Olahraga

Kekalahan Arsenal di Brighton: Mikel Arteta sebut pelajaran besar

×

Kekalahan Arsenal di Brighton: Mikel Arteta sebut pelajaran besar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Arsenal defeat at Brighton is a big lesson - Mikel Arteta

jurnalistik.co.id – Arsenal merasakan kekalahan pertamanya di Premier League musim ini setelah kalah 0-3. Kekalahan itu datang di tengah rentang jeda internasional, dan pelatih Mikel Arteta langsung menilai hasil tersebut sebagai “pelajaran besar” yang harus dipahami tim.

Di laga tersebut, The Gunners tidak tampil seperti biasanya dan harus mengakui keunggulan Brighton. Menurut Arteta, kinerja Arsenal jauh dari standar yang selama ini mereka tetapkan, baik saat bertahan maupun dalam upaya mengembangkan permainan.

Arteta menyatakan bahwa Brighton pantas meraih kemenangan. Ia juga menekankan bahwa tim perlu mengambil pelajaran dari cara permainan yang “tidak biasa” itu, sekaligus mempersiapkan diri sebelum kompetisi kembali setelah jeda internasional.

Sejak menangani Arsenal pada 2019, Arteta berulang kali menekankan pentingnya fisik dan intensitas duel. Namun, pada pertandingan lawan Brighton, Arsenal justru kalah dalam banyak momen perebutan bola dan duel yang biasanya sanggup mereka menangkan.

Pelatih asal Spanyol tersebut mengaku sangat kecewa karena tim tidak menjalankan hal-hal dasar yang ia harapkan. Ia menyoroti adanya ketidakpastian di lini belakang, hilangnya kontrol di area tengah, serta kurangnya variasi dan kreativitas saat membangun serangan.

Arteta juga menilai ada pengaruh dari jalannya duel 50-50. Ia menyebut beberapa momen terasa berganti penguasaan, dan pada sebagian besar kejadian, bola justru lebih sering berada di pihak Brighton.

Selain itu, Arteta menyinggung “kesalahan teknis” yang menurutnya membuka Arsenal pada situasi sulit. Baginya, pola semacam itu bukan sekadar kebetulan, melainkan sesuatu yang harus dianalisis agar tidak terulang.

Meski menelan kekalahan, Arteta tetap mengingatkan bahwa musim Arsenal sebelumnya berjalan baik. Ia menggarisbawahi start yang impresif, termasuk rangkaian tujuh kemenangan beruntun pada awal kampanye di semua kompetisi serta sembilan kemenangan beruntun di liga yang berlangsung sejak April.

Dalam konteks itu, kekalahan 0-3 menjadi momen yang lebih menonjol karena Arsenal datang sebagai juara bertahan. Mereka juga disebut-sebut sebagai tim dengan peluang besar untuk mempertahankan gelar yang mereka raih musim lalu, untuk pertama kalinya dalam 22 tahun.

Arteta menjelaskan bahwa banyak pemain Arsenal terlibat di Piala Dunia, sehingga sebagian skuad bergabung untuk pramusim lebih lambat dibanding rekan-rekannya. Ia menilai hal tersebut tidak menghapus apa yang sudah dicapai tim dalam enam atau tujuh pekan terakhir sejak kembali dari turnamen tersebut.

Ia menyebut pencapaian Arsenal melalui cara mereka bertanding dan banyaknya kemenangan sebagai sesuatu yang luar biasa, namun menegaskan bahwa hasil lawan Brighton tetap harus menjadi “pelajaran besar” untuk memahami apa yang diperlukan agar menang di level tertinggi.

Brighton sendiri tampil klinis dan mampu memanfaatkan momen-momen kunci. Tim asuhan Brighton terlihat mendominasi jalannya pertandingan, hingga akhirnya Arsenal harus menelan kekalahan kandang tandang yang menjadi kekalahan liga pertama mereka musim ini.

Menurut catatan yang disebut dalam laporan pertandingan, Brighton menjadi pencetak gol terbanyak di Premier League saat itu, mengoleksi 16 gol. Dari jumlah tersebut, delapan gol tercipta dalam satu pekan terakhir, sehingga serangan mereka terus menjaga ritme saat berhadapan dengan Arsenal.

Arsenal sebelumnya memang punya rekam jejak pertahanan yang kuat. Mereka dikabarkan kebobolan paling sedikit dari seluruh tim pada musim lalu, dan hanya satu gol yang mampu menembus David Raya dalam empat laga liga pertama sebelum kekalahan di akhir pekan tersebut.

Bekas striker Newcastle, Alan Shearer, menilai Brighton tampil sangat dominan. Ia menyebut Brighton “membantai” Arsenal dan menyatakan peluang yang tercipta sebenarnya bisa membuat hasil lebih besar, mengingat kualitas dan keberanian tim dalam menekan sejak awal.

Shearer juga menyoroti bagaimana Brighton mengejar bola. Ia menyebut momen-momen itu dilakukan secara kolektif—sebagai tim—bukan sekadar pekerjaan individu, sehingga tekanan mereka lebih sulit diatasi oleh Arsenal.

Dalam pandangannya, organisasi permainan Brighton juga terlihat rapi. Shearer bahkan menyatakan bahwa hal tersebut tidak terjadi begitu saja dan pantas mendapat apresiasi untuk pelatih Fabian Hurzeler, karena skema dan kedisiplinan tim berjalan konsisten sepanjang pertandingan.

Dari sisi sejarah pertandingan, Arsenal sempat tertinggal dua gol saat turun minum. Sejak Maret 2008 saat menghadapi Bolton, Arsenal disebut belum pernah mampu bangkit untuk menang setelah tertinggal dengan margin sebesar itu dalam laga liga.

Arteta ditanya apakah Arsenal perlu diingatkan tentang betapa sulitnya Premier League. Ia menjawab bahwa tim sebenarnya sudah memahami tantangan tersebut, tetapi menggarisbawahi pentingnya bagian awal pertandingan: jika tidak keluar sebagai pemenang di fase pertama, peluang untuk mendominasi dan meraih hasil menjadi sangat sulit.

Arteta juga menilai kemenangan Brighton menjadi pengakuan bahwa lawan punya “keunggulan” tertentu dibanding Arsenal pada hari itu. Baginya, pada level kompetisi seperti ini, tim harus tetap menghormati lawan dan memahami perbedaan tipis yang bisa menentukan arah pertandingan sejak menit awal.

Pandangan senada datang dari Curtis Davies. Ia menilai hasil ini bisa saja hanya “sekilas” atau blip dalam perjalanan musim Arsenal, terutama karena penampilan pertahanan yang dianggap tidak sesuai dengan standar biasanya.

Davies menyebut kekecewaan akan datang pada aspek gol yang kebobolan dari situasi bola mati, serta menilai Arsenal tidak mampu memberi tekanan yang cukup. Ia menambahkan bahwa The Gunners tidak “menggangu” Brighton sebagaimana mestinya dan tidak menciptakan sesuatu yang berarti pada momen-momen serangan mereka.

Dengan jeda internasional di depan mata, Arsenal kini harus menutup rangkaian ini dengan evaluasi menyeluruh. Di saat kompetisi kembali, pelajaran yang dimaksud Arteta kemungkinan besar akan diuji dalam pertandingan-pertandingan awal berikutnya—apakah tim bisa memperbaiki kontrol, ketegasan dalam duel, dan ketelitian teknis yang gagal mereka tunjukkan saat menghadapi Brighton.