jurnalistik.co.id – Pemerintah Kabupaten Jayapura menyatakan delapan korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menjalani perawatan. Bupati Jayapura Yunus Wonda mengatakan kondisi para pasien tersebut terus membaik setelah insiden yang terjadi pada 4 Agustus 2026.
Menurut Yunus Wonda, dari total 543 orang yang diduga terdampak keracunan MBG, saat ini tersisa delapan pasien yang sedang dirawat. Ia menyampaikan hal itu saat kegiatan kerja bakti di Dermaga Kalkhote, Distrik Sentani Timur, pada Jumat (14/8/2026).
Dalam keterangannya, Yunus Wonda menyatakan bahwa upaya penanganan telah berjalan dan belum ada tanda penambahan korban. “Dari kejadian yang terjadi pada 4 Agustus 2026, jumlah yang terkena dampak keracunan mencapai 543 orang. Sampai hari ini tersisa 8 pasien yang sedang dirawat. Kita prediksi tidak ada penambahan lagi dan secara garis besar kondisi mereka sudah membaik,” ujarnya, dilansir dari TribunPapua.
Bupati juga menyebut bahwa delapan pasien yang masih menjalani perawatan merupakan kelompok yang sedang dalam pemantauan intensif. Sebagian di antaranya sempat masuk ruang ICU, namun saat ini kondisinya terus membaik.
Yunus Wonda menilai para pasien tersebut berpotensi segera dipulangkan setelah kondisi kesehatan mereka dinyatakan pulih. Ia menekankan bahwa proses pemulihan menjadi fokus utama pada tahap akhir penanganan kasus.
Terkait tempat perawatan, delapan pasien yang tersisa dirawat di RSUD Yowari, Rumah Sakit Dian Harapan, dan RSUD Abepura. Pembagian layanan tersebut menunjukkan penanganan masih berlangsung di beberapa fasilitas kesehatan di wilayah Jayapura.
Selain menyampaikan perkembangan pasien, Pemkab Jayapura juga merinci komposisi korban dari total 543 orang. Berdasarkan data Pemkab Jayapura per Sabtu (8/8/2026), korban terdiri atas balita, anak-anak, ibu hamil, hingga lansia.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 223 orang atau 41 persen merupakan laki-laki. Sementara itu, sebanyak 320 orang atau 59 persen merupakan perempuan.
Yunus Wonda menyebut bahwa ratusan warga mengalami gejala muntah dan diare setelah menyantap makanan. Makanan tersebut disiapkan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Kasih Iman Samuel Papua.
Berita Terkait
Pendataan ulang di kampung terdampak
Untuk memastikan penanganan dugaan keracunan MBG tuntas, Pemkab Jayapura bersama TNI-Polri dan Dinas Kesehatan akan kembali turun ke kampung-kampung terdampak. Langkah ini dilakukan untuk memverifikasi apakah masih ada gejala pada warga setelah insiden.
Bupati menegaskan bahwa pengecekan dilakukan secara langsung ke lokasi terdampak guna memastikan situasi kesehatan sudah benar-benar terkendali. “Kami akan mengecek kembali ke kampung-kampung terdampak apakah masih ada gejala atau tidak. Jika sudah clear, kami akan menggelar jumpa pers untuk mengumumkan secara terbuka bahwa wilayah ini sudah zona hijau dan penanganan kasus keracunan MBG telah selesai,” tegasnya.
Dengan mekanisme tersebut, Pemkab berupaya memastikan tidak ada kasus lanjutan yang terlewat. Setelah dinyatakan aman, pemerintah berencana membuka informasi melalui konferensi pers agar masyarakat memperoleh kepastian.
Penegasan soal higienitas dan keselamatan makanan
Dalam kesempatan itu, Yunus Wonda juga memberikan teguran keras kepada pengelola dapur penyedia makanan. Menurutnya, kejadian ini harus menjadi perhatian serius agar tidak terulang di kemudian hari.
Bupati meminta pengelola dapur mengutamakan higienitas, kebersihan, dan keselamatan makanan yang disajikan kepada masyarakat. Ia mengingatkan bahwa aspek kesehatan dan keamanan pangan semestinya menjadi prioritas utama.
“Kami imbau kepada pengelola dapur agar peristiwa ini jadi atensi. Jangan hanya uang yang dikejar, tetapi faktor kesehatan, kebersihan, dan safety di dapur harus jadi prioritas utama agar kejadian serupa tidak terulang,” tukasnya.
Melalui penegasan tersebut, Pemkab berharap proses penyelenggaraan program MBG berjalan dengan standar pengolahan yang aman. Sambil menunggu pengecekan lanjutan dan pengumuman status zona, penanganan pasien yang masih dirawat juga tetap menjadi bagian dari perhatian utama.












