jurnalistik.co.id – Menjelang musim gugur, para ahli di Inggris mendorong keluarga untuk melambat saat berjalan di luar rumah—bukan sekadar lewat begitu saja—agar bisa menemukan beragam jamur yang mulai bermunculan di taman, hutan kecil, dan cagar alam.
Di musim ini, penampakan jamur dari yang berwarna mencolok hingga bentuk yang tampak seperti “sarang” kecil semakin mudah terlihat bagi siapa pun yang mau benar-benar memperhatikan lantai hutan yang ditutupi daun gugur. Dari fly agaric yang dikenal luas, sampai red cage fungus yang tergolong langka, semuanya dapat ditemukan di tempat-tempat yang sering dilalui, namun kerap luput karena orang tidak berhenti untuk melihat lebih dekat.
James Benwell, dari Birmingham and Black Country Wildlife Trust, mengatakan pencarian jamur telah menjadi cara baginya mengajak putra kecil menikmati alam. Menurutnya, hobi itu mampu mengubah kegiatan jalan-jalan biasa menjadi pengalaman petualangan: orang bisa melihat spesies berwarna-warni dan tak biasa yang selama ini mungkin hanya lewat begitu saja.
“Every walk becomes interesting and exciting if you’re exploring and if you’re looking for new things,” kata Benwell. Ia menekankan bahwa banyak jamur bisa tersembunyi di sela-sela daun yang jatuh, kayu yang mulai lapuk, serta pangkal pohon—wilayah yang tampak “biasa”, tapi sebenarnya menyimpan kemungkinan temuan jika seseorang meluangkan waktu untuk memerhatikan.
Di wilayah West Midlands, para penggemar jamur mencatat berbagai jenis yang beragam. Ada temuan bird’s nest fungi yang berukuran kecil di pusat kota Birmingham, fly agaric yang tumbuh di bawah pohon birch di area berhutan, hingga red cage fungus langka yang ditemukan di Cannon Hill Park. Benwell menyebutkan bahwa proses melihat lebih teliti membuka “dunia” yang selama ini tidak terlihat.
Ia menambahkan, “Sometimes you’ve just got to look through the leaf litter a bit, and you’d be amazed at the colours and different shapes and sizes of mushrooms you can find when you do look.” Dorongan untuk melambat itu, pada praktiknya, membuat berjalan musim gugur terasa seperti penjelajahan.
Ketertarikan pada bentuk, warna, dan kisah yang melekat
Salah satu spesies yang paling dikenali adalah fly agaric. Jamur merah menyala dengan bintik-bintik putih ini sudah lama diasosiasikan dengan cerita rakyat dan budaya populer. Benwell menggambarkannya sebagai “the mushroom of fairy tales”.
“It’s in Alice in Wonderland, it’s in Super Mario Brothers… It’s everywhere as part of fairy tales and folklore,” ujar Benwell, lalu menambahkan, “But there are still adults who’ve never seen it.” Ia menilai bahwa ketidaktahuan sebagian orang justru menjadi alasan lain untuk mengajak keluarga memperhatikan detail yang ada di sekitar.
Selain fly agaric, ada spesies yang tampil dengan cara unik. Bird’s nest fungi, misalnya, menyerupai sarang mini lengkap dengan “telur” kecil. Sementara itu, red cage fungus membentuk struktur jaring berwarna merah tua yang mencolok, dengan tampilan seperti kisi-kisi.
Red cage fungus tercatat muncul di Cannon Hill Park pada tahun lalu. Benwell menyebut penemuan itu hanya menjadi pengamatan kedua spesies tersebut di Birmingham dan Black Country. Ia menilai kelangkaannya bukan sekadar kesan, melainkan tercermin dari rendahnya catatan temuan.
Berita Terkait
Lucas Large, ketua West Midlands Fungus Group, menjelaskan, “UK-wide, you’re only talking hundreds of records ever. It’s not a common species at all.” Ia juga mengungkap karakter lain dari red cage fungus, yakni baunya.
“It smells horrible,” kata Large. Menurut penjelasan yang disampaikan, jamur ini menarik lalat—dan lalat tersebut berperan membantu penyebaran spora.
Large, yang telah mempelajari jamur selama lebih dari satu dekade, juga menyebutkan spesies terlangka yang pernah ia lihat di kawasan tersebut, yakni coral tooth fungus. Ia menggambarkan bentuknya: “It formed this enormous kind of white, coraloid fruiting body,”.
Foto dan catat, tapi jangan memetik
Meski berbagai tampilan jamur sering membuat orang ingin memegang atau mengoleksi, para ahli menganjurkan agar keluarga mendokumentasikan temuan melalui foto dan pencatatan, bukan memetiknya. Large menilai minat terhadap jamur tumbuh dalam beberapa tahun terakhir, termasuk karena kelompoknya rutin menarik pendatang baru dalam kegiatan-kegiatan dan “fungi forays” (ekspedisi mencari jamur).
Di Inggris, jumlah spesies jamur yang ditemukan tercatat lebih dari 15.000 spesies. Karena itu, perhatian dan ketelitian menjadi bagian penting dari cara belajar di lapangan: memperhatikan lokasi, bentuk, dan ciri yang terlihat secara langsung.
Waspada: jamur liar tidak otomatis aman dimakan
Di balik anjuran untuk menikmati dan mengamati, para ahli juga mengingatkan agar tidak beranggapan jamur liar aman dikonsumsi. Beberapa spesies di Inggris dapat menyebabkan penyakit serius bahkan kematian bila dimakan, termasuk death cap mushroom yang menurut Woodland Trust menjadi penyebab sebagian besar kematian terkait jamur.
Large menyatakan tidak ada “jalan pintas” yang benar-benar memastikan apakah suatu jamur beracun atau tidak. “The only way to do it is to know which one it is, or be sort of certain that you’ve got a particular species,” katanya.
Benwell sepakat bahwa tanpa pengetahuan spesialis, orang sebaiknya menghindari memetik jamur liar untuk dimakan. “There are mushrooms that will harm you, that will make you sick or even kill you in this country,” ucapnya. Ia menambahkan, “The best place to get your mushrooms if you want to eat them is the supermarket.”
Karena itu, nasihat yang ditekankan adalah menikmati jamur di tempat ia tumbuh—baik di taman kota Birmingham, kawasan hutan Cannock Chase, Sutton Park, maupun Wyre Forest. Saat melakukan pencarian bersama putranya, Benwell mengikuti aturan sederhana: “No licking, no picking, no kicking.”
Baginya, pendekatan itu memungkinkan keluarga merasakan kegembiraan menemukan hal-hal baru, sekaligus menjaga agar jamur yang menjadi bagian dari kekayaan alam setempat tetap dapat diapresiasi oleh banyak orang yang melewati lokasi yang sama.












