Peristiwa

Beras Kian Menipis, Terpal Tak Kunjung Ada: Korban Gempa Flores di Manggarai Bertahan 7 Hari di Posko Mandiri

×

Beras Kian Menipis, Terpal Tak Kunjung Ada: Korban Gempa Flores di Manggarai Bertahan 7 Hari di Posko Mandiri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Beras Menipis, Terpal Tak Ada, Korban Gempa Flores di Manggarai Bertahan 7 Hari di Posko Mandiri

jurnalistik.co.id – Sejumlah warga Wangkung Reo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, bertahan di posko yang dibangun sendiri sejak gempa Flores bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah mereka. Mereka memilih tinggal di luar rumah karena bangunan tempat tinggal rusak, sekaligus menjaga diri dari kemungkinan gempa susulan.

Warga melaporkan sudah menjalani hari ke tujuh di posko mandiri. Laurensius Emanuel, salah satu warga Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok, mengatakan mereka membangun tempat berteduh secara swadaya di sekitar permukiman agar tetap aman sambil menunggu situasi membaik.

Menurut Laurensius, sampai Sabtu (22/8/2026), bantuan logistik yang mereka harapkan belum tersedia dalam ukuran yang memadai. Kebutuhan tersebut mencakup sembako, tenda, serta kebutuhan darurat lainnya yang selama masa bertahan menjadi penopang utama warga di posko.

Ia menjelaskan bahwa bantuan memang sudah mengalir ke posko-posko terpusat. Namun, warga yang mendirikan posko mandiri justru belum memperoleh dukungan yang sama. Laurensius menyebut beberapa posko pusat yang telah didatangi bantuan, seperti Barang Kolong dan Golo Conggo.

“Kami pasca gempa 7,7 memilih membangun posko secara mandiri di luar rumah untuk melindungi diri dari gempa susulan, sementara rumah-rumah kami juga sudah hancur parah. Sampai saat ini, meski bantuan sudah turun ke posko-posko terpusat, kami yang bangun posko secara mandiri belum dapat bantuan apa-apa dari pemerintah, baik sembako maupun logistik lainnya,” ujar Laurensius, diikuti pernyataan warga lainnya.

Ketika bantuan belum sepenuhnya menjangkau, kebutuhan harian mulai menekan warga, terutama menyangkut persediaan bahan makanan. Dalam kondisi tersebut, suplai pokok seperti beras menjadi semakin sulit dipertahankan dari hari ke hari.

Laurensius menuturkan, stok beras yang tersisa kini menipis. Ia mengatakan, warga sebelumnya sempat menerima beras dari pemerintah, tetapi jumlahnya dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan di tiap posko mandiri. Di lapangan, satu posko dapat dihuni hingga lima kepala keluarga, sehingga satu kali bantuan tidak otomatis mencukupi kebutuhan semua warga.

Ia merinci bantuan beras yang pernah diterima yakni 2 kilogram. Namun, dengan komposisi penghuni posko yang beragam, kiriman tersebut tidak bertahan lama. Akibatnya, warga harus mencari cara lain agar bisa tetap makan dan memenuhi kebutuhan pangan harian.

Selain persoalan jumlah bantuan, ketersediaan beras untuk membeli kembali juga terbatas. Laurensius menyebut ada warga yang memiliki padi, tetapi tempat penggilingan tidak beroperasi. Pada saat yang sama, toko-toko yang biasanya menjual beras juga belum buka, sehingga opsi untuk mendapatkan pengganti menjadi makin sempit.

Kondisi tersebut dirasakan semakin berat bagi warga yang memilih mengungsi di posko mandiri, bukan tinggal di lokasi pengungsian yang terpusat. Di posko-psoko mandiri, akses terhadap bantuan dan pembelian kebutuhan dasar tidak seluas yang tersedia di pusat layanan.

Terpal belum tersedia untuk perlindungan

Tak hanya soal pangan, warga juga membutuhkan perlindungan dari cuaca. Mereka menyatakan terpal atau tenda sangat diperlukan untuk melindungi tubuh dan barang-barang seadanya selama bertahan di luar rumah.

Laurensius mengatakan hingga waktu pengamatan, warga di posko mandiri belum mendapatkan bantuan terpal dari pemerintah. Padahal, tanpa perlindungan, aktivitas harian warga menjadi lebih sulit karena harus menanggung perubahan kondisi cuaca sambil tetap menjaga keamanan dari dampak gempa.

Dalam penuturan warga, kebutuhan yang belum terpenuhi membuat mereka bertahan dengan cara yang serba terbatas. Sejumlah bantuan yang sudah ada lebih banyak terkonsentrasi di titik-titik tertentu, sehingga posko mandiri yang tersebar tidak ikut menerima dukungan secara merata.

Situasi ini, menurut para warga, berdampak langsung pada kemampuan mereka memenuhi kebutuhan dasar selama masa transisi setelah gempa. Ketika beras menipis dan perlindungan belum memadai, tantangan terbesar terletak pada bagaimana warga menjaga kelangsungan hidup harian sambil tetap menunggu respons bantuan yang lebih menyeluruh.

Warga berharap pemerintah dapat menyalurkan bantuan logistik, termasuk sembako dan perlengkapan perlindungan seperti terpal, agar posko mandiri yang sudah terbangun sendiri juga dapat terjangkau. Mereka menilai pemerataan dukungan penting karena pilihan tinggal di luar rumah bukan dilakukan tanpa alasan, melainkan untuk menghindari risiko dari kerusakan rumah dan kemungkinan gempa susulan.