Peristiwa

Gempa Magnitudo 7,7 Guncang Flores, Sedikitnya Lima Warga Tewas

×

Gempa Magnitudo 7,7 Guncang Flores, Sedikitnya Lima Warga Tewas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Five dead after 7.7 magnitude Indonesia earthquake

jurnalistik.co.id – Sedikitnya lima orang dilaporkan tewas setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores, Indonesia, pada dini hari Sabtu. Guncangan tersebut terjadi saat banyak warga masih tertidur, dengan korban yang disebut meninggal akibat timbunan reruntuhan bangunan.

Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan dalam konferensi pers bahwa para korban meninggal dunia terjadi karena runtuhan puing yang menimpa mereka saat sedang tidur. Ia juga menyebut bahwa tim pencarian dan pertolongan terus bekerja untuk membebaskan warga yang terjebak di bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa.

Selain kerusakan awal, rangkaian gempa susulan turut menyusul kejadian utama. Puluhan gempa susulan dilaporkan melanda wilayah yang sama setelah guncangan pertama, termasuk satu kejadian dengan magnitudo 6,1 yang ikut dirasakan.

Peringatan tsunami sempat dikeluarkan, namun kemudian dicabut sekitar tiga jam setelah guncangan awal. Menurut laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi sekitar pukul 05:00 waktu setempat dengan kedalaman 15 km.

Kerusakan di sekitar Maumere

Gempa mengguncang Flores sekitar 05:00 waktu setempat. Di wilayah yang terkena, dampak terlihat pada fasilitas pelabuhan, termasuk di Maumere, tempat rekaman video menunjukkan potongan besar beton lepas dari bangunan terminal dan jatuh menimpa penumpang yang sedang menunggu naik ke kapal feri antar-pulau.

Dalam rekaman tersebut, terlihat bahwa sebagian potongan beton dilemparkan ke laut ketika jembatan penghubung (gangway) menuju kapal ambruk. Setelah peringatan tsunami diterbitkan, warga juga terlihat bergerak ke arah daratan menggunakan sepeda motor.

Menurut keterangan dalam laporan, wilayah guncangan berada sekitar 1.000 km dari Bali, atau setara dengan sekitar 600 mil. Meski pusat kejadian jauh, gempa susulan yang kuat tetap terasa di kawasan yang sama dengan magnitudo yang tercatat mencapai 6,1.

Di daerah yang tergolong terpencil dan bergunung, penilaian menyeluruh terhadap skala kerusakan membutuhkan waktu. Pemerintah setempat masih memerlukan proses pemeriksaan untuk memastikan dampak yang terjadi pada berbagai titik di wilayah terdampak.

Imbauan BNPB dan proses asesmen

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menjauh dari kawasan pesisir. Selain itu, BNPB meminta warga tidak memasuki bangunan, terutama yang telah mengalami retakan atau kerusakan struktural.

“Warga juga diminta untuk menghindari masuk ke dalam bangunan, terutama yang sudah mengalami retakan atau kerusakan struktural,” kata BNPB. BNPB juga menyampaikan bahwa penilaian cepat tengah dilakukan untuk menentukan jumlah korban dan seberapa besar dampak yang ditimbulkan.

“Saat ini sedang dilakukan asesmen cepat untuk menentukan jumlah korban dan tingkat dampak. Kami akan menyampaikan informasi tersebut setelah data diverifikasi,” tambah BNPB. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perhitungan korban dan luas kerusakan akan diperbarui setelah proses verifikasi selesai.

Sementara itu, sekitar 2.000 warga di Nagekeo dilaporkan dievakuasi. Sejumlah bangunan di wilayah tersebut dilaporkan mengalami kerusakan, sehingga proses evakuasi dilakukan untuk mengurangi risiko bagi warga selama gempa susulan masih terjadi.

Kesaksian warga yang sempat terbangun

Arnold Welianto, warga dari Desa Talibura di Kecamatan Talibura, Sikka, Nusa Tenggara Timur, menceritakan bahwa ia masih terlelap ketika guncangan sangat kuat mulai dirasakan. Ia menyampaikan bahwa ia terbangun akibat getaran yang terasa “sangat kuat”.

“Saya kaget ketika terbangun dan langsung masuk ke kamar anak saya,” ujarnya. Setelah mereka berada di luar rumah, Welianto mengatakan bahwa warga di lingkungan yang berada dekat garis pantai telah lebih dulu meninggalkan tempat tinggal.

Ia menuturkan bahwa banyak warga kemudian menuju perbukitan sambil mengerumuni jalanan. Namun sebagian warga lain terlihat berdiri di pinggir jalan karena permukaan laut juga dilaporkan sempat surut.

“Air tetap rendah cukup lama, sehingga semua orang panik dan berlari—saya pergi ke pusat kesehatan masyarakat, dan orang-orang di sana juga sudah dievakuasi,” kata Welianto. Ia juga mengungkapkan bahwa setelah itu, sebagian warga memilih bertahan di luar rumah.

Menurut Welianto, alasan warga tetap berada di luar adalah karena masih berlanjutnya gempa susulan. Ia menyebut bahwa ketakutan membuat mereka ragu untuk kembali ke rumah, terutama di tengah ketidakpastian kondisi bangunan dan ancaman getaran susulan yang bisa terjadi kapan saja.

Hingga proses tanggap darurat berjalan, pihak berwenang terus melakukan pencarian korban dan penanganan dampak kerusakan. Sementara itu, upaya pemutakhiran data korban serta luas kerusakan akan dilakukan setelah asesmen selesai dan informasi diverifikasi.