jurnalistik.co.id – Ronnie O’Sullivan harus menerima hasil pahit setelah kalah 6-3 dari Chang Bingyu pada semifinal Wuhan Open, Jumat (28 Agustus 2026). Kekalahan itu membuat “The Rocket” gagal melangkah ke partai puncak, sekaligus mengunci Chang sebagai lawan di final.
Sebelum pertandingan ini, O’Sullivan memang datang dengan rangkaian dinamika yang tidak mudah. Ia sebelumnya bangkit di perempat final pada Kamis setelah menghadapi Mark Selby—pemenang China Open—dan akhirnya menang 5-3.
Namun, di Wuhan kali ini, perlawanan O’Sullivan tidak cukup untuk membalikkan keadaan. Ia tertinggal sejak awal, kalah dua frame pertama, sebelum berhasil menyamakan kedudukan 2-2 saat jeda sesi tengah.
Ketika permainan dilanjutkan, Chang mengambil alih ritme. Ia meraih dua frame beruntun sehingga unggul 4-2, dan jarak tersebut terasa semakin berat bagi O’Sullivan untuk dikejar.
O’Sullivan sempat memperkecil skor. Meski begitu, Chang kembali menjadi penentu melalui momen-momen penting di fase berikutnya.
Dalam rangkaian frame setelah skor 4-2, Chang memastikan tiket final lewat dua break kunci dari lawannya yang tak bisa teratasi sepenuhnya. Yang tercatat adalah break 69 dan 48 yang datang di frame-frame berikutnya, membawa Chang keluar sebagai pemenang.
Dengan hasil 6-3 itu, Chang juga mencatat kemenangan pertamanya atas O’Sullivan. Ia menegaskan bahwa menghadapi Ronnie selalu memberikan pengalaman tersendiri, sekaligus mengaku mampu memanfaatkan peluang yang muncul.
Chang, yang berusia 24 tahun, menyatakan bahwa bertanding melawan O’Sullivan adalah hal yang menyenangkan baginya. Ia juga menilai O’Sullivan mungkin tidak berada dalam kondisi terbaik hari itu, tetapi Chang tetap berhasil mengambil kesempatan yang datang.
Berita Terkait
Di sisi lain, O’Sullivan tidak hanya bicara tentang jalannya pertandingan, melainkan juga mengenai kondisi mentalnya. Ia mengungkapkan bahwa ia tidak ingin “menyerah begitu saja” setelah kekalahan ini, sembari menilai perjuangannya saat ini belum benar-benar selesai.
O’Sullivan menyebut, “The disease came back big time today,” lalu menambahkan, “If I’m honest I don’t think I will ever get over it.” Pernyataan itu datang dari refleksinya tentang pergulatan panjang yang selama ini ia jalani.
Ia juga menjelaskan bahwa ia berupaya memprioritaskan kesehatan mental dalam beberapa tahun terakhir. Langkah yang ia ambil mencakup menarik diri dari sejumlah turnamen serta membuka pembicaraan mengenai depresi dan kecemasan.
Dalam wawancara di ajang ranking yang sama, O’Sullivan menyatakan rencananya ke depan. Ia mengatakan akan menjalani 18 bulan berikutnya dan melihat perkembangannya, seraya menegaskan bahwa ia belum ingin menjatuhkan handuk.
Ia menyebut telah berkomitmen untuk bermain sampai periode tersebut. Ia juga menegaskan keinginannya memberi kesempatan bagi dirinya, karena ia tidak ingin mengakhiri karier dengan penampilan seperti yang membuatnya kecewa belakangan ini.
Catatan lain yang menambah beban psikologis bagi O’Sullivan adalah rentang tanpa gelar event ranking. Ia belum meraih kemenangan di level ranking selama lebih dari dua tahun, dan rekor terakhirnya tercatat sejak Januari 2024.
Sementara itu, perjalanan Chang menuju final akan bertemu dengan Zhao Xintong. Zhao tampil sebagai pemenang lewat duel semifinal yang mempertemukannya dengan Xiao Guodong, sekaligus memastikan Chang menantang pemain yang kini berstatus nomor satu dunia baru.
Dalam pertandingan Zhao vs Xiao, Zhao memulai dengan dua frame pertama sebelum akhirnya disamakan menjadi 2-2. Namun, setelah itu ia menampilkan dua half-centuries dan kemudian meraih empat frame berikutnya secara beruntun.
Zhao juga menutup laga dengan sebuah break spektakuler 124, sebelum memastikan kemenangan 6-2. Ia sendiri pernah meraih gelar juara dunia pada 2025, dan kali ini ia melanjutkan momentum untuk menghadirkan final yang dinanti di Wuhan.












