jurnalistik.co.id – Jenazah Ahmad Zaky, relawan sekaligus Founder Gerak Bareng, dibawa ke Jakarta pada Sabtu (22/8/2026) siang. Proses penerbangan dijadwalkan berlangsung pada pukul 13.00 WITA.
Ahmad Zaky meninggal dunia saat menjalankan tugas kemanusiaan di wilayah Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Saat itu, ia disebut meninggal setelah mendistribusikan logistik pascagempa di daerah setempat.
Selama perjalanan dari Flores menuju ibu kota, jenazah didampingi Andri Kurniawan (45). Andri menyatakan bahwa ia telah menemani almarhum sejak jenazah berada di Manggarai hingga tiba di Jakarta.
Rangkaian duka kemudian berlanjut dengan proses penyelenggaraan jenazah di Jakarta. Andri menyebut jenazah akan disemayamkan di Masjid Jami’ As-Shiroth.
Setelah tahap penyemayan, jenazah dijadwalkan dimakamkan di TPU Sukabumi Selatan pada pukul 20.00 WIB malam ini, Sabtu (22/8/2026). Waktu pemakaman tersebut disampaikan Andri berdasarkan informasi yang ia terima dari keluarga.
Andri juga menjelaskan bahwa almarhum memiliki riwayat kesehatan. Informasi ini ia peroleh langsung dari pihak keluarga.
“Kalau dari keluarga katanya ada riwayat sakit cuma memang ada jadwal untuk periksa. Untuk kontrol ke dokter. Kurang tahu juga saya keluhan apa,” kata Andri kepada Kompas.com.
Menurut Andri, Ahmad Zaky berada di Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai sejak hari kedua pascagempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores. Ia hadir untuk mendukung upaya bantuan di lokasi terdampak.
Berita Terkait
Andri menuturkan bahwa almarhum datang ke lapangan secara langsung dari Jakarta. Ia tidak datang dengan rombongan, melainkan berangkat sendiri setelah mendengar kabar bencana, lalu bertemu dengan banyak rekan dan pihak-pihak yang juga terlibat di lokasi.
“Beliau datang sendiri dari Jakarta. Sampai di lapangan bertemu dengan banyak teman-teman,” lanjut Andri.
Dalam perjalanan misi kemanusiaan tersebut, Ahmad Zaky menjadi bagian dari upaya bantuan bagi warga yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur. Keberangkatan dan keterlibatan almarhum yang berfokus pada distribusi logistik disebut menjadi konteks yang melatarbelakangi kabar duka yang kini sampai ke Jakarta.
Bagi keluarga dan rekan-rekan relawan, jadwal penyemayan di Masjid Jami’ As-Shiroth serta pemakaman di TPU Sukabumi Selatan pada pukul 20.00 WIB menjadi penanda berakhirnya perjalanan jenazah dari Flores menuju tempat peristirahatan terakhir. Prosesi tersebut juga diharapkan menjadi ruang penghormatan sebelum almarhum dimakamkan malam ini.
Pihak keluarga maupun kawan-kawan relawan menyampaikan bahwa tahap pemakaman sudah tersusun sejak jenazah berada di Jakarta. Penjadwalan itu disampaikan Andri berdasarkan informasi yang diterimanya, sehingga rangkaian akhir prosesi dapat berjalan sesuai urutan yang direncanakan.
Dalam keterangannya, Andri menuturkan bahwa almarhum sejak hari kedua pascagempa berada di Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Lokasi tersebut menjadi titik tumpu dukungan bantuan, dan Ahmad Zaky hadir untuk ikut mengupayakan distribusi kebutuhan bagi warga yang terdampak.
Andri juga menggambarkan bahwa keberangkatan dari Jakarta ke Flores maupun sebaliknya tidak berlangsung sebagai perjalanan rombongan besar. Ia menyebut Ahmad Zaky kemudian bertemu dengan banyak rekan di lapangan, setelah kabar bencana menyebar dan berbagai pihak mulai bergerak sesuai perannya masing-masing.
Mengenai kondisi kesehatan almarhum, Andri menyampaikan adanya riwayat sakit yang diketahui dari keluarga. Ia mengatakan informasi tersebut disertai penjelasan bahwa terdapat jadwal kontrol ke dokter, termasuk rencana pemeriksaan, meski detail keluhan tidak ia ketahui secara rinci.
Di sela berjalannya rangkaian duka, penyemayaman di Masjid Jami’ As-Shiroth dipandang sebagai waktu untuk penghormatan sebelum proses pemakaman. Setelah itu, jenazah dijadwalkan dimakamkan di TPU Sukabumi Selatan pada pukul 20.00 WIB malam ini, sesuai penuturan Andri yang mengacu pada kabar dari keluarga.












