Olahraga

Tottenham 0-2 Newcastle: Roberto de Zerbi ‘no panic’ namun aib lama Spurs kembali menghantui

×

Tottenham 0-2 Newcastle: Roberto de Zerbi ‘no panic’ namun aib lama Spurs kembali menghantui

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tottenham 0-2 Newcastle: Roberto de Zerbi not panicking but old failings haunt Spurs

jurnalistik.co.id – Kekalahan kedua Tottenham dalam dua laga membuat mereka kembali terjebak di dasar klasemen Premier League. Minggu ini, Newcastle menang 2-0 setelah mencetak gol melalui Anthony Elanga dan Yoane Wissa dalam rentang sekitar 10 menit di babak kedua.

Di Stadion, banyak pendukung Spurs memilih meninggalkan tempat lebih awal, menyusul performa yang dinilai tak kunjung memberi hasil. Situasi ini terasa semakin pahit karena Tottenham kini masih bermasalah untuk menemukan ritme yang stabil di liga.

Roberto de Zerbi menanggapi hasil tersebut dengan nada menahan emosi. Ia mengatakan “not angry” dan menegaskan “no panic” meski timnya tetap harus menerima kekalahan.

“We can improve in the defensive phases but today was an unfair result,” ujar De Zerbi. Ia juga menyebut kekecewaan yang ia rasakan terhadap hasil pertandingan, namun menilai sampai gol pertama bersarang, Tottenham sebenarnya bermain lebih baik dibanding Newcastle.

De Zerbi menambahkan bahwa ketidakpuasan juga diarahkan pada fans. “Disappointed for the result and [for] our fans. We are working to be a great team. When we become a team, we can change the story of the last two seasons for Tottenham .”

Namun, di balik optimisme tersebut, cerita lama Spurs kembali muncul. Klub menghadapi sorotan setelah hanya meraih tiga kemenangan kandang liga dari 23 pertandingan terakhir di stadion mereka sendiri.

Musim ini juga membawa ekspektasi yang berbeda. Di tengah pengeluaran lebih dari £300m pada bursa transfer, Spurs seharusnya bisa menanjak, apalagi setelah dua musim lalu meraih Europa League dan pada bulan Maret sempat berada di babak 16 besar Champions League.

Nyatanya, hasil di Premier League berjalan berbanding terbalik dengan harapan. Mereka “played two, lost two, scored none,” dan kini menempati urutan 20 dari 20 tim, sebuah posisi yang membuat tekanan semakin terasa.

De Zerbi minta tim tetap tenang

Pelatih asal Italia itu menutup evaluasinya dengan pesan agar fokus pada perbaikan. “Forget the result,” tegasnya. “I am not angry, we are working well and were unlucky today with the result. There is no panic. I know where we are going and what the plan is.”

De Zerbi meminta dukungan agar klub bergerak dengan rencana yang jelas. “We are working to be a great team. We have to improve. We have to work hard on the pitch and find the connection between the players.”

Menurutnya, hubungan antarpemain dan proses membangun tim adalah kunci yang harus segera dirapikan. Ia juga mengisyaratkan bahwa perubahan besar memang membutuhkan waktu, terutama untuk menyatukan gaya dan keputusan di lapangan.

Rekonstruksi skuad: belanja besar, adaptasi belum selesai

Tottenham mencoba menghindari jebakan perebutan zona degradasi seperti yang sempat mereka alami. Pada musim sebelumnya, mereka berhasil bertahan setelah mengalahkan Everton di laga terakhir untuk memastikan posisi aman.

Namun, musim ini tetap dimulai dengan tanda tanya besar. Setelah kekalahan 3-0 dari Brentford pekan lalu, Spurs kembali menuai kekecewaan, kali ini dari Newcastle.

Bursa transfer membawa sederet wajah baru. Mateus Fernandes didatangkan dari West Ham, Sandro Tonali dari Newcastle, dengan biaya £85m dan £100m. Jan Paul van Hecke tiba dari Brighton seharga £52m, sementara Savio didatangkan dari Manchester City dengan nilai £75m, meski ia absen pada laga Sabtu karena “muscle fatigue”.

Perubahan juga mencakup transfer bebas: Marcos Senesi dan Andy Robertson bergabung, begitu pula kiper Martin Dubravka. Di lini depan, Omar Marmoush menjalani debut melawan Newcastle setelah sebelumnya dipinjam dari Manchester City, dengan kesepakatan yang akan menjadi permanen bernilai £60m pada musim panas berikutnya.

Di lapangan, Spurs mendapat kesulitan mengubah peluang menjadi gol. Dalam laga melawan Newcastle, tim asuhan De Zerbi gagal mengonversi satu pun dari 17 upaya mereka, dengan enam yang mengarah tepat sasaran—sementara Newcastle mencetak gol dari dua percobaan mereka yang tepat sasaran.

Pandangan mantan penjaga gawang: masalah lama belum hilang

Mantan kiper Tottenham dan timnas Inggris, Joe Hart, menilai performa Spurs membuat frustrasi meningkat. Ia menyoroti situasi di tribun dan menyebut fans akan bertanya-tanya tentang arah yang ingin dicapai.

Hart juga membandingkan transformasi yang dialami Newcastle dan Tottenham. Ia menyatakan bahwa ketika melihat Newcastle yang telah menjalani perubahan besar di musim panas—bahkan dengan perubahan yang lebih sulit—tampak jelas apa yang ingin dilakukan pelatih mereka, Matthias Jaissle, karena para pemain terlihat “flying”.

Menurut Hart, yang menjadi perhatian untuk Spurs adalah mereka tidak bisa menunjukkan hal serupa. Ia menilai perubahan pemain yang banyak tidak mudah untuk segera “bed in,” terlebih di bawah tekanan yang intens.

Hart menambahkan bahwa Spurs tidak semata-mata jatuh dalam satu malam. “They’ve not just suddenly fallen off a cliff, they’ve been struggling in the league for a while,” katanya, sambil menegaskan kebutuhan agar pemain baru cepat menemukan ritme.

Ia juga menyebut Premier League berjalan begitu cepat sehingga De Zerbi harus memastikan pemain-pemainnya tidak terus-menerus “second-guessing everything”. Dalam penilaiannya, terlalu sedikit yang benar-benar menemukan cara untuk memperbaiki masalah di klub, sehingga prosesnya tidak instan.

Rob Green, yang berbicara untuk BBC Radio 5 Live, menguatkan kritik itu dari sisi kreativitas. Ia menyebut Lukas Hornicek sempat membuat beberapa penyelamatan di babak pertama, tetapi Tottenham kekurangan “invention, creation, goals.”

Green mengatakan pertanyaan yang sama dari musim lalu masih terasa di musim ini. “Performances like this will indicate that they need a vast improvement from this set of players that have come into this club. They will need the characters as much as anything to turn this around,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perubahan psikologis di tribun bisa cepat memengaruhi pemain. “It doesn’t take much for these Spurs fans to turn and the belief start to drain from the players.”

Bursa transfer belum selesai

Menjelang penutupan bursa transfer, De Zerbi masih mencari tambahan amunisi. Ia mengatakan pada Jumat bahwa ia tetap berusaha mendapatkan “one player more in one specific position.”

Setelah laga melawan Newcastle, ia ditanya mengenai kemungkinan kepergian Kevin Danso, Pape Matar Sarr, dan Richarlison—tiga nama yang sebelumnya dikaitkan dengan kemungkinan pindah.

De Zerbi menjawab dengan menekankan kondisi hubungan internal. “I have very good relationships but if they want to leave, they have to bring the solution, the economic solution, to the club, and they can go,” katanya.

De Zerbi sendiri baru ditunjuk pada akhir Maret. Dalam tujuh pertandingan, ia mengumpulkan 11 poin untuk menjaga Tottenham tetap bertahan, tetapi ia menegaskan bahwa memperbaiki masalah tidak bisa instan.

“We have to improve and to change two seasons like the last two is impossible in 10 days and with people in the transfer market,” ujarnya. “We have to work hard on the pitch and find the connection with the players because last season before the end of the season we were in the Championship and we stayed up together.”

Ia menutup dengan tekad untuk menjaga fokus pada peningkatan. “Now we have to keep calm and focus on improvement. We have a great squad and great players.”