jurnalistik.co.id – Michael Carrick menolak anggapan bahwa Manchester United akan menjalani awal Premier League yang “mudah”. Menurutnya, pembingkaian soal jadwal dan kondisi tim di sepuluh hari pertama musim itu terdengar terlalu nyaman.
“Ridiculous” menjadi kata yang dipilih Carrick untuk menilai nada yang beredar menjelang kampanye baru. Ia menekankan bahwa sulitnya tantangan justru akan terasa sejak hari-hari awal, terutama ketika laga-laga tersebut datang berurutan.
Pertama, MU akan lebih dulu bertandang untuk menghadapi Hull, yang berstatus juara play-off. Lalu, mereka menutup rangkaian awal itu dengan duel di Old Trafford melawan Ipswich, tim yang juga baru promosi ke kasta tertinggi.
“It’s not favourable,” ujar Carrick. Ia menambahkan bahwa menyebut dua laga awal itu sebagai sesuatu yang “easy” hanya akan mengalihkan fokus, karena bagaimanapun keduanya menghadirkan ujian nyata.
Ia menyatakan, “It’s a tough start; both teams. I am not getting past Saturday. I’m fully aware of what’s coming at us.” Dengan kalimat itu, Carrick ingin klub dan pendukungnya membaca musim dari sudut yang lebih realistis, bukan dari asumsi yang terlalu optimistis.
Selain soal jadwal, Carrick juga menanggapi kegelisahan di kalangan fans yang menyorot minimnya tambahan pemain. Perhatian itu muncul setelah kesepakatan Youri Tielemans senilai ÂŁ35m dari Aston Villa selesai pada 14 Juli, sehingga publik menunggu langkah lanjutan berikutnya.
Dalam perbincangan bursa, Carrick menyebut pembicaraan masih berjalan dengan Brighton terkait gelandang asal Kamerun, Carlos Baleba. Namun, ia menegaskan bahwa kesepakatan “still to be agreed”, sehingga belum ada kepastian berapa pun detail yang sudah dibahas.
Isu lain yang ikut disorot adalah rencana mengandalkan Luke Shaw sebagai satu-satunya bek kiri dengan tipe “orthodox left-back”. Carrick tidak menyembunyikan bahwa harapan seperti itu akan menuntut kondisi fisik yang terjaga, sehingga menimbulkan risiko besar bila kebugaran tidak sesuai.
“We are looking to strengthen the squad,” kata Carrick. Ia menjelaskan bahwa pekerjaan untuk memperkuat skuad memang sedang dikerjakan, selaras dengan kebutuhan tim menghadapi kompetisi yang menuntut konsistensi.
Karena pola sejarah, Carrick mengingatkan bahwa pendukung MU sebenarnya tidak perlu terlalu terkejut bila proses transfer berlangsung sampai tahap akhir. Dalam era Premier League, hanya dua kali MU menghadapi dua laga pembuka melawan tim yang baru promosi, dan pada dua momen itu mereka tidak memulai dengan dua kemenangan.
Pada salah satu contohnya, MU sempat bangkit dari ketertinggalan untuk menaklukkan Fulham pada Agustus 2001. Meski begitu, mereka tetap membutuhkan gol penyeimbang David Beckham di akhir pertandingan untuk mengamankan hasil imbang 2-2 saat menghadapi Blackburn.
Pada contoh lainnya, MU masih membawa bekal setelah mencapai final Liga Champions tiga bulan sebelumnya. Namun, satu gol Wayne Rooney hanya mampu membawa MU meraih hasil melawan Birmingham, sebelum akhirnya mereka kalah di Turf Moor oleh Burnley—tim yang promosi melalui jalur play-off, sama seperti Hull musim lalu.
Terakhir kali MU memulai dengan dua kemenangan beruntun terjadi pada kampanye 2017-18 saat Jose Mourinho menjadi pelatih. Saat itu, mereka menang 4-0 atas West Ham dan meraih kemenangan serupa ketika bertanding di Swansea.
Berita Terkait
Dalam konteks setahun terakhir, Carrick juga menyinggung arah yang pernah dijalani MU. Dua belas bulan sebelumnya, Ruben Amorim—yang kala itu memimpin—menghadirkan kekalahan di kandang melawan Arsenal, lalu MU bermain imbang saat menghadapi Fulham.
Pada musim 2022-23, pola yang dianggap paling “tajam” terjadi ketika MU kalah di kandang dari Brighton, lalu disusul kekalahan 4-0 di Brentford. Rangkaian itu menjadi pemicu perombakan bursa yang berujung pada pengeluaran £150m untuk Casemiro dan Antony.
Antony sendiri menyelesaikan perpindahan pada 1 September 2022, tepat di hari terakhir bursa transfer. Carrick lalu menggarisbawahi bahwa itu bagian dari pola yang berulang: dalam enam musim terakhir, minimal satu pemain tim utama datang ke Old Trafford ketika jendela transfer hampir berakhir.
Contohnya, setahun sebelum laporan ini, MU baru memutuskan Senne Lammens menjadi kiper utama mereka pada hari terakhir bursa. Keputusan itu menjadi pengganti rencana sebelumnya, ketika Emi Martinez—yang diinginkan Amorim—berasal dari Aston Villa.
Di 2024, MU juga membayar ÂŁ50.8 kepada PSG untuk mendatangkan Manuel Ugarte pada hari penutupan bursa. Pada tahun sebelumnya, Sergio Reguilon dan Sofyan Amrabat datang melalui skema pinjaman.
Nominal ÂŁ81.3m yang dibayarkan untuk Antony, saat ini, masih tercatat sebagai angka kedua terbesar yang pernah dikeluarkan MU. Di atasnya ada Paul Pogba, sedangkan kebijakan di bursa juga diulas dari sisi momentum keputusan.
Kemudian, Carrick mengingat bahwa pada 2021, kembalinya Cristiano Ronaldo diproyeksikan sebagai “deadline-day deal” yang akan membawa klub kembali ke puncak klasemen, namun hasilnya “failed spectacularly”. Pada 2020, Edinson Cavani juga bergabung pada hari terakhir bursa, tetapi waktunya terdorong hingga Oktober karena dampak Covid-19.
Ia menilai bahwa rangkaian contoh tersebut tidak selalu menunjukkan waktu yang ideal untuk belanja pemain. Meski begitu, Carrick mengaitkannya dengan ekspektasi fans menjelang pekan terakhir bursa masih dibuka, dan ia menyiratkan bahwa MU memang kerap bekerja dalam pola seperti itu.
“I would never say we can’t win title – Carrick,” tegasnya. Dengan mempertimbangkan rekam jejak itu, hingga dua laga pertama selesai dijalani dan bursa transfer berakhir pada 23:00 BST, 1 September, Carrick menilai penilaian tentang target musim perlu ditahan dulu.
Bagi sebagian pihak, mengulang posisi ketiga musim lalu dianggap peningkatan besar, mengingat jumlah pertandingan yang akan dihadapi kali ini berpotensi lebih banyak sekitar 50% dibanding 40 laga pada 2025-26. Bagi pihak lain, capaian beruntun tiket Liga Champions jadi target yang layak dikejar.
Namun, ada juga sudut pandang yang tidak ingin membatasi harapan terlalu cepat. Carrick mencatat bahwa meski sudah 13 musim berlalu tanpa tantangan gelar, MU sebagai klub dengan ukuran besar seharusnya tetap menargetkan pencapaian yang tinggi.
“It’s going to be a jump,” kata Carrick. Ia menambahkan, “It doesn’t really matter whether I say we can or we can’t – and I would never say we can’t by the way; I don’t believe that.”
“It’s about what we do, what we can do and what we are capable of doing as a group,” lanjutnya. Ia menyebut performa pada musim lalu memberi keyakinan, tetapi tetap ada langkah baru yang harus dilewati, dan situasi itu, baginya, justru membawa energi.
“It’s exciting. We have the potential to achieve things – we will definitely give it everything we can. We have to believe we are a good team and can do good things.” Bagi Carrick, kunci bukan pada narasi awal yang terdengar mudah, melainkan pada cara tim menjalani tantangan yang sesungguhnya.












