jurnalistik.co.id – Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, memberikan klarifikasi atas video viral yang menampilkan Camat Lamba Leda Utara, Agustinus Supratman, terlibat adu mulut dengan seorang petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Peristiwa itu disebut terjadi saat pembahasan pembagian bantuan untuk warga terdampak gempa Flores di wilayah Kecamatan Lamba Leda Utara pada Jumat (21/8/2026).
Klarifikasi tersebut disampaikan lewat Sekretaris Daerah Manggarai Timur, Winsensius Tala, menyusul beredarnya rekaman yang sempat memicu perhatian publik. Pemerintah daerah menegaskan insiden yang terlihat dalam video pada dasarnya berangkat dari persoalan komunikasi dan koordinasi di lapangan yang belum berjalan optimal.
Pemkab Manggarai Timur juga menyatakan tidak ingin kejadian ini melebar menjadi persepsi adanya pertentangan antara pihak pemerintah kecamatan dan petugas BNPB. Menurut Winsensius, situasi tanggap darurat membuat dinamika di lapangan berlangsung cepat dan semua pihak bekerja dalam tekanan.
Winsensius menjelaskan bahwa kondisi darurat bencana menuntut keterbukaan informasi, namun di saat yang sama juga diwarnai keterbatasan data dan kebutuhan untuk mengambil keputusan secara cepat. Ia menyebut kesenjangan pemahaman terhadap informasi atau mekanisme koordinasi merupakan hal yang sangat mungkin muncul.
“Setiap unsur bekerja dengan tekanan, keterbatasan informasi, serta tuntutan untuk mengambil keputusan secara cepat. Dalam kondisi demikian, perbedaan pemahaman terhadap informasi atau mekanisme koordinasi sangat mungkin terjadi,” ujar Winsensius dalam keterangan yang diterima, Sabtu (22/8/2026).
Dalam keterangan itu, Pemkab Manggarai Timur menyatakan pilihan untuk tidak memperbesar perbedaan yang tampak dalam video. Fokus utama, kata Winsensius, adalah memperbaiki komunikasi dan koordinasi sehingga seluruh pihak dapat kembali menempatkan diri pada penanganan warga terdampak gempa.
Winsensius juga menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki niat mempertentangkan satu pihak dengan pihak lain. Ia menempatkan peran camat sebagai bagian dari tanggung jawab pelayanan pemerintahan dan masyarakat di wilayah, sementara unsur lain yang hadir di lapangan membawa mandat serta peran masing-masing untuk mendukung penanganan kondisi darurat.
“Kami juga perlu menegaskan bahwa tidak ada kepentingan untuk mempertentangkan satu pihak dengan pihak lainnya. Camat sebagai unsur pemerintah di wilayah mempunyai tanggung jawab pelayanan pemerintahan dan masyarakat, sementara unsur lain yang hadir di lapangan juga memiliki peran masing-masing dalam mendukung penanganan kondisi darurat,” ungkap Winsensius.
Ia menambahkan bahwa setiap perbedaan di lapangan harus dibaca dalam kerangka koordinasi, bukan diarahkan menjadi konflik personal maupun konflik antarlembaga. Pemkab menyebut telah mendorong pihak-pihak terkait melakukan komunikasi dan klarifikasi secara langsung agar persoalan tidak berlarut-larut.
Berita Terkait
“Kami telah mendorong pihak-pihak terkait untuk melakukan komunikasi dan klarifikasi secara langsung agar persoalan ini tidak berlarut-larut. Pemkab Manggarai Timur juga memastikan bahwa koordinasi lintas sektor akan terus diperkuat sehingga setiap langkah penanganan di lapangan memiliki pemahaman dan tujuan yang sama,” ujar Winsensius.
Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat agar tidak memperkeruh keadaan dengan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Winsensius menilai pada momen seperti ini, yang dibutuhkan warga adalah ketenangan dan kepastian, sekaligus kerja sama dari semua pihak yang terlibat.
“Dalam kondisi seperti ini, masyarakat membutuhkan ketenangan, kepastian, dan kerja sama semua pihak. Pada akhirnya, pemerintah hadir bukan untuk mencari siapa yang menang atau siapa yang kalah, tetapi harus kita menangkan adalah kepentingan masyarakat,” kata Winsensius.
Dalam kesempatan yang sama, Pemkab Manggarai Timur mengajak semua pihak untuk mengakhiri dinamika yang muncul sebagai bagian dari proses komunikasi di lapangan. Winsensius menekankan perlunya meluruskan hal-hal yang dianggap perlu diluruskan, lalu kembali bekerja bersama demi kebutuhan masyarakat Manggarai Timur.
“Mari kita sudahi perbedaan yang muncul sebagai bagian dari dinamika komunikasi di lapangan, kita luruskan yang perlu diluruskan, dan kita kembali bekerja bersama untuk masyarakat Manggarai Timur,” kata dia.
Ia menegaskan bahwa pihak-pihak yang terlibat tidak sedang berada dalam posisi saling berhadapan. Menurut Winsensius, seluruh unsur seharusnya berdiri di sisi yang sama, yakni untuk kepentingan masyarakat.
“Kita tidak sedang berhadapan satu sama lain. Kita sedang berdiri di sisi yang sama yaitu di sisi masyarakat,” lanjutnya.
Video yang beredar memperlihatkan momen komunikasi yang memanas, termasuk penggunaan ungkapan “Saya Stres, Sudah Tidak Kuat Lagi”. Namun Pemkab Manggarai Timur meminta publik melihat kejadian tersebut dalam konteks koordinasi penanganan darurat, serta memberi ruang agar klarifikasi dan perbaikan sistem komunikasi dapat segera dijalankan tanpa membesar-besarkan isu menjadi konflik berkepanjangan.
Klarifikasi ini disampaikan setelah peristiwa pada Jumat (21/8/2026), dan keterangan tersebut diterima pada Sabtu (22/8/2026). Melalui pernyataannya, Winsensius menutup dengan seruan agar semua pihak berhenti mempertajam perbedaan, memperkuat koordinasi lintas sektor, dan mengarahkan langkah penanganan kembali pada tujuan utama: memastikan bantuan dan layanan untuk warga terdampak gempa Flores berjalan dengan baik.












