jurnalistik.co.id – Craig Bellamy mengakui bahwa dirinya sempat berada dalam masa yang sangat berat setelah Wales meraih kemenangan di Nations League. Ia menegaskan periode tersebut terasa “really difficult”, terutama karena kritik yang mengarah kepadanya ketika tim sedang melewati rentetan hasil tanpa kemenangan.
Kemenangan Wales atas Norwegia dengan skor 2-1 di Stadion Cardiff City pada Kamis menjadi hasil terbaik yang ia sebut sebagai pencapaian paling signifikan selama masa kepelatihannya. Laga itu juga menutup tren buruk enam pertandingan tanpa kemenangan, yang berawal dari kekalahan Wales di babak semifinal play-off Piala Dunia melawan Bosnia-Herzegovina pada Maret.
Bellamy menjelaskan bahwa keberhasilan yang baru diraih tidak serta-merta menghapus tekanan yang selama ini ia rasakan. Saat ditanya apakah kemenangan tersebut meringankan beban di pundaknya, pelatih asal Wales itu mengatakan ia sudah “felt the stick” sejak kekalahan dari Bosnia. Ia menambahkan, “The summer wasn’t easy, then these games weren’t easy,” sebelum menekankan bahwa ia belajar dari pengalaman menonton para manajer sebelumnya.
Dalam konferensi pers yang panjang setelah kemenangan atas Norwegia, Bellamy mengatakan ia menyadari bahwa kritik dan pelecehan bukanlah hal baru dalam lingkungan sepak bola, namun dampaknya tetap nyata. Ia mengungkapkan, “I’ve been part of that, and I’ve seen the abuse. I’ve seen the abuse the previous manager got just before me, and I have to be honest, it’s been a really difficult couple of months.” Pernyataan ini ia sampaikan sambil menilai bahwa arus negatif yang menimpa dirinya juga menular ke orang-orang terdekat.
Bellamy juga menyinggung bahwa kritik publik yang ia terima sempat mencuat setelah ia berdiskusi soal kemungkinan kepindahan ke Burnley pada Juni. Ia menghadapi respons dari sebagian penggemar setelah pembicaraan tersebut, dan pada akhirnya ia merasa perlu bersuara mengenai cara orang-orang saling memperlakukan di ruang publik.
Berita Terkait
Ia menegaskan bahwa persoalan utamanya bukan sekadar dirinya, melainkan dampak yang ikut dirasakan keluarganya. “It’s not me but I have kids and a wife; it’s for them – they see it,” ujarnya. Bellamy menyebut dirinya sudah “lived in this environment” sejak masih menjadi pemain, tetapi menurutnya ada cara untuk menyampaikan pendapat tanpa menjadikan kritik sebagai alasan untuk melontarkan hal-hal yang merendahkan.
Menurut Bellamy, “I think there’s ways we can speak to people, and just because it’s the game we love, it doesn’t give us the right to think we can say whatever we want to.” Ia juga menilai Wales sebagai negara yang relatif kecil sehingga semestinya ada dorongan untuk saling menjaga. “We’re such a small country, I’m like… why can’t we have each other’s backs? Why don’t we look after each other more? Maybe that’s me.”
Meski demikian, Bellamy menekankan bahwa ia tidak menolak kritik secara keseluruhan. Ia berkata, “I’m not saying everyone’s above criticism, far from it. But I think it’s too easy, and we’re too quick.” Dengan nada yang sama, ia menilai respons yang muncul kadang terlalu cepat berubah menjadi serangan pribadi alih-alih evaluasi yang membangun.
Di sisi lain, Bellamy mengatakan ia tidak ingin merusak suasana positif setelah kemenangan yang meningkatkan moral tim. Wales, yang mengalahkan Norwegia dengan status bermain 10 orang, mengakhiri masa tanpa kemenangan dengan cara yang ia anggap penting—terutama karena ini merupakan kemenangan pertama Wales atas negara yang peringkatnya lebih tinggi sejak ia mengambil alih kursi pelatih.
Bellamy menambahkan, “I’m really happy with it, but I’m happy for the country, you understand?” Ia juga menegaskan komitmennya sebagai pelatih dengan menyebut bahwa ia “give everything for my country. Everything.” Menurutnya, ia bahkan sampai menolak tawaran bernilai besar agar tetap menjalani tugas tersebut, karena ia menyatakan, “I turned down big money to keep doing this. I love doing this.”
Dengan kemenangan itu, Wales mencatat capaian penting di kompetisi Nations League: ini menjadi kemenangan pertama mereka di tier teratas sejak Bellamy menjabat pada Juli 2024. Bagi Bellamy, meski hasil di lapangan menjadi alasan perayaan, pesan utamanya tetap mengarah pada cara yang lebih manusiawi untuk saling berinteraksi—agar semangat olahraga tidak berubah menjadi kekerasan kata-kata yang menyasar orang-orang, termasuk keluarga mereka.
