jurnalistik.co.id – Brighton & Hove Albion merayakan ulang tahun ke-125 dengan cara yang nyaris sempurna: laga kandang kontra Arsenal berubah menjadi pesta yang mengunci kemenangan telak.
Di Amex Stadium, The Seagulls tampil dengan kostum peringatan yang dibuat khusus dan langsung menunjukkan intensitas sejak awal.
Target mereka sebenarnya sederhana—merawat momen perayaan—namun kenyataannya lebih besar dari itu, karena Brighton menghancurkan juara bertahan Premier League dengan skor 3-0.
Di depan 31.944 penonton, Brighton meraih kemenangan paling meyakinkan dalam pertandingan tersebut, dan suasana di stadion mulai bersemi jauh sebelum peluit akhir berbunyi.
Pascal Groß menjadi pembuka keunggulan dengan gol pertamanya untuk mematikan perlawanan awal Arsenal.
Menjelang jeda, Charalampos Kostoulas menambah keunggulan saat waktu tersisa mepet di akhir babak pertama.
Setelah turun minum, Chema Andrés menyelesaikan babak kedua dengan sundulan yang membuat kedudukan semakin tak terkejar.
Peluang demi peluang sebenarnya masih terbuka untuk menambah pundi-pundi, tetapi tiga gol sudah cukup menggambarkan betapa solidnya permainan Brighton pada hari yang mereka tunggu sejak lama.
Pelatih Fabian Hurzeler menilai kemenangan itu spesial bukan semata-mata karena lawan yang dihadapi, melainkan kualitas performa yang ditunjukkan tim.
“It was a special one, not only because we played against maybe the best team in England but because of the performance,” ujarnya, seperti dikutip dari BBC Match of the Day.
Hurzeler menambahkan, Brighton memulai pertandingan dengan intensitas tinggi, memenangkan duel-duel personal, bermain rapi dalam penguasaan bola, serta mampu menciptakan peluang.
“The boys started really intense, they won their personal duels, played good in possession and created chances,” kata Hurzeler.
Ia juga menyampaikan kebanggaannya terhadap tim dan berharap para pemain menikmati momen seperti ini.
“I’m really proud of my team, hopefully they enjoy it today because these kind of moments are important to enjoy,” tuturnya.
Dari “hampir terlupakan” menuju Eropa
Perayaan hari jadi ke-125 Brighton terasa semakin bermakna karena cerita besar klub itu memang dibangun dari perjalanan yang panjang.
Beberapa tahun lalu, Brighton juga pernah berada dalam fase “near oblivion to Europe”—dari masa yang serba sulit hingga akhirnya bersaing di kancah Eropa.
Dalam konteks itu, wawasan mengenai perjalanan klub tampak jelas saat mereka menjalani laga Europa League melawan Ajax di Amsterdam.
Pada Kamis, 9 November 2023, Roberto de Zerbi berbicara kepada para pemain di Amsterdam Arena menjelang pertandingan.
Ia menyebut, ada sekitar 3.000 pendukung Brighton di stadion pada malam itu.
“But there’s more than twice that number in the city who have travelled over,” kata De Zerbi, mengingatkan tim bahwa dukungan datang juga dari luar arena.
Di ruang ganti, ada sosok senior yang telah lama mengabdi untuk klub, bukan sekadar suporter biasa.
Ia memandang momen tersebut seperti “pinch-me moment”, karena bertemu dengan atmosfer sepak bola Eropa dalam perjalanan yang selama ini diperjuangkan.
“It made the hairs on the back of my neck stand up,” katanya, menegaskan bagaimana pertemuan dengan level sepak bola tertinggi terasa begitu nyata.
“The royalty of European football,” ujarnya, karena dari tempat mereka berasal hingga bisa berada di lingkungan seperti itu adalah lompatan besar.
Brighton kala itu menang 2-0, menjadi puncak penting dalam kampanye Eropa pertama di sejarah klub.
Paul Samrah menggambarkan momen paling berkesan sebagai suporter dengan sudut pandang yang berbeda, sekaligus menyentuh inti mengapa Brighton terasa unik di antara klub-klub Inggris.
Ia bercerita tentang masa setelah bertahun-tahun perjuangan—mulai dari kampanye hingga perebutan keputusan untuk stadion—hingga akhirnya mendengar izin perencanaan sudah didapat.
“After the years of campaigning, the days and nights I spent fighting for regime change and then for the stadium, the moment I heard we’d actually got planning permission, that our objectors had decided not to continue their fruitless efforts to stop the stadium,” jelas Samrah.
Ia merangkum fase perjuangan itu dengan kalimat tegas: “We’d won our battle.”
Jejak sejarah: perubahan stadion hingga kepemimpinan
Sejarah Brighton bermula dari klub yang dibentuk pada 1901. Setelah menjadi klub Southern League selama hampir dua dekade, mereka akhirnya mendapat pengakuan untuk bergabung dengan Football League.
Perjalanan mereka melewati berbagai fase, termasuk hanya menjalani tujuh musim di Division Two sebelum promosi ke kasta teratas untuk pertama kalinya pada 1979.
Di luar Sussex, nama Brighton sempat identik dengan momen ikonik “And Smith must score…”, komentar radio BBC yang disampaikan Peter Jones pada final Piala FA 1983.
Pada momen krusial itu, Gordon Smith yang berada dalam posisi jelas untuk mencetak gol pertama Brighton justru melihat tembakannya ditepis oleh penjaga gawang Manchester United, Gary Bailey.
Manchester United kemudian menang pada laga replay.
Namun pada 1995, kursi kepemimpinan berubah lagi karena ketua Bill Archer menjual Goldstone Ground, kandang klub sejak 1902, akibat utang yang terus meningkat dan tak terlihat jalan keluarnya.
Menurut cerita yang disampaikan, keputusan itu tidak melibatkan konsultasi dengan fans dan tidak disiapkan stadion alternatif.
Berita Terkait
Brighton baru benar-benar meninggalkan Goldstone pada 1997, meski musim terakhir mereka di sana sempat dipastikan lebih awal.
Musim 1995-96 bahkan harus berhenti karena ribuan suporter membludak ke lapangan sebagai bentuk protes terhadap kepemilikan stadion, sampai kedua mistar gawang mengalami kerusakan.
Setelah itu, klub menjalani dua musim bermain sekitar 70 mil dari lokasi asal mereka di Gillingham.
Dengan gagasan stadion baru di area Toad’s Hole Valley yang ternyata tidak berjalan, Brighton kembali ke kota pada 1999 dan memulai era bermain di Withdean Stadium.
Stadion tersebut dikenal karena menjadi rumah bagi lintasan atletik, termasuk milik Steve Ovett, peraih medali emas Olimpiade nomor jarak menengah.
Jika kembali ke malam Ajax, Samrah menyoroti perbedaan ukuran dukungan era modern: saat mereka bermain di Amsterdam, Brighton memiliki lebih dari 7.000 pendukung.
Sementara kapasitas Withdean saat itu hanya 6.000, membuat perbandingan terasa semakin “menggetarkan” bagi siapa pun yang merasakan perubahan klub.
Samrah juga menilai setelah final Piala FA 1983, pemain-pemain dijual, tidak ada investasi, Goldstone menua, dan jumlah penonton menurun.
Ia menegaskan tidak ada komunikasi yang baik antara papan direksi dan fans, sementara perubahan orang di kursi pimpinan terjadi tanpa kesinambungan.
“There was no communication between board and fans, directors came and went,” katanya, sebelum merangkum keadaan itu sebagai kondisi tanpa arah.
“There was no continuity, no leadership, no direction. We were just rudderless,” tambah Samrah.
Tokoh kunci dan peran Tony Bloom
Dalam perjalanan tersebut, sejumlah figur berperan besar, termasuk David Davies yang pernah menjadi eksekutif Football Association.
Tidak hanya itu, nama John Prescott juga disebut karena membalikkan aplikasi perencanaan yang sebelumnya ditolak untuk stadion Falmer.
Di sisi lain, Dick Knight disebut berhasil menstabilkan klub ketika pada 1997 Brighton hampir terdegradasi dari Football League, hanya berselisih 27 menit dari nasib yang berbeda.
Tanpa tiga figur tersebut, Brighton seperti yang dikenal sekarang bisa jadi tidak akan hadir.
Perubahan signifikan lain datang ketika Tony Bloom mengambil peran sebagai pemilik dan ketua klub.
Bloom, yang lahir di Brighton dan merupakan fan seumur hidup, terhubung dengan klub melalui kakeknya Harry—mantan wakil ketua—serta paman Ray, yang juga merupakan direktur.
Pada usia 56 tahun, Bloom dikenal sebagai entrepreneur yang mengumpulkan kekayaannya di bidang keuangan dan perjudian, terutama melalui penggunaan data.
Ia menjadi ketua pada 2009, lalu menandai era kebangkitan Brighton dari League One hingga akhirnya pindah ke American Express Stadium.
Catatan musim terakhir menunjukkan rata-rata kehadiran penonton Brighton lebih dari 31.000 orang, angka yang sekaligus menandai betapa kuatnya daya tarik klub saat ini.
Mike Cave, direktur olahraga Brighton, menggambarkan perubahan itu sebagai perjalanan yang tidak biasa.
“Anyone walking into Brighton today compared to even 15 years ago would not think it was the same football club,” katanya.
Ia menambahkan, klub menjalani perjalanan yang luar biasa, dengan staf dan banyak fans yang ikut mengantar perubahan itu.
“For those of us who weren’t here 15 years ago, our responsibility is to ensure what’s to come… is better than what’s happened in the recent or long-distance past,” ujar Cave.
Bloom sendiri menyinggung ulang tahun ke-125 dalam program pertandingan melawan Arsenal, menempatkan klub sebagai bagian dari identitas kota dan wilayah Sussex yang lebih luas sejak 1901.
“It has connected generations of families and communities,” katanya, menyebut bagaimana kakek-nenek membawa anak dan cucu ke pertandingan.
Ia juga menekankan bahwa persahabatan yang terjalin seumur hidup lahir dari tribun, stadion tandang, dan perjalanan yang selalu diingat.
Bloom mengaitkan masa-masa sulit dengan perjalanan Brighton: kehilangan Goldstone, perjalanan panjang ke Gillingham, serta tantangan era Withdean.
“What got this football club through was the determination of its fans,” tulisnya, termasuk “the bucket collections” serta protes, hingga penolakan untuk menerima bahwa Albion harus hilang.
Ia menutup dengan pengakuan bahwa perayaan ini juga milik para pendukung, karena tanpa mereka klub tidak akan berdiri seperti hari ini.
Brighton modern: Eropa, konsistensi Premier League, dan ambisi berikutnya
Saat ini, Brighton menjalani fase modern yang berbeda dengan masa sebelumnya.
Mereka memulai kampanye Eropa kedua di Tromso bulan lalu, dengan harapan Conference League menjadi jalan untuk meraih trofi pertama yang selama ini belum didapat.
Klub bermain di stadion yang megah, hanya beberapa perjalanan kereta dari pusat kota, dengan area bisnis baru serta suasana keluarga yang inklusif.
Model rekrutmen mereka—membeli pemain dan kemudian menjualnya untuk keuntungan besar—juga kerap menjadi perhatian pihak lain.
Di Premier League, Brighton mengakhiri pekan dengan hasil penting, termasuk mengalahkan Manchester United di Old Trafford untuk kelima kalinya dalam enam kunjungan.
Empat pertandingan memasuki kampanye Premier League ke-10 beruntun, mereka menempati urutan kelima.
Bagi klub yang dulu hampir tidak terdengar, pencapaian ini memperlihatkan bahwa perjalanan tidak berhenti di angka 125, melainkan menjadi pijakan untuk bab berikutnya.












