jurnalistik.co.id – Kepergian Pratu Rizki Kurniawan, prajurit Yonif 133/Yudha Sakti, meninggalkan duka yang mendalam bagi warga di kampung halamannya setelah ia gugur dalam kontak tembak di Distrik Jila, Mimika, Papua Tengah.
Di Nagari Sungai Gayo Lumpo, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, kabar tersebut disambut dengan suasana duka yang terus bertambah sejak pagi ketika warga mulai berdatangan ke rumah keluarga.
Suasana rumah duka terlihat di Jorong Kampuang Koto, Nagari Sungai Gayo Lumpo, tempat berbagai pelayat menunggu jenazah Rizki tiba untuk dimakamkan pada hari yang sama.
Rumah duka dipenuhi warga
Kerumunan warga datang melayat pada Rabu (19/8/2026), sembari menyampaikan belasungkawa langsung kepada pihak keluarga.
Menurut wali nagari setempat, warga terus berdatangan dari waktu ke waktu untuk memberikan penghormatan terakhir.
“Saat ini warga sudah banyak datang ke rumah duka untuk melayat,” kata Novinol Edi, wali nagari Sungai Gayo Lumpo.
Dalam situasi seperti itu, perhatian banyak tertuju pada bagaimana Rizki selama ini dikenal di lingkungan tempat ia dibesarkan, baik sebagai prajurit maupun sebagai bagian dari masyarakat kampung.
Dikenal sopan dan dekat dengan warga
Bagi warga, Rizki tidak hanya disebut sebagai prajurit TNI yang gugur di Papua, tetapi juga sebagai pemuda yang berkarakter sopan, baik, dan tidak menimbulkan persoalan di tengah masyarakat.
Novinol Edi menyampaikan bahwa Rizki dikenal memiliki hubungan yang baik dengan warga di kampung.
“Dia anaknya dikenal sangat baik di kampung. Gak ada neko-neko. Dia anaknya sopan, gak macam-macam, jadi hubungan sangat baik. Jadi kami sangat berduka terkait ini,” ujar Novinol Edi.
Ia juga menyebut Rizki sebagai salah satu pemuda yang dibanggakan, terutama karena memilih jalan pengabdian sebagai prajurit TNI.
Berita Terkait
“Dia kebanggaan kampung kami, jadi salah seorang pemuda yang kami banggakan. Berpulangnya korban membuat kami sangat bersedih,” kata Novinol.
Ungkapan duka tersebut terlihat dari banyaknya warga yang menunggu proses kedatangan jenazah, sekaligus mengikuti perkembangan kabar dari pihak keluarga.
Anak yatim piatu yang tetap mengabdi
Di balik pengabdiannya, kisah Rizki juga menyimpan sisi personal yang kuat bagi warga setempat. Ia disebut sebagai anak yatim piatu.
Rizki diketahui telah menjalani pengabdian sebagai prajurit TNI AD selama sekitar enam tahun.
Berdasarkan penuturan Novinol Edi, ibunya meninggal sekitar satu setengah tahun lalu, sementara sang ayah meninggal lebih dahulu.
“Betul korban yatim piatu, ibunya meninggal satu tahun setengah yang lalu. Sementara ayahnya sudah lama meninggal,” jelas Novinol.
Setelah kedua orang tuanya meninggal, Rizki kemudian tinggal bersama kakak perempuannya.
Keadaan tersebut membuat perhatian warga bertambah, karena ia tetap menjalankan pengabdian sebagai prajurit meski harus menghadapi kehilangan keluarga sejak usia muda.
Warga menyebut sosok Rizki sebagai bagian dari kebanggaan kampung, sekaligus alasan mengapa suasana duka terasa lebih kuat saat kabar tentang gugurnya ia diterima.
“Berpulangnya korban membuat kami sangat bersedih,” kembali ditegaskan oleh Novinol Edi dalam kesempatan yang sama, menggambarkan bagaimana kehilangan itu dirasakan bukan hanya oleh keluarga, tetapi juga oleh masyarakat kampung.
Dengan latar belakang tersebut, rumah duka di Jorong Kampuang Koto menjadi titik kumpul warga selama proses melayat, hingga jenazah tiba untuk dimakamkan pada hari Rabu, 19 Agustus 2026.
Kontak tembak yang terjadi di Distrik Jila, Mimika, Papua Tengah menjadi kabar inti yang membawa duka, sementara pengenalan masyarakat terhadap Rizki sebagai prajurit sekaligus pemuda yang sopan terus diingat selama prosesi penghormatan terakhir.












