jurnalistik.co.id – Perubahan arah persaingan posisi kiper utama Inggris mulai terlihat nyata setelah rangkaian pertandingan internasional terakhir. Jordan Pickford yang selama bertahun-tahun menjadi andalan di bawah mistar kini harus berbagi perhatian dengan James Trafford yang mulai diberi kesempatan tampil.
Dalam konteks turnamen besar, nama Pickford hampir selalu hadir sebagai starter. Ia juga mengalami momen yang menentukan ketika keputusan memilih kiper untuk laga-laga berikutnya kembali menjadi bahan evaluasi Thomas Tuchel.
Persaingan baru usai laga Inggris vs Spanyol
Inggris menjalani kekalahan 3-2 dari Spanyol pada ajang Nations League, dan duel itu sekaligus menandai debut kompetitif James Trafford untuk timnas. Saat Trafford tampil, Tuchel mengisyaratkan bahwa perebutan status kiper nomor satu bukan lagi sekadar wacana.
Tuchel bahkan membuat pesan yang jelas terkait pembagian kesempatan bermain. Ia menyatakan, “I think he deserved to get the two matches, that’s why we gave him two matches.” Kalimat itu menegaskan bahwa Trafford tidak sekadar diturunkan sebagai pengisi, melainkan diberi jatah yang diproyeksikan berkelanjutan.
Di sisi lain, Pickford juga memiliki jejak yang sangat panjang dalam skuat Inggris. Ia sempat melewati tonggak penting karena menjadi pencetak rekor penampilan terbanyak di Piala Dunia untuk Inggris, saat ia memulai laga perempat final melawan Norwegia pada tahun 2026.
Dua pertandingan untuk Trafford, Tuchel ingin melihat jawabannya
Selama era Gareth Southgate, posisi kiper utama tidak memiliki rival yang benar-benar setara. Situasi itu tampak berubah di bawah Tuchel, terutama setelah Pickford tetap menjadi pilihan utama di hampir semua fase penting, termasuk kualifikasi Piala Dunia—kecuali satu pertandingan—serta seluruh laga pada musim panas.
Namun pada jeda internasional ini, Tuchel menyebut bahwa Pickford dan Trafford akan menjalani pola kesempatan yang sama. “He started the Premier League season well and gets minutes as number one at Leeds. Jordan [Pickford] did absolutely nothing wrong but we wanted to use this competition to see how far actually James is.”
Menurut Tuchel, pertarungan di ruang gawang memang dirancang untuk mengukur sejauh mana Trafford bisa merespons tekanan level tertinggi. Tuchel juga menyebut bahwa dirinya memberikan “two consecutive matches each” dalam kesempatan yang sama.
Trafford membangun momentum di Leeds
Kinerja Trafford musim ini ikut mendorong Leeds hingga berada di peringkat kelima klasemen Liga Inggris. Ia juga membantu timnya meraih dua clean sheet, sehingga peluang untuk “mengunci” klaim sebagai kiper masa depan Inggris semakin terbuka.
Gaya bermain Trafford sempat memberi sinyal yang kuat ketika ia tampil melawan Spanyol. Ia menunjukkan kemampuan mengolah bola dan membuat penyelamatan yang menonjol untuk menahan Ferran Torres pada babak pertama, meski pada akhirnya Inggris tetap menelan kekalahan 3-2.
Dalam pertandingan tersebut, Trafford harus kebobolan tiga kali. Meski begitu, justru dari kombinasi kualitas dengan jatah bermain yang diberikan, Tuchel tampak ingin menilai konsistensi Trafford dalam rentang pertandingan yang berdekatan.
Perjalanan karier: dari Burnley ke Manchester City, lalu Leeds
Sebelum pindah ke Leeds, Trafford hanya memainkan 32 pertandingan Liga Utama. Ia diboyong ke Burnley dari Manchester City dengan nilai awal sekitar ÂŁ15m pada musim panas 2023, setelah berkembang melalui akademi City.
Di Burnley, Trafford mengalami fase yang tidak mudah. Ia kebobolan 67 gol hanya dalam 28 pertandingan, dan ia kehilangan tempat di akhir musim 2023-24. Namun setelah Burnley tampil sukses meraih promosi pada 2024-25, dan tim itu hanya kebobolan 16 gol, Trafford kembali mendapatkan panggung yang lebih baik.
Berita Terkait
Trafford kemudian kembali ke Manchester City dengan nilai ÂŁ27m pada musim panas terakhir. Harapannya adalah menjadi kiper utama di era Pep Guardiola, tetapi perubahan cepat terjadi ketika City mendatangkan Gianluigi Donnarumma hanya empat minggu setelah kedatangan Trafford, sehingga Trafford harus menjadi pilihan kedua.
Meskipun musim itu terasa menyulitkan, Trafford tetap mendapat pengalaman penting. Ia memulai dua laga final untuk City, yakni FA Cup final dan Carabao Cup final, sebelum akhirnya pindah ke Leeds.
Ia juga membawa catatan keberhasilan bersama Inggris. Trafford memenangkan Kejuaraan Eropa U21 pada 2023 dan melakukan penyelamatan penalti pada masa tambahan waktu saat tim Lee Carsley mengalahkan Spanyol di final.
Pickford tetap jadi pijakan besar timnas Inggris
Sementara itu, Pickford datang dengan rekam jejak yang sulit disaingi. Ia mencatat 46 clean sheet dari 91 penampilan bersama Inggris, dan berperan besar dalam keberhasilan Three Lions di turnamen-turnamen besar.
Paul Robinson, mantan kiper Inggris, menilai pilihan Tuchel akan membuat Pickford merasakan tekanan yang besar. Robinson mengatakan, “I think Jordan Pickford will be very disappointed. Putting myself in that place, he will be questioning why he is not in that place. If he is number one, then why is he not playing against the world champions? You wonder whether this is the next generation coming through for Thomas Tuchel.”
Robinson juga menyoroti bahwa meskipun Pickford bermain baik saat Inggris mengalahkan Meksiko untuk mencapai perempat final Piala Dunia, turnamen itu tidak menjadi yang paling dominan baginya. “Jordan Pickford has never let England down,” ujar Ian Dennis. Ia menambahkan, “You have opposition against the Czech Republic and Croatia where you could give James Trafford an opportunity then. I do find the decision quite strange. Pickford against the world champions – you would back him to play in this game.”
Perbandingan: menit bermain, penalti, dan metrik performa
Dalam persaingan paling dekat, Pickford saat ini memegang status kiper nomor satu di skuat dan tampil setiap menit sepanjang Piala Dunia, sebelum ia direhatkan pada laga play-off perebutan tempat ketiga melawan Prancis. Pada pertandingan itu, Dean Henderson yang menjadi starter.
Pickford berusia 32 tahun dan akan menginjak 34 pada Euro 2028. Ia mengoleksi 91 caps dan telah menyelamatkan empat dari 14 penalti yang ia hadapi dalam adu tendangan penalti di turnamen besar.
Jika melihat data di Liga Inggris, catatan Pickford secara agregat masih lebih menonjol dibanding Trafford. Sejak awal musim 2024-25, tidak ada kiper lain yang mampu mencegah expected goals (xG) lebih banyak dibanding kiper Everton tersebut.
Namun pada musim ini, jaraknya tidak terlalu jauh. Pickford tercatat lebih banyak mencegah gol, sementara Trafford punya persentase penyelamatan yang lebih tinggi dan akurasi operan yang lebih baik.
Reaksi pembaca: saat saatnya mencoba, atau Pickford harus tetap jadi jawabannya
Di tengah pertanyaan publik tentang arah regenerasi, beberapa penilaian muncul dari pembaca. James, Guildford menulis, “Pickford has been fantastic for England but he didn’t have the best World Cup, with a couple conceded that arguably he should’ve saved and a few nervy moments playing out from the back. Now seems as good a time as any to try James Trafford.”
Mick, Kettering memberi dukungan langsung kepada Trafford dengan menulis, “James Trafford deserves to start, he’s going to be England’s next number one and why not start him against Spain or would you rather he only played against third-rate nations?”
Mick, Newcastle menambahkan dengan nada yang serupa, “James Trafford deserves his shot! Jordan Pickford has been quality for 10 years! Time feels right to test who could be next. Finding the next Harry Kane is going to be the problem!”
Di sisi lain, Zeb, Stanstead mempertanyakan keputusan tersebut dan menilai kesalahan pada Piala Dunia menjadi bagian dari evaluasi. Zeb menulis, “Jordan Pickford is paying the price for those mistakes creeping in during the World Cup. Could he have stopped the goals v Croatia, DR Congo and Fernandez v Argentina? Prime Pickford does. Thomas Tuchel showing his ruthless side again.”
Dengan Trafford yang telah menunjukkan kualitas di awal kesempatan dan Tuchel yang menyiapkan pola pertandingan berurutan, perdebatan ini kemungkinan tidak akan mereda dalam waktu dekat. Yang paling menentukan kini adalah bagaimana performa konsisten keduanya menjawab standar Inggris di level tertinggi.












