jurnalistik.co.id – Kondisi kesehatan warga korban gempa bumi yang bertahan di tempat pengungsian di Kampung Kedeng, Desa Golo Tolang, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai menurun. Sejumlah balita, anak-anak, hingga orang tua dilaporkan mengalami demam dan flu pascabencana.
Warga kemudian mendesak pemerintah daerah serta dinas kesehatan setempat untuk segera menurunkan tenaga medis dan mendistribusikan obat-obatan ke lokasi pengungsian. Mereka berharap penanganan medis dapat dilakukan lebih cepat karena kondisi kelompok rentan dinilai makin tidak terkelola.
Teofilus Dolung, yang menyampaikan kabar mewakili keluarga pengungsi, mengatakan kebutuhan di lapangan bukan hanya pemeriksaan, melainkan juga ketersediaan obat. Ia menyebut perlunya bantuan bagi balita dan orangtua agar pemeriksaan dan penanganan bisa dilakukan langsung di posko.
“Saya mewakili keluarga pengungsi membutuhkan obat-obatan dan pemeriksaan kesehatan bagi balita dan orangtua di lokasi pengungsian,” ujar Teofilus saat dihubungi Kompas.com melalui pesan WhatsApp pada Sabtu (22/8/2026).
Teofilus menyampaikan gangguan kesehatan masyarakat mulai muncul setelah gempa bumi mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026). Menurutnya, perubahan kondisi lingkungan di sekitar pengungsian turut memperburuk daya tahan tubuh warga.
Ia menjelaskan, paparan cuaca di posko dan keterbatasan sarana membuat kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia lebih mudah terdampak. “Semenjak insiden gempa ini terjadi, di kampung kami banyak yang demam, baik balita, anak-anak, maupun orangtua,” katanya.
Keluhan kesehatan bersamaan dengan kebutuhan layanan dasar
Selain penanganan medis, warga di Kampung Kedeng menghadapi ancaman krisis pangan. Aktivitas ekonomi dan mata pencaharian mereka dinilai lumpuh total pascagempa, sehingga pengungsi tidak memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Teofilus menyampaikan harapannya agar bantuan sembako segera turun. Ia menegaskan warga tidak mempunyai pekerjaan yang dapat menghasilkan uang sebelum situasi pascagempa kembali pulih.
“Kami berharap agar secepatnya mendapat bantuan sembako karena kami tidak memiliki pekerjaan yang bisa menghasilkan uang sebelum kondisi pascagempa ini berakhir,” tuturnya.
Berita Terkait
Dalam kondisi tersebut, kebutuhan bagi bayi dan balita juga menjadi sorotan tersendiri. Teofilus menyebut pasokan nutrisi tambahan serta perlengkapan sanitasi anak di posko pengungsian sangat terbatas.
Ia menyampaikan bahwa balita membutuhkan perhatian khusus terkait kebutuhan dasar. “Balita sangat membutuhkan susu SGM dan pampers,” ungkap Teofilus.
Warga berharap penyaluran bantuan tanggap darurat tidak berhenti pada bantuan umum, tetapi juga menyasar kebutuhan spesifik kelompok rentan, termasuk obat-obatan untuk menangani demam dan flu serta perlengkapan untuk bayi dan balita.
Desakan agar bantuan medis dan obat segera sampai
Teofilus menilai keterlambatan penanganan dapat membuat kondisi penyakit pada pengungsi semakin sulit dikendalikan. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah dan dinas kesehatan segera menindaklanjuti situasi yang terjadi di posko.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, Pemerintah Provinsi NTT, serta dermawan dan lembaga kemanusiaan dapat segera menyalurkan bantuan secara langsung ke lokasi mereka. Upaya tersebut diharapkan mampu mempercepat pemeriksaan kesehatan dan memastikan ketersediaan obat serta kebutuhan pokok bagi warga pengungsi.
“Kami mewakili seluruh masyarakat yang ada di Kampung Kedeng, Desa Golo Tolang, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur,” pungkas Teofilus.
Menurut penuturan Teofilus, keluhan kesehatan yang dialami warga tidak muncul secara terpisah, tetapi saling berkaitan dengan situasi setelah gempa. Ketika warga harus bertahan di pengungsian dan melakukan aktivitas terbatas, berbagai gangguan seperti demam dan flu cenderung lebih mudah menimpa anak-anak hingga orang tua. Ia juga menilai perubahan kondisi di sekitar posko turut memengaruhi daya tahan tubuh warga.
Dalam pandangan keluarga pengungsi, kebutuhan di lapangan perlu dipenuhi secara menyeluruh agar penanganan tidak hanya berhenti pada tahap pemeriksaan. Bantuan diharapkan mencakup obat-obatan untuk menangani keluhan yang muncul, sekaligus dukungan layanan dasar lain seperti pemenuhan pangan. Warga juga berharap ada perhatian khusus untuk kebutuhan bayi dan balita, termasuk perlengkapan sanitasi dan nutrisi tambahan yang selama ini dirasakan sangat terbatas.
Teofilus menegaskan, dukungan yang datang diharapkan bisa segera tiba dan ditangani langsung di lokasi pengungsian. Dengan begitu, pemeriksaan dapat dilakukan pada kelompok rentan tanpa menunggu terlalu lama, sementara kebutuhan pokok dan kebutuhan spesifik tetap terpantau. Harapan itu sekaligus menjadi bentuk desakan agar penyaluran bantuan tanggap darurat tidak berhenti pada bantuan umum semata.












