jurnalistik.co.id – Jay Dasilva menjadi pembeda saat Coventry City meraih kemenangan Premier League setelah penantian lebih dari 25 tahun. Golnya tidak hanya mengubah skor, tetapi juga mengakhiri jeda panjang yang selama ini menghantui klub berjuluk Sky Blues di kasta tertinggi Inggris.
Kemenangan itu membawa Coventry menembus angka yang sudah lama bertahan: mereka sebelumnya mandek di 99 kemenangan Premier League selama lebih dari seperempat abad. Setelah hasil ini, catatan mereka akhirnya menyentuh angka tiga digit untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama.
Perjalanan Coventry ke momen seperti ini ternyata tidak singkat. Jeda kemenangan terakhir di level papan atas terjadi pada April 2001, ketika mereka menundukkan Sunderland 1-0 melalui sundulan John Hartson untuk Gordon Strachan, di hadapan 20.946 penonton di Highfield Road.
Pada masa itu, suasana Inggris pun terasa berbeda jauh dari sekarang. BBC menggambarkan bahwa era Hear’Say tengah mendominasi tangga lagu, permainan ponsel “Snake” sedang jadi kegemaran, sementara Tony Blair masih menjabat sebagai Perdana Menteri.
Sejak kemenangan itu, Coventry mengalami perubahan nasib yang nyaris berlapis-lapis. Mereka terdegradasi pada akhir kampanye 2000-01, lalu menghabiskan 11 musim berikutnya di divisi kedua sebelum akhirnya turun ke Liga Satu pada 2012.
Rangkaian periode sulit di klub turut diwarnai potongan poin dan masa administrasi. Setelah meninggalkan Highfield Road pada 2005, Coventry juga terseret perselisihan sengit terkait Ricoh Arena pada 2013, termasuk urusan sewa stadion tersebut.
Titik nadir bahkan datang ketika klub terpaksa memainkan pertandingan di luar Coventry, tepatnya di Northampton Town. Pada 2017, mereka kembali jatuh lebih jauh ke divisi keempat untuk pertama kalinya dalam 59 tahun.
Karena itulah, ledakan emosi di peluit akhir saat gol Dasilva meredakan ketegangan terasa seperti “surga” bagi para pendukung yang pernah menyaksikan tahun-tahun sulit. Secara keseluruhan, kemenangan ini memberi napas baru setelah deretan musim yang penuh tekanan.
Berita Terkait
Jay Dasilva juga menegaskan momentum gol Coventry di Premier League yang sudah lama tak terjadi. Golnya disebut sebagai gol pertama Coventry sejak Mustapha Hadji mencetak gol pada kekalahan 3-2 dari Aston Villa pada 5 Mei 2001.
Pelatih Frank Lampard menilai kemenangan ini datang pada waktu yang penting, terutama mengingat awal kompetisi yang tidak mudah. “It’s been a tough opening for us, so those first Premier League points feel great,” katanya kepada BBC Radio 5 Live.
Lampard menambahkan penilaian yang menekankan bukan hanya hasil, tetapi cara bermain tim. “I thought the players were brilliant. The fight, work ethic and togetherness but also the tactical side of it. They dug and fought for each other which is what you need to win a Premier League game.”
Menurutnya, kemenangan ini juga relevan untuk kebutuhan adaptasi para pemain yang baru merasakan atmosfer Premier League. “It’s really important for some of the players,” ujarnya, “For many of them it is their debut in the Premier League, they haven’t been here before and they need to feel like they belong and play like that.”
Lampard turut mengingatkan bahwa musim Premier League menuntut ketahanan mental. Ia menyebut tim harus “thick skins” untuk melewati proses yang panjang, apalagi kemenangan ini hadir setelah Coventry sebelumnya menderita kekalahan telak 5-0 di kandang dari Brighton.
“There are lots of things we can learn and sometimes this year we may take those hits, it’s a reality for teams that get to the Premier League,” tambah Lampard. “It’s important we overcome them in terms of how we take it on board and stay together.”
Ia juga menekankan persatuan kelompok setelah hasil menang, sambil tetap menjaga pandangan realistis. “It is easy to point in different directions when you lose but the group’s really strong, really together, there’ll have a good feeling from this one. But we’ll keep our feet on the ground because it is one win, but it was needed for us.”
Dengan kemenangan yang baru saja diraih, fokus Coventry berikutnya adalah menjaga ritme agar keluar dari tekanan degradasi. Untuk langkah awal yang sempat tertahan terlalu lama, gol Dasilva menjadi kunci—dan sekaligus tanda bahwa penantian panjang itu akhirnya berakhir.












