jurnalistik.co.id – Keberhasilan Anthony Gordon menembus fase-fase penting Timnas Inggris terasa semakin jelas dalam beberapa pertandingan terakhir. Setelah era Piala Dunia memasuki bagian gugur, ia tampil seperti figur yang makin sulit dilewati dan semakin dipercaya sebagai starter yang konsisten.
Kapten Harry Kane bahkan menempatkan Gordon dalam kategori khusus. Menurut Kane, Gordon berada di jalur menuju deretan “main men” Inggris—sebuah sebutan yang menggambarkan pemain-pemain kunci yang diandalkan di laga besar.
Pada laga terbaru, Gordon menjadi bagian dari momen pembuka yang menentukan. Ia mencetak gol pertama saat Inggris menang 2-0 atas Republik Ceko pada Selasa malam. Sebelumnya, ia juga mencatat kontribusi penting saat Inggris kalah 2-3 dari juara dunia Spanyol di Wembley pada Sabtu, ketika Gordon turut membuat perbedaan di momen-momen krusial.
Gambaran performa Gordon bersama Inggris sebenarnya sudah terbentuk sejak babak knockout Piala Dunia dimulai. Ia menjalankan tren kontribusi gol rata-rata setiap 69 menit, dimulai dari assist yang membantu Kane pada kemenangan 2-1 atas DR Congo di fase 16 besar terakhir. Pola itu berlanjut, terlihat dari catatan tiga gol dan tiga assist dalam enam pertandingan terakhir bersama timnas.
Rangkaian tersebut juga memuat momen bertekanan tinggi. Gordon pernah memenangkan penalti saat Inggris meraih kemenangan dramatis atas Meksiko pada babak 16 besar di Azteca Stadium. Ketika ritme permainannya semakin matang, peran yang ia jalankan tidak hanya soal finishing, tetapi juga keberanian untuk membawa pertandingan mengarah pada peluang-peluang paling menentukan.
Setelah langkah awal yang positif di Spanyol, Gordon membawa dampak yang sama di level klub. Di La Liga, ia sudah mengumpulkan lima assist, sehingga “momentum” yang dibangun bersama timnas tampak sinkron dengan yang ia tunjukkan dalam kompetisi domestik.
Di bawah sorotan Kane: “He’s getting there”
Kane menilai Gordon terus naik kelas dan semakin kuat dalam mempertahankan posisi. Saat ditanya apakah Gordon sudah termasuk nama yang pertama kali masuk daftar susunan pemain, Kane menjawab: “He’s getting there. He’s defending his shirt, he’s defending his position – an excellent performance again after his performance against Spain.”
Kane menambahkan rincian yang membuat pujiannya terdengar spesifik, bukan sekadar sanjungan. Ia mengatakan: “He was very decisive [against the Czech Republic] and had an excellent goal. It was very, very difficult but the technique and finishing was excellent.”
Dalam penjelasannya, Kane menekankan bahwa keputusan di depan gawang dan keteguhan menjalankan peran defensif menjadi alasan Gordon terlihat “dipasang” pada level tertinggi. Kane melanjutkan: “He scored against Spain so he has decisive actions and he’s defending his shirt and his position. He does it on the highest level and he’s a very important player.”
Di laga melawan Republik Ceko, Gordon juga mampu berkolaborasi dengan rekan-rekan yang mendukung struktur permainan Inggris. Ia terhubung dengan bek kiri Lewis Hall, sementara kontribusi dari sektor kanan datang dari Trent Alexander-Arnold—yang menjadi starter pertama untuk Three Lions hampir dalam dua tahun terakhir—sehingga gol pembuka lahir dari kombinasi yang rapi dan terukur.
Alexander-Arnold mengungkapkan rasa puasnya dapat terlibat dalam proses tersebut. Ia menyebut Gordon sebagai figur yang mudah diajak bermain: “It’s a great compliment and it’s great to play with him,” lalu menambahkan, “I tried to get the ball, and try and see what the best play is and try and play forward and create something. And I was able to get the pass.”
Bagi Gordon, kehadiran Alexander-Arnold terasa seperti pasangan yang tepat. Ia mengatakan dirinya “dying” untuk bisa segera terhubung dengan pemain yang juga bermain di Spanyol bersama rival Barcelona, Real Madrid—sebuah pengakuan bahwa hubungan permainan itu sudah ia bayangkan sejak lama.
Berita Terkait
Ukuran peran: metrik peluang dan kontribusi
Selain keputusan taktikal, ada data yang mendukung klaim bahwa Gordon sedang berada pada fase yang paling tajam. Sejak awal babak knockout Piala Dunia, ia berada di peringkat setidaknya empat besar pemain Inggris untuk expected assists (0.9), expected goals (0.9), passes into the box (14), touches in the opposition box (29), chances created (eight), dan shots on target (five).
Catatan itu juga selaras dengan nilai kontribusinya yang tampak seimbang antara gol dan assist. Gordon menyumbang total gol dan assist yang sama, yakni enam, seperti yang ditorehkan Bellingham sejak Inggris menghadapi DR Congo. Dalam konteks tim yang mengandalkan detail kecil untuk memenangkan laga, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa Gordon tidak sekadar “terlihat bagus”, tetapi benar-benar menambah hasil.
Barcelona, persaingan sisi kiri, dan perubahan cara orang menilai
Perjalanan Gordon menuju posisi “main men” tidak selalu mulus. Dalam dua tahun terakhir, beberapa nama juga menjadi opsi di sisi kiri Inggris, seperti Marcus Rashford, Eberechi Eze, Phil Foden, dan Noni Madueke. Gordon mulai menonjol secara jelas pada masa Lee Carsley sebagai pelatih interim, tetapi ia sendiri pernah mengakui pada Oktober lalu bahwa ia baru menunjukkan “50%” dari apa yang bisa ia lakukan untuk Inggris.
Kini, bagian yang “belum terlihat” itu tampaknya mulai terwujud. Melawan Republik Ceko, Gordon melakukan empat percobaan—yang terbanyak untuk Inggris pada laga tersebut, dan bahkan lebih tinggi dibanding jumlah percobaan rekan-rekannya saat menghadapi Spanyol.
Di sisi lain, perpindahannya ke Barcelona juga membawa cerita yang turut membentuk cara publik menilai dirinya. Rashford sempat menjalani masa pinjaman di Barcelona musim lalu, namun klub Catalan memilih tidak mempermanenkannya. Rashford kemudian kembali ke Manchester United, sementara Barcelona mengeluarkan £69m untuk mendatangkan Gordon dari Newcastle.
Keputusan itu dulu sempat memicu perbincangan. Paul Robinson, mantan penjaga gawang Inggris, mengutarakan penilaian yang terdengar tajam saat berbicara di BBC Radio 5 Live: “People raised eyebrows when Anthony Gordon went to Barcelona for the money that he did and Marcus Rashford came back to Manchester United.”
Robinson lalu menjelaskan alasan ia kini melihat perubahan peran Gordon: “He has become a key part of the England team.” Ia menambahkan detail yang menggambarkan dampak di turnamen besar: “There were certain games in the World Cup where he was substituted and he shouldn’t have been – I think others should have come off instead of him.”
Dalam penilaiannya, kemampuan Gordon saat berlari dengan percaya diri menjadi pemicu masalah untuk lawan: “Gordon [when he is] full of confidence running at pace like he does, he can go either way and he’s causing full-backs all kind of problems.”
Gordon sendiri menyebut bahwa sejak bergabung ke Spanyol, ia merasakan pergeseran cara orang melihat dirinya. Ia menilai bahwa di Inggris, apresiasi banyak tertuju pada aspek cepat dan agresif, tetapi kualitas teknik serta kecerdasan di balik keputusan permainan sering kurang mendapat pengakuan. Gordon berkata kepada ITV: “I always felt in England, people respected me because I was fast and I pressed but they never actually respected the quality and IQ that I play with.”
Ia menambahkan bahwa hanya rekan satu tim yang benar-benar memahami bagian itu. Gordon berkata: “Only the players I play with ever seem to notice that.” Namun, ia merasa semua itu kini lebih terbaca di Barcelona, karena gaya dan kebutuhan permainan membuat kualitas teknis lebih menonjol: “I think now I’m at Barcelona and I play a different style, those qualities are highlighted much more and people are actually starting to take notice that I’m not just quick.”
Ia menegaskan perbedaan persepsi yang ia rasakan. “In England, it was never really respected because people just see me as really quick and really aggressive. In Spain, they really appreciate my IQ and quality because at Barca, if you’re not technical, if you’re not smart, you’re going to stand out like a sore thumb.”
Dengan kondisi itu, Gordon tampaknya berada di titik yang dicari Thomas Tuchel: merangkum pemain yang bisa diandalkan dan sulit digeser. Tuchel mulai membangun tim yang ia yakini mampu menantang hingga memenangkan Euro 2028, tetapi prioritas terdekatnya adalah Nations League—dan jika Inggris ingin meraih target tersebut, Gordon diyakini akan menjadi salah satu elemen penting dalam rencana itu.












