jurnalistik.co.id – Muhammad Khumaedi dan Solikhah, pasangan suami-istri di Desa Karangampel, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menemukan seorang bayi perempuan di sofa teras rumah mereka setelah pulang mengaji.
Penemuan itu terjadi pada Selasa, 11 Agustus 2026 malam, sekitar pukul 22.30 WIB. Saat kejadian, pasangan tersebut mengaku berangkat mengaji pukul 19.30 WIB dan pulang sekitar pukul 10.30 WIB.
Menurut keterangan yang disampaikan Khumaedi, saat tiba di depan rumah ia dikejutkan dengan adanya goody bag bertuliskan Djarum yang tergeletak di sofa teras.
Khumaedi menceritakan, “Dibuka istri saya, istri kaget teriak-teriak, itu ada bayi, ada bayi.”
Terus-terangan, respons istri Khumaedi membuat situasi cepat ramai. Teriakan tersebut terdengar oleh warga yang saat itu berada di tempat pemancingan tidak jauh dari rumah mereka.
Di lokasi, puluhan orang kemudian berdatangan. Anak-anak muda yang berkerumun terdengar terus mendekat karena bayi menangis.
Dalam kondisi yang masih membingungkan, Khumaedi lalu menghubungi pihak yang berkompeten. Ia mengatakan sempat mengundang bidan desa setempat serta Kepala Desa Karangampel untuk datang ke lokasi.
Khumaedi menyebut, “Sekitar setengah jam pak lurah ke sini, terus inisiatif dibawa ke RSI.” Dengan arahan itu, bayi kemudian dibawa ke Rumah Sakit Islam (RSI) Kudus untuk penanganan lebih lanjut.
Bayi perempuan tersebut ditemukan dalam kondisi sehat. Pada saat ditemukan, tali pusar masih menempel, belum terpotong rapi, dan bayi tampak mengenakan pakaian seadanya.
Berita Terkait
Khumaedi juga menyampaikan perkiraan kondisi bayi. Ia mengatakan, “Bayinya sehat, katanya bobotnya 2,6 kilogram, cantik bayinya.”
Meski begitu, ia mengaku masih terpukul dengan peristiwa yang menimpa keluarga mereka. Khumaedi bahkan menyatakan masih berpikir ulang untuk merawat bayi tersebut karena ia mengaku belum dikaruniai keturunan.
Ketua RT 4 Desa Karangampel, Sulistyono, mengonfirmasi adanya temuan bayi tersebut. Ia menjelaskan, setelah Khumaedi pulang ngaji, bayi masih terlihat merah, sementara sang istri tampak kaget dan banyak warga berdatangan.
Menurut Sulistyono, kondisi kerumunan warga membuat informasi cepat menyebar di lingkungan sekitar. Bayi kemudian ditangani sesuai saran kepala desa dan diarahkan untuk mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan.
Hingga berita ini disusun, bayi perempuan itu dirawat di Rumah Sakit Islam Kudus. Pihak keluarga dan aparat desa terus memastikan penanganan awal berjalan semestinya, seiring upaya menenangkan situasi setelah temuan tersebut terjadi.
Di tengah keramaian itu, situasi awal memang belum sepenuhnya dipahami oleh keluarga maupun warga. Namun karena bayi terus menangis, perhatian warga langsung terarah untuk memastikan kondisi bayi dan mencari bantuan yang lebih tepat. Keputusan untuk melibatkan pihak desa juga muncul karena adanya kebutuhan penanganan segera, terutama agar keluarga mendapatkan arahan yang jelas saat situasi masih ramai.
Khumaedi menuturkan bahwa bayi tersebut tidak hanya ditemukan dalam keadaan hidup, tetapi juga memperlihatkan tanda-tanda kesehatan yang relatif baik. Pada pemeriksaan awal, tali pusar masih melekat, sementara bagian perawatan bayi tampak belum mendapat penanganan yang rapi sejak pertama kali ditemukan. Meski demikian, keluarga kemudian berfokus pada langkah lanjutan dengan membawa bayi ke fasilitas kesehatan agar penanganan awal dapat dilakukan sesuai prosedur.
Menurut keterangan yang disampaikan, berat bayi diperkirakan mencapai sekitar 2,6 kilogram. Keterangan tersebut sekaligus menjadi bagian yang membuat warga kian ingin mengetahui perkembangan berikutnya, sambil menunggu arahan dari aparat desa dan tenaga medis. Upaya penenangan juga dilakukan karena informasi temuan bayi cepat menyebar di lingkungan sekitar, sehingga orang-orang terus berdatangan hingga penanganan medis mulai berjalan.
Hingga saat ini, keluarga dan aparat desa masih memantau agar perawatan awal berjalan semestinya di Rumah Sakit Islam Kudus. Proses pendampingan dilakukan seiring dengan upaya menenangkan suasana pascatejadian, sambil memastikan bayi tetap mendapatkan penanganan lanjutan dan keluarga memperoleh pendampingan agar kondisi psikologis mereka tidak semakin terganggu setelah peristiwa tersebut.












