jurnalistik.co.id – Harry Brook memulai hari kedua pada Tes pertama melawan Pakistan dengan cara yang terasa “tenang”—setelah serangkaian momen yang membuatnya naik-turun dalam empat tahun terakhir, ia menorehkan 91 run dari 93 bola tanpa terlihat terburu-buru.
Di Headingley, ia tidak melakukan serangan liar yang sebelumnya sering muncul, khususnya saat Inggris mengalami kekalahan di Ashes musim dingin lalu.
Momen yang kerap menentukan—keputusan untuk maju atau tetap bertahan—kali ini jelas berpihak kepadanya. Ia tidak sekali pun terlihat melakukan charging down pitch, meski sempat ada satu kali peluang yang terlepas.
Begitu bola berputar, fokusnya tetap konsisten. Bad balls tetap disambut dengan empat run saat celah terbuka, dan ritme pukulannya membentuk gambaran yang Agnew nilai sebagai “cetak biru” untuk perjalanan Brook berikutnya.
Nilai bakat yang jarang
Jonathan Agnew menegaskan bahwa rasa frustrasi terhadap Brook yang pernah ia sampaikan tidak pernah bersifat personal, maupun karena penilaian yang merendahkan kemampuan battingnya.
Menurut Agnew, Brook adalah talenta yang langka dan bisa disejajarkan dengan nama-nama seperti Kevin Pietersen dan David Gower—yang pernah dilihatnya dengan daya saing serta kelas yang sangat istimewa ketika membela Inggris.
Agnew juga menyinggung betapa ia sempat “mengagumi” Brook pada periode tertentu, termasuk saat Brook mencetak triple century melawan Pakistan di Multan.
Namun, ada masa ketika Agnew justru khawatir Brook bisa membuang kerja kerasnya saat tur di Australia. Kekhawatiran itu muncul ketika Brook tersentak saat mencoba driving Scott Boland di Perth, serta ketika ia memilih swing melawan Mitchell Starc di Brisbane dan pada akhirnya gagal menjadi puncak kendali dari inning tersebut.
Penampilan di Headingley, di mata Agnew, memberikan jawaban: versi Brook yang kini muncul seperti membawa cetakan yang lebih matang ke setiap fase permainan.
Ia bahkan menyatakan, “He will score a million runs if he keeps batting like this.” Kalimat itu menggambarkan keyakinan Agnew bahwa pendekatan pukulannya punya peluang bertahan dalam rentang karier Tes Brook.
Di sisi lain, Inggris juga menjalani momentum yang sulit terkejar setelah Agnew menyebut England go in to day three on top with a 185-run lead.
Di balik kegagalan jadi kapten Tes
Agnew menghubungkan kerapian batting Brook dengan konteks yang lebih besar: ia baru saja disingkirkan dari pertimbangan kapten Tes.
Brook memang dipertimbangkan serius oleh Rob Key dan pihak lain di England and Wales Cricket Board, tetapi pada akhirnya ia tidak terpilih.
Bagi Agnew, pertanyaan yang mungkin muncul di kepala Brook adalah “mengapa hal itu terjadi”, dan ia menilai jawabannya berkaitan dengan kedewasaan.
Agnew menyebut Brook sudah menunjukkan kemampuan sebagai taktik dan pemimpin tim pada format white-ball. Tetapi, pada titik tertentu, ia tidak pernah yakin Brook siap untuk peran kapten Tes Inggris yang menuntut lebih dari sekadar keputusan di lapangan.
Menurut Agnew, jabatan itu juga menyangkut cara seseorang mewakili negara, termasuk ketika diperlukan keberanian untuk membahas isu-isu sulit di dunia internasional.
Agnew mengaitkan penilaian itu dengan episode yang melibatkan Zimbabwe dan Afghanistan dalam waktu dekat, lalu menegaskan bahwa Brook belum menunjukkan kedewasaan untuk menjalankan bagian tugas tersebut.
Dalam penilaian akhir, Agnew menilai Joe Root menjadi satu-satunya kandidat yang dapat dipilih. “The hierarchy had no choice,” tulis Agnew dalam artikelnya.
Berita Terkait
Walau demikian, Agnew memandang masa kedua Root sebagai kapten tidak akan bertahan lama—kemungkinan hanya hingga akhir Ashes tahun depan.
Karena itu, bola ada di tangan Brook untuk membuktikan diri sebelum pergantian berikutnya, sekaligus menunjukkan bahwa ia layak menjadi pilihan terbaik pada kesempatan berikutnya.
Agnew juga membuka kemungkinan bahwa Jacob Bethell, yang menurutnya sangat dinilai sebagai pemimpin, bisa saja melampaui Brook pada waktu tersebut.
Namun, ia menilai tidak ada alasan Brook tidak bisa menjadi kapten Tes ketika Root melepas peran, terutama jika kematangan itu terlihat melalui cara Brook memimpin inning lewat batting seperti yang ditunjukkan di Headingley.
Pelajaran dari Ashes dan arah ke depan
Agnew menyadari sebagian orang akan menafsirkan inning Brook lewat pengalaman sebelumnya, terutama kegagalan Brook untuk tampil lebih masuk akal selama Ashes.
Ia mengakui argumen tersebut—karena musim dingin memang menjadi salah satu kekecewaan terbesar dalam kriket Inggris—tetapi bagi Agnew, kini saatnya memindahkan fokus ke masa depan dan meninggalkan Ashes di belakang.
Di pandangannya, pelajaran itu sudah terlihat dari keputusan-keputusan yang diambil dan orang-orang yang kini bertanggung jawab.
Agnew menyebut Root dan Stephen Fleming seharusnya lebih tajam dalam menjalankan peran, sehingga perkembangan Inggris tidak berhenti di satu dua kemenangan, melainkan menjadi pembelajaran jangka panjang.
Ia juga menempatkan jadwal sebagai alasan untuk “melangkah”: setelah rangkaian besar di depan, termasuk tur musim dingin ke Afrika Selatan dan kemudian Ashes musim panas berikutnya.
Dalam gambaran itu, Agnew menilai bukan hanya Brook yang memberikan sinyal positif sejauh ini.
Jordan Cox tampil dengan kendali yang mirip: restraint dan kelas yang sama saat ia mengumpulkan 73 run. Sementara itu, Joe Root mencatat inning dengan cara yang Agnew sebut menahan agar laju tetap stabil, menghasilkan performa batting yang lebih terukur.
Bagi Agnew, ini adalah hal yang pasti membuat setiap pendukung Inggris merasa puas.
Meskipun dua hari yang berjalan tenang merupakan sambutan setelah apa yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, Agnew juga mengingatkan agar Inggris tidak membuang seluruh identitas yang sebelumnya dibangun pada era Brendon McCullum dan Ben Stokes dengan rezim Bazball.
Menurutnya, tim ini harus mempertahankan banyak positivitas, tetapi caranya perlu tanpa terseret ke sikap yang terlalu nekat dan kurang lentur yang sempat terlihat sebelum-sebelumnya.
Ia menilai ruthlessness adalah elemen lain yang sering absen pada para Bazballers, dan pada Tes ini Root’s England punya kesempatan yang “pas” untuk menunjukkan apa yang sudah dipelajari.
Selain itu, Agnew menilai Pakistan telah membuat pilihan yang tidak tepat. Ia menyebut mereka seharusnya mengirim seamer lain dan saat ini mereka juga sangat kehilangan pace dalam serangan.
Dengan demikian, Agnew menggambarkan bahwa Inggris memulai fase reset yang sudah lama ditunggu dengan lawan yang kondusif untuk memberi tekanan.
Jika momentum bisa dikunci, Inggris bahkan bisa menekan lebih jauh hingga berpeluang unggul 1-0 dalam seri ini.
Di akhir tulisannya, Agnew kembali ke inti: Brook telah mulai menunjukkan jalan itu.












