jurnalistik.co.id – Seorang seniman jalanan di Sheffield, Chris Ashmore, membela mural bergambar petenis snooker Ronnie O’Sullivan yang belakangan menuai kritik setelah menjadi viral di media sosial. Ia menegaskan bahwa karya tersebut belum sepenuhnya selesai, sehingga beberapa bagian yang dinilai “janggal” kemungkinan akan dirapikan saat proses lanjutan dilakukan.
Mural itu dipasang di bagian belakang Spot On Snooker Club di Langsett Road. Ashmore dikomisi untuk membuat karya tersebut dengan menampilkan O’Sullivan, yang merupakan juara dunia tujuh kali. Sejumlah warga sekitar mengatakan mereka menyukai hasilnya, tetapi tidak sedikit pula yang menyebut wajah O’Sullivan terlihat tidak seperti yang mereka harapkan.
Di tengah perdebatan publik, Ashmore menyatakan ia terkejut dengan respons online, namun menegaskan bahwa ia hanya menyelesaikan pekerjaan selama dua minggu dari total lima minggu yang ditetapkan. Menurutnya, masih diperlukan “touch-ups” sebelum mural dianggap final. Ia juga menilai cara pengerjaan turut memengaruhi hasil akhir yang kini dipandang oleh banyak orang.
Salah satu kendala yang ia sebutkan adalah posisi kerja dari platform scaffolding yang menghalangi pandangannya. Ashmore mengatakan ia tidak bisa melihat karya dari jarak yang memungkinkan proporsi terlihat utuh seperti yang biasanya ia lakukan. “I usually use a scissor lift, where you can stand back and see things as a whole, but I couldn’t use it as the land is too uneven,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa ketika scaffolding akhirnya diturunkan, respons publik muncul sangat cepat. “When the scaffolding came down, I came away and boom – it’s gone viral.” Dalam tanggapan yang beredar, ada yang menyamakan wajah O’Sullivan pada mural itu dengan figur lain, termasuk yang menyebutnya mirip Michael Jackson atau “a zombie”. Ashmore menyebut ia tidak mudah terpukul oleh kritik, tetapi tetap merasa bahwa sebagian reaksi tidak terasa adil.
“I saw people saying it looks like Michael Jackson or a zombie. I’ve got thick skin, I’ll be OK, but it didn’t feel fair.”
Warga yang tinggal di sekitar klub snooker dan kolam renang itu menyampaikan penilaian yang beragam. Gillian Jones mengatakan ia menyukai mural tersebut dan merasa karya itu “brightened her day”. Sementara Glen Bridock mengaku dirinya “a fan of the Rocket” dan menilai desainnya “brilliant”.
Berita Terkait
Namun, Frank Short membuat penilaian yang lebih tajam: ia mengakui “the artwork is ok but the eyes are all wrong. It looks like he’s taken something”. Shaun Spalding juga menyebut karya itu “shocking” dan menyatakan, “His eyes are all wrong, his teeth are wrong, it just don’t look like Ronnie. It looks like somebody who’s got a skeletal face.”
Manajer klub dan batas antara kritik serta serangan pribadi
Dan Kirkland, manajer Spot On, ikut mempertahankan Ashmore. Ia menyatakan bahwa ada bagian wajah yang memang perlu disesuaikan, terutama di sekitar area mata dan mulut. Menurutnya, perubahan yang relatif kecil bisa memberi perbedaan besar pada kemiripan wajah.
“Yes, we’ve seen what you’ve seen. There are parts of the face that need tweaking, particularly around the eye and mouth. Some relatively small changes will make a huge difference, so we’ll arrange whatever access Chris needs.”
Kirkland juga menegaskan bahwa yang membuat pihak klub tidak nyaman bukan hanya perbedaan selera terhadap sebuah karya seni, tetapi ketika respons publik berubah menjadi serangan personal terhadap kreator. “What has upset us is seeing some of the reactions becoming personal towards Chris. People are absolutely entitled to like or dislike a mural. But having an opinion about a piece of artwork is one thing. Slagging off the person who created it is another.”
Dalam penjelasannya, Ashmore menyebut ia sebenarnya sejak awal berniat menyelesaikan pekerjaan dengan bantuan cherry picker agar proses perampungan bisa dilakukan dari sudut pandang yang tepat. Ia juga mengatakan dirinya tidak ingin dipaksa “rushing” hanya karena komplain yang muncul di media sosial.
Ashmore menekankan bahwa karya itu memang belum final: “It’s not finished, there’s bits of skin tone to do and I’ll finish it off as and when I can. I’m not just going to rush it in three days because people have complained on social media. I want to do it properly in my own time.”
Dengan demikian, perdebatan yang mewarnai mural di Langsett Road tidak berhenti pada soal selera, melainkan juga pada tahapan penyelesaian. Bagi Ashmore dan manajemen klub, inti persoalannya sederhana: viralitas memang terjadi cepat, tetapi proses artistik tidak bisa dipersingkat tanpa mengorbankan kualitas yang dianggap perlu untuk membuat mural benar-benar selesai.












