Olahraga

Piala Dunia 2026: FA mempertimbangkan banding atas kartu merah Jarell Quansah vs Meksiko

×

Piala Dunia 2026: FA mempertimbangkan banding atas kartu merah Jarell Quansah vs Meksiko

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: FA could appeal after Jarell Quansah red card v Mexico

jurnalistik.co.id – Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) tengah menimbang langkah setelah bek mereka, Jarell Quansah, menerima kartu merah pada laga Piala Dunia 2026 saat Inggris mengalahkan Meksiko dengan skor 3-2.

Quansah dikeluarkan pada menit ke-54 setelah sebuah tekel yang dinilai “berbahaya” terhadap Jesus Gallardo. Karena insiden tersebut diklasifikasikan sebagai pelanggaran serius, pemain Bayer Leverkusen itu berpotensi terkena sanksi dua pertandingan.

Dengan kondisi itu, FA kini mengevaluasi opsi yang tersedia untuk merespons kartu merah Quansah, sekaligus memetakan dampaknya terhadap rencana tim pada fase turnamen berikutnya.

Keputusan yang sedang dipikirkan FA berangkat dari preseden yang sebelumnya terjadi di ajang yang sama. Sebelumnya, penyerang bintang Amerika Serikat, Folarin Balogun, juga pernah menerima kartu merah, namun sanksinya kemudian ditinjau ulang dan akhirnya dibatalkan untuk memenuhi prinsip otomatis penggantian hukuman.

Balogun menerima kartu merah akibat pelanggaran terhadap Tarik Muharemovic pada babak 32 besar. Ia semula dijadwalkan absen pada laga 16 besar melawan Belgia, tetapi keputusan FIFA justru mengejutkan karena menghentikan efek larangan otomatis selama satu pertandingan dan menangguhkannya untuk periode 12 bulan.

Keputusan tersebut memicu kritik luas di lingkungan sepak bola. Kritik datang tidak hanya dari berbagai pihak di kompetisi, tetapi juga dari badan sepak bola tingkat Eropa, serta dari pelatih Inggris Thomas Tuchel dan pihak Belgia.

Dalam konteks regulasi, Piala Dunia pada dasarnya tidak menyediakan mekanisme banding untuk kartu merah. Namun, FIFA memilih menggunakan klausul artikel 27 dalam aturan mereka untuk menangguhkan hukuman Balogun. Klausul itu, menurut laporan, belum pernah dipakai dalam Piala Dunia sebelumnya.

Dampak paling mungkin dari penggunaan klausul tersebut adalah terbukanya pintu bagi banyak pihak untuk mengajukan banding atau permintaan serupa. Situasi ini bahkan ikut menyeret perhatian pada kasus lain: laporan menyebut Prancis sedang menantang kartu kuning yang diterima Michael Olise saat mereka menang atas Paraguay. BBC Sport juga menghubungi federasi sepak bola Prancis untuk mendapatkan komentar.

Di sisi Amerika Serikat, otoritas setempat menyatakan kartu merah Balogun tidak seharusnya diberikan karena tidak ada unsur kesengajaan. Akan tetapi, argumen kesengajaan tidak lagi menjadi unsur utama dalam hukum sepak bola beberapa tahun terakhir; yang dipertimbangkan adalah hasil dari insiden itu sendiri.

FIFA tidak membatalkan kartu merah Balogun. Artinya, sanksi dalam bentuk pengusiran tetap terjadi, namun larangan otomatis untuk satu pertandingan yang biasanya menyusul keputusan tersebut tidak dijalankan, sesuai penangguhan yang diputuskan melalui klausul artikel 27. Dengan kata lain, pemain tersebut seolah menjalani “sin-bin” sementara pada fase turnamen, tanpa konsekuensi larangan penuh sesuai mekanisme awal.

Karakter pelanggaran juga menjadi bahan bandingan. Meski sanksi dapat tampak keras karena benturannya terjadi dalam kondisi yang tidak disengaja, sejumlah tekel semacam “studs” pada posisi tertentu umumnya berujung pada pengusiran. Skenario itu turut menjelaskan mengapa putusan kartu merah sering dianggap sesuai dengan pola penilaian wasit, terutama pada serangan kaki yang mengarah ke area tidak terlindungi.

Faktor Quansah dan kekhawatiran posisi kanan Inggris

Insiden Quansah memiliki nuansa yang berbeda dari kasus Balogun, tetapi tetap berada pada spektrum pelanggaran yang dinilai berbahaya. Quansah melakukan gerakan meluncur saat melakukan duel, sementara kesamaan yang dicatat adalah adanya kontak dengan sepatu pada situasi yang dinilai tidak disengaja namun tetap menimbulkan risiko.

Jika sanksi dua pertandingan benar-benar dijalankan, hal itu akan menambah pekerjaan rumah bagi Inggris, terutama di posisi bek kanan. Thomas Tuchel menempatkan sektor tersebut sebagai salah satu titik perhatian selama turnamen berlangsung.

Sepanjang Piala Dunia, beberapa pemain sempat mengisi pertahanan sisi kanan, termasuk Reece James, Djed Spence, Ezri Konsa, John Stones, Quansah, hingga gelandang Declan Rice. Namun, situasi ketersediaan pemain tidak seragam.

James, yang menjadi opsi utama sebagai bek kanan, tidak tersedia sejak mengalami cedera hamstring pada pertandingan grup kedua melawan Ghana. Sejak saat itu, ia melewatkan laga-laga melawan Panama, DR Congo, dan Meksiko.

Quansah sendiri sempat mengalami cedera saat Inggris menghadapi Panama, tetapi ia dinyatakan cukup pulih untuk menjadi starter ketika tim bertemu Meksiko. Kini, kartu merah yang diterimanya membuat FA harus memastikan bagaimana pembagian pemain dan rotasi di sektor kanan akan berjalan jika hukuman tetap berlaku.

Inggris akan menghadapi Norwegia pada babak perempat final yang digelar di Miami, pada hari Sabtu. Di tengah jadwal yang semakin ketat, keputusan FA terkait upaya hukum atas kartu merah Quansah bisa menjadi penentu kesiapan tim menjelang laga tersebut.