Olahraga

Skotlandia bersama Pocognoli: awal beragam, Nations League dibuka dengan hasil 0-0 di Slovenia

×

Skotlandia bersama Pocognoli: awal beragam, Nations League dibuka dengan hasil 0-0 di Slovenia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Scotland: From turgid to thrusting - mixed start for new Scotland

jurnalistik.co.id – Debut Sebastien Pocognoli sebagai pelatih Skotlandia di Nations League berawal dengan langkah yang tidak rapi, namun berbalik arah pada babak kedua. Hasil akhirnya tetap imbang 0-0 saat Skotlandia bertandang ke Slovenia, sebuah skor yang mengecewakan di papan angka tetapi menyisakan sinyal positif dari cara permainan setelah turun minum.

Di paruh pertama, pendekatan yang diusung Pocognoli—menekan sejak awal, intensitas tinggi, kecepatan mengambil keputusan, dan ancaman ke gawang—belum tampak menyatu. Skotlandia tercatat tidak mencatat satu pun shot on target, sementara duel udara kerap lepas, dan butuh waktu panjang sebelum benar-benar menyentuh bola di area penalti tuan rumah; mereka bahkan memerlukan 38 menit untuk bisa sampai ke sana.

Bukan berarti Slovenia tampil memberi tekanan berlebihan, sebab tuan rumah dinilai cukup “tumpul” sepanjang babak pembuka. Namun justru di titik itu masalahnya: Skotlandia tidak juga terlihat akurat, berenergi, maupun efektif dalam tempo yang dibutuhkan untuk membongkar pertahanan lawan. Keadaan ini membuat wacana “era baru” masih terasa tertahan.

Lalu, babak kedua datang dengan wajah yang berbeda. Skotlandia berubah dari tim yang tampak impotent menjadi tim yang “thrusting”—lebih agresif, lebih terarah, dan lebih dekat dengan peluang-peluang yang seharusnya bisa mengubah pertandingan. Meski skor tetap 0-0, dominasi setelah jeda membuat peluang tercipta lebih banyak dan permainan ofensif lebih hidup.

Dominasi tanpa gol: 17 percobaan, peluang besar, tapi Oblak jadi penghalang

Menurut evaluasi pertandingan, ada dua cara membaca hasil imbang ini. Dari sisi produktivitas serangan, seluruh 10 pemain outfield yang memulai laga memiliki peluang menembak ke arah gawang—pencapaian yang disebut tidak terjadi sejak Juni 2022 saat melawan Armenia. Skotlandia juga melepaskan 17 shots, yang menjadi upaya percobaan terbanyak dalam sebuah laga kompetitif setidaknya lebih dari 14 tahun.

Namun ada sisi lain yang sulit ditelan: Skotlandia untuk pertama kalinya dalam hampir 22 tahun gagal mencetak gol dalam tiga pertandingan turnamen secara beruntun. Ini menempatkan pertandingan di kategori “mendorong keras tetapi tidak membuahkan gol”, sebuah kontras yang terasa terutama di momen-momen kunci babak kedua.

Salah satu momen paling menentukan datang enam menit setelah babak kedua dimulai. Oli McBurnie menciptakan peluang untuk dirinya sendiri dengan merebut bola dan masuk ke posisi yang bagus tepat di depan Jan Oblak yang sendirian. Ia punya beberapa opsi, mulai dari mengangkat bola (dink) saat kiper sudah bergerak, sampai menaruh bola ke sisi kiri Oblak atau mendorongnya melalui kedua kaki penjaga gawang—tetapi ia memilih mencoba melewati Oblak. Oblak memenangkan duel tersebut.

“I’m not going to be able to sleep thinking about those chances” menjadi gambaran yang mewakili rasa frustrasi McBurnie setelah gagal memaksimalkan situasi one-on-one itu. Baginya, ini sekaligus menandai kembalinya ke skuad setelah 2,005 hari, dan ia mencoba meraih gol pertamanya di penampilan ke-17.

McBurnie kemudian terlibat dalam permainan yang lebih rapi melalui one-two dengan Billy Gilmour yang dinilai makin dominan. Tembakan Gilmour sempat diselamatkan, sementara Oblak disebut sebagai pemain terbaik Slovenia dengan jarak yang jauh. Variasi peluang terus muncul: McBurnie sempat mengarahkan sundulan ke gawang namun mentah di tangan Oblak, Aaron Hickey juga mendapat peluang melalui sundulan yang melebar, dan Kieron Bowie yang masuk sebagai pengganti langsung memberi dampak.

Bowie memiliki tiga kesempatan dalam delapan menit: satu tembakan yang tidak terlalu berbahaya, satu upaya yang diarahkan dengan sentuhan terpotong, dan satu kesempatan besar yang diciptakan lewat umpan Gilmour—namun bola masih melebar. Robbie Ure juga nyaris membuka skor lewat bola yang membentur tiang. Pada fase-fase ini, Skotlandia terlihat “berkuasa” tetapi belum bisa menembus tembok akhir laga.

Di tengah semua upaya tersebut, pertandingan tetap berakhir dengan Skotlandia sebagai tim yang kesembilan kali berturut-turut tidak mendapat balasan gol—mereka digambarkan benar-benar dominan, tetapi tetap “achingly goalless” atau sangat terasa kurangnya gol yang seharusnya hadir.

Perubahan taktik Pocognoli: “two games in one game”

Pocognoli sendiri menyatakan ia merasa terangkat oleh perubahan yang terjadi pada babak kedua. Dari sudut pandang strategi, ia digambarkan mampu membaca masalah timnya sejak dini, lalu melakukan penyesuaian yang jelas pada jeda. Ada catatan bahwa kepemilikan dominasi di 45 menit kedua menunjukkan bahwa ia tidak sekadar mengandalkan ide, tetapi juga mampu mengubah hal-hal yang perlu diubah.

Penggunaan McBurnie dan Ure sejak awal juga dipandang sebagai kejutan, sekaligus sinyal bahwa Skotlandia ingin bermain lebih ofensif ketimbang hanya bertahan untuk mengamankan hasil. Di babak pertama sinyal itu belum menjadi nyata, tetapi pada babak kedua, pola tersebut akhirnya “klik”.

Perubahan yang disoroti mencakup penempatan McBurnie yang diturunkan sedikit lebih dalam, berada di area “pocket” tepat di belakang Robbie Ure, lalu mengikuti pergerakan saat Bowie kemudian masuk. Di lini tengah, Billy Gilmour diminta duduk lebih rendah, memberinya ruang untuk mengatur tempo dan mengarahkan permainan; peran ini disebut membuatnya bisa menentukan jalannya serangan.

Pocognoli bahkan merangkum perubahan itu sebagai “two games in one game”, menegaskan bahwa pertandingan seolah terdiri dari dua laga berbeda dalam satu malam. Ia dinilai tepat: bergesernya posisi McBurnie dan Gilmour membuat Skotlandia hidup kembali dan permainan menjadi lebih berani.

Ujian berikutnya: lawatan melawan Swiss

Skotlandia kini menantikan laga berikutnya melawan Switzerland pada Selasa malam di Hampden. Swiss disebut peringkat 14 dunia dan diyakini tidak datang dengan beberapa pemain penting, tetapi tim asuhan Murat Yakin tetap disebut telah terlatih dengan baik, mapan, dan sulit ditembus; kekuatan mereka disebut lebih besar daripada sekadar jumlah individu.

Bagi Pocognoli, duel berikutnya digambarkan sebagai ujian paling besar untuk melihat apakah transformasi pada babak kedua bisa diubah menjadi hasil gol yang konsisten. Jika Skotlandia meraih kemenangan pada pertandingan itu, “lift-off time” yang dimaksud—momentum yang memulai periode baru—akan benar-benar dimulai.