satu pihak saja. Simmonds menyatakan kebutuhan adanya mandat yang jelas terkait pembuktian keselamatan.

“I don’t think it’s necessarily right or fair to say that the responsibility lies solely with one particular party. But ultimately, they should have some set of mandates that say we need proof that rider safety has been considered, and we need proof that the roads will be safe to ride on.”

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi nyata antara badan pengatur dan penyelenggara. “I think you need real collaboration between the UCI and the race organisers. The UCI needs to be asking questions of the race organiser. Like, what group have you got doing the road closures and looking after the race? Do they actually have legal authority to stop all traffic? Do drivers have to respect that?”

Sejauh ini, setelah kecelakaan fatal yang menewaskan Tarling, UCI mengeluarkan pernyataan duka dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga, teman, dan rekan setim Tarling. Namun, setelah itu UCI tidak memberikan komentar lanjutan.

Di sisi penyelenggara, event director Jonathan Day menegaskan bahwa keselamatan mendapat perhatian serius. Ia menyebut, banyak orang akan ikut memikirkan aspek keselamatan di ajang setelah peristiwa yang menimpa Tarling.

Day mengatakan pihaknya menganggap keselamatan di Lloyds Tour of Britain sangat serius. Ia juga menekankan bahwa balapan memiliki rekam jejak keselamatan yang baik, didukung tim penyelenggara berpengalaman dan kelompok pengawalan polisi tingkat pusat yang juga berpengalaman.

“It’s understandable that people will be thinking about safety at events following what happened to Finlay.”

“We take safety at the Lloyds Tour of Britain extremely seriously, and the race has an excellent safety record.”

“We have a highly experienced organising team supported by an equally experienced police central escort group.”

Etape ini juga membawa ingatan bagi Hannah Barnes, yang mengenal Tour of Britain dari pengalaman sebelumnya. Pada 2017, Barnes menempati posisi ketiga secara keseluruhan, sementara kemenangan paling bergengsinya datang pada etape terakhir di 2015.

Barnes menilai cara penyelenggaraan Tour of Britain sejak dulu dikenal sangat serius. “I think the Tour of Britain has always been renowned for how seriously they take it.”

Ia menyebut dirinya tidak pernah merasa tidak aman karena percaya pada polisi setempat dan bisa melihat bagaimana persiapan dilakukan di balik layar. “I’ve never felt unsafe. But that’s because I trust the British police, and also you can see what goes on behind the scenes.”

Menurut Barnes, siapa pun yang berdiri di garis start pada hari itu pasti memikirkan peristiwa tragis pekan sebelumnya. Ia menyatakan, meski pembalap bukan berasal dari Inggris atau tidak mengenal Tarling secara personal, tetap ada ikatan sebagai sesama rekan di lintasan.

“Even if you aren’t from Britain or you didn’t know Fin personally, it’s still one of your fellow cyclists. I’ve been thinking about him every day, about his family and the team, so I think for them to have a tribute beforehand is really important.”

Di sisi lain, lomba Tour of Britain Women pada edisi ini menjalani format lima etape untuk pertama kalinya. Dengan demikian, jumlah etape penuh menjadi setara dengan lomba putra.

Tour of Britain Women akan berakhir pada Minggu, 23 Agustus. Setelah etape pertama yang dimenangkan Wiebes, para peserta kini melanjutkan perjuangan dengan perhatian yang lebih tajam terhadap prosedur keselamatan dan pengalaman lomba yang seharusnya tetap bisa dijalani tanpa rasa takut berlebihan.