Olahraga

WXV Global Series: Hasil imbang Inggris vs Kanada jadi modal “greater things to come” bagi Red Roses—John Mitchell

×

WXV Global Series: Hasil imbang Inggris vs Kanada jadi modal “greater things to come” bagi Red Roses—John Mitchell

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: WXV Global Series: England's draw with Canada can help Red Roses to greater things - John Mitchell

jurnalistik.co.id – Hasil imbang Inggris kontra Kanada pada WXV Global Series menjadi bahan refleksi sekaligus pijakan baru bagi Red Roses, menurut pelatih John Mitchell. Meski pertandingan berakhir 26-26, Mitchell menilai laga itu menyimpan “greater things to come” untuk tahap berikutnya.

Mitchell menggarisbawahi bahwa hasil seri tidak otomatis membatalkan fondasi permainan yang sedang dibangun. “It was just a matter of scoring across the white line,” ucapnya, menilai tim sudah memberi tekanan besar, tetapi tidak mampu mengubahnya menjadi poin.

Secara statistik, pertandingan Sabtu itu menghentikan rangkaian kemenangan beruntun Inggris. Sebelum laga tersebut, mereka meraih kemenangan pada 39 Test sebelumnya, sementara Kanada—yang sebelumnya selalu kalah dalam 13 pertemuan terakhir di kandang Inggris—akhirnya mampu menahan tuan rumah dengan skor sama kuat.

Laga di Sandy Park, Exeter, berlangsung ketat dan sarat adu fisik. Inggris tetap memperpanjang napas tanpa kalah menjadi 40 pertandingan, sebuah rekor yang ingin mereka lanjutkan pada rangkaian WXV Global Series berikutnya.

Dalam penilaian Mitchell, seri justru memberi penguatan terhadap tujuan jangka panjang tim. “We were applying huge pressure. We just didn’t convert,” katanya, lalu menambahkan sikap realistisnya soal proses. “There will be greater things come as a result of this. There’s a greater purpose and one Test match is not going to take us away from our purpose.”

Red Roses dipandang tetap berada dalam ritme perkembangan karena ini hanya laga pembuka dalam rangkaian Test yang lebih panjang. Mitchell menyebut timnya masih “starting” dalam seri ini, dan karena itu ia memilih kesabaran dalam membaca hasil pertandingan. “I’m very patient because we’re just starting and we’re still alive in this Test series,” ujarnya.

Sepuluh menit pertama pertandingan bahkan disebut mengikuti pola yang pernah terjadi pada final Piala Dunia tahun lalu antara kedua tim. Kanada lebih dulu mematahkan kebuntuan, lalu Inggris langsung membalas, tetapi kali ini kontrol permainan tidak bisa dipertahankan dengan cara yang sama seperti pertemuan terakhir yang berakhir kemenangan 33-13 pada September lalu.

Perbedaan pentingnya terletak pada ketidakmampuan Inggris mengunci skor ketika momentum sedang berada di tangan mereka. Kedua tim tak pernah terpisah lebih dari satu try, sementara Inggris kesulitan mengonversi tekanan yang mereka bangun selama kurang lebih 20 menit menjadi poin penentu.

Kapten Meg Jones memandang pertandingan itu sebagai tontonan yang intens sekaligus kompetitif. Ia menilai duel berjalan “tit for tat” dan perubahannya terjadi lewat ayunan momentum. “It was definitely tit for tat and definitely a game of momentum swinging,” kata Jones, menambahkan, “It was two good teams going at each other.”

Jones juga menyatakan permainan yang ditampilkan selaras dengan ekspektasi mereka sejak awal musim. “It was an amazing contest and competitive as we imagined,” ujarnya, lalu menegaskan bahwa ini baru Test pertama dan mereka masih memiliki kesempatan berikutnya. “This is the first Test. We get another two shots at it [against Canada].”

Mitchell menempatkan hasil imbang dalam konteks seri yang sedang mereka jalani. “We’re in a Test series. It’s 1-1. That’s it,” katanya, menegaskan bahwa fokus tim tetap bergerak sesuai rencana pertandingan berikutnya.

Setelah rangkaian kemenangan yang panjang, Inggris memang menghadapi kenyataan baru: pola konsistensi mereka tidak otomatis berlanjut tanpa penyesuaian. Namun bagi Jones, catatan kemenangan sebelumnya bukan sekadar pencapaian yang diperbincangkan, melainkan hasil dari cara kerja tim sehari-hari.

Rangkaian kemenangan Inggris sepanjang 39 pertandingan bermula ketika Simon Middleton menjabat sebagai pelatih kepala. Setelah kekalahan pada final Piala Dunia 2022, Middleton membawa Red Roses meraih Women’s Six Nations Grand Slam pada 2023, sebelum Mitchell mengambil alih pada pertengahan kampanye WXV1 2023.

Mitchell kemudian menjadi nakhoda yang memenangi setiap laga hingga pertandingan kontra Kanada ini. Inggris juga memperpanjang rekor lewat kemenangan atas Skotlandia pada perempat final Piala Dunia tahun lalu, yang memberi mereka kemenangan beruntun Test ke-31 dan melampaui rekor sebelumnya dalam periode lintas cabang pria-wanita yang dibuat pada 2022.

Keberhasilan di Piala Dunia, tambahan gelar Women’s Six Nations, serta kemenangan atas Australia pada akhir pekan sebelumnya membuat rekor itu makin melebar. Mengenai rangkaian tersebut, Jones menegaskan bahwa tim lebih banyak dipandu oleh proses ketimbang berbicara soal hasil. “It’s not necessarily something we speak about as a group; it’s something that’s just been there,” ujarnya, kemudian menambahkan, “We’re very process-driven, so the outcome tends to look after itself.”

Ke depan, Inggris masih menunggu beberapa laga penting: mereka akan menghadapi New Zealand dalam pertandingan WXV Global Series, lalu menjalani dua pertemuan lagi melawan Kanada, serta satu laga tambahan melawan Amerika Serikat. Mitchell dan tim berharap dorongan dari hasil 26-26—meski mengakhiri kemenangan beruntun—akan menjadi energi untuk meningkatkan konversi dan mengelola permainan pada kesempatan berikutnya.