Daerah

Menanti Panggilan dari Menteng: Pembeli Barang Bekas Menghidupi Keluarga

×

Menanti Panggilan dari Menteng: Pembeli Barang Bekas Menghidupi Keluarga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Menunggu Panggilan dari Rumah-Rumah Elite Menteng demi Nafkah Keluarga

jurnalistik.co.id – Di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, rumah-rumah berhalaman luas dan berpagar tinggi ternyata menyimpan rutinitas yang tidak terlihat dari jalan utama. Salah satunya dialami Suwito (55), pembeli barang bekas yang tiap hari menyusuri gang dan jalan di lingkungan elite itu sambil menunggu panggilan datang.

Sejak sekitar pukul 08.00 WIB, ia mendorong gerobak kayunya pelan-pelan. Di sisi gerobak itu tertulis jelas, “Beli Barang Bekas”, semacam penanda bahwa ia bukan pemulung yang mengambil barang buangan, melainkan orang yang datang untuk membeli.

Pria asal Pemalang, Jawa Tengah, menyebut pekerjaan ini telah ia jalani selama 36 tahun. Ia datang dengan modal untuk bernegosiasi dan membeli, bukan dengan tujuan memungut barang yang sudah tidak digunakan pemiliknya.

Menanti satu panggilan yang menentukan hari

Langkah Suwito tak selalu mudah, terutama saat panas menguat. Dalam satu kunjungan pada Jumat (3/7/2026), gerobaknya tampak hampir kosong: hanya ada beberapa lembar kardus dan botol minum.

Namun, ia tetap berjalan. Baginya, hasil akhirnya bergantung pada ada atau tidaknya penghuni rumah atau asisten rumah tangga yang memanggil untuk membeli barang bekas. “Kadang memang begini. Dua hari juga bisa kosong,” ujar Suwito saat ditemui di kawasan Menteng.

Ia mengaku bahwa kekosongan semacam itu bukan hal yang langka. Ada hari-hari ketika, meski sudah memulai sejak pagi, ia belum mendapatkan satu pun barang sampai waktu tertentu. Meski begitu, harapan akan satu panggilan dari sebuah rumah cukup untuk membuat ia tidak berhenti.

Barang yang dicari dan perubahan selera

Untuk setiap putaran belanja, Suwito biasanya menargetkan beragam material yang masih memiliki nilai jual. Ia menyebut mulai dari besi, aluminium, tembaga, kardus, hingga meja dan kursi berbahan logam.

Menurutnya, pasar barang bekas ikut berubah. “Kalau kayu sekarang sudah enggak laku. Dulu masih ada yang beli,” katanya, mengindikasikan bahwa jenis barang tertentu kini lebih sulit diputar ulang menjadi keuntungan.

Barang yang berhasil dibelinya kemudian dijual kembali kepada pengepul. Keuntungan yang ia ambil berasal dari selisih harga beli dan harga jual, sehingga ketepatan mendapatkan barang—dan waktu—menjadi penentu pemasukan harian.

Modal dari bos atau pengepul

Suwito menegaskan bahwa modal kerjanya tidak bersumber dari tabungan pribadi. “Biasanya dikasih modal sama bos atau pengepul sekitar Rp 500.000 buat beli barang,” ujarnya.

Dengan modal sebesar itu, ia menjadwalkan perputaran hasil belanja ke pengepul bila kesempatan terbuka. Jika sedang beruntung, ia bisa menyetor dua kali dalam sehari. Sebaliknya, ketika pasarnya sepi, ia cenderung baru pulang menjelang sore dengan gerobak yang nyaris tidak bertambah.

Karena itulah pendapatannya tidak datang dengan pola yang sama setiap hari. “Kadang Rp 100.000, kadang Rp 300.000 sampai Rp 500.000 kalau lagi bagus,” tuturnya. Ia juga mengakui bahwa tidak sedikit hari di mana ia pulang tanpa membawa keuntungan sama sekali.

Persaingan makin ketat

Suwito mengaitkan naik-turunnya hasil dengan persaingan yang makin rapat. Menurutnya, jumlah pembeli barang bekas yang berkeliling kini bertambah, sehingga peluang mendapatkan barang dari satu rumah bisa lebih kecil.

“Kayaknya sekarang sudah banyak yang keliling. Jadi saingan makin banyak. Kadang barangnya sudah dijual ke orang lain,” ujarnya. Kalimat itu menggambarkan bahwa barang yang sebelumnya masih bisa ditawar dari rumah ke rumah, kini kerap sudah lebih dulu berpindah tangan sebelum ia datang.

Ia menyebut kondisi serupa dialami pembeli barang bekas lain asal Pemalang yang telah 15 tahun berkeliling di Menteng. Hingga siang hari, orang tersebut mengaku belum memperoleh satu pun barang.

Bagi Suwito, pekerjaan yang bergantung pada panggilan di rumah-rumah elite sekaligus menunjukkan betapa rutinitas ekonomi informal berjalan dengan ketidakpastian. Di balik rumah yang tertutup pagar tinggi, ia terus menunggu momen ketika seseorang memutuskan barang bekas layak ditukar dengan uang—sekaligus menjadi jalan untuk menghidupi keluarganya di kampung.