Olahraga

Piala Dunia: 8 dari 10 negara terpadat tak masuk turnamen

×

Piala Dunia: 8 dari 10 negara terpadat tak masuk turnamen

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Eight of the 10 most populous countries are not in the World Cup

jurnalistik.co.id – Menjelang Piala Dunia, fakta yang muncul justru bertolak belakang dengan intuisi: delapan dari sepuluh negara berpenduduk terbesar tidak ikut turnamen saat ini. Fenomena itu memunculkan pertanyaan besar, seberapa jauh ukuran populasi benar-benar menentukan prestasi sepak bola sebuah bangsa.

Di ajang kali ini, hanya Amerika Serikat dan Brasil yang berhasil menembus turnamen. Sementara itu, Rusia dan Nigeria pernah tampil pada beberapa edisi sebelumnya, namun tidak berada dalam daftar peserta saat ini.

Untuk Asia dan sebagian negara lain, keterlibatan mereka juga tidak konsisten. China dan Indonesia baru sekali tampil, sedangkan India—meski secara teknis lolos untuk Piala Dunia 1950 di Brasil—mundur kurang dari sebulan sebelum kompetisi dimulai.

Di luar hitungan statistik, ada cerita yang terasa nyata di ruang publik. Pada 17 Juni, suasana kacau mewarnai kerumunan penonton saat Lionel Messi mencetak gol pertama Piala Dunia FIFA 2026-nya dari Argentina.

Namun tidak ada satu pun orang Argentina di tengah kerumunan itu. Yang hadir adalah warga setempat dalam pesta nonton bersama terbuka di ibukota Bangladesh, Dhaka, banyak di antaranya memakai jersey albiceleste.

Perhatian yang sama juga terlihat di beberapa kota lain, termasuk di India dan Indonesia, yang menyelenggarakan pertemuan jalanan serupa. Dalam pandangan sebagian suporter, ketertarikan mereka “mengadopsi” tim kuat muncul karena tim dan negara mereka berulang kali gagal kualifikasi.

Populasi bukan jaminan, tapi membuka peluang Secara teori, negara dengan populasi besar memiliki lebih banyak “pasar” untuk menemukan atlet. Konsep itu tampak selaras dengan fakta bahwa tujuh dari delapan negara yang pernah menjuarai Piala Dunia—Argentina, Brasil, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Spanyol—memiliki jumlah penduduk yang relatif besar.

Tetapi ada pengecualian penting, seperti Uruguay. Selain itu, hubungan antara populasi dan prestasi tidak otomatis dan tidak berdiri sendiri.

Menurut akademisi dan ekonom Inggris Stefan Szymanski, sepak bola memiliki kemiripan dengan cara ekonomi nasional bekerja. “Untuk negara agar bisa berkembang, Anda membutuhkan orang, tetapi juga membutuhkan modal serta infrastruktur,” ujar Szymanski, seraya menegaskan bahwa dalam sepak bola itu berarti fasilitas latihan dan kemampuan menemukan bakat.

Ia menambahkan bahwa banyak negara yang konsisten sukses memiliki penanda lain: kekayaan. Dalam riset mereka di Soccernomics, Szymanski dan Simon Kuper menemukan bahwa negara umumnya memerlukan “pendapatan rata-rata per kapita minimal $15.000 per tahun” untuk bisa meraih sesuatu yang berarti.

Meski begitu, Brasil dan Argentina merupakan contoh yang mengganggu pola itu. Kedua negara memiliki pendapatan per kapita yang berada jauh di bawah ambang tersebut, namun secara kumulatif sudah memenangi delapan gelar Piala Dunia.

Szymanski membaca situasi itu sebagai isyarat tentang faktor ketiga, yaitu know-how. “Dan itu datang dari pengalaman,” katanya, “Bangsa-bangsa yang pernah menjuarai Piala Dunia adalah yang dominan memainkan permainan itu seratus tahun lalu, sebelum kolonialisme berakhir.”

Menang karena waktu bermain, bukan sekadar umur negara Cara mengejar ketertinggalan, dalam kacamata Szymanski, juga berkaitan dengan seberapa lama sebuah negara bermain dan bersaing di level yang relevan. Ia menilai negara-negara sukses—termasuk yang rutin tampil—biasanya telah memainkan lebih banyak pertandingan dalam sejarahnya, terutama di kawasan dengan tingkat kompetitif tinggi seperti Amerika Selatan dan Eropa.

Penjelasan itu menjalar pada kasus Uruguay. Negara dengan penduduk sekitar 3,5 juta tersebut mampu meraih dua gelar Piala Dunia, yakni pada 1930 dan 1950.

Dalam catatan sejarah yang disorot BBC, pertandingan internasional pertama La Celeste terjadi pada 1902, berakhir kekalahan 0-6 melawan Argentina. Jauh sebelum Brasil memainkan pertandingan representatif pertama mereka.

Sementara itu, banyak negara Afrika dan Asia Selatan yang memiliki sejarah lebih singkat atau sepak bola berkembang belakangan, sehingga harus bekerja lebih keras untuk mengejar standar yang sudah mapan. Ada contoh kemajuan, misalnya Maroko yang merdeka dari Spanyol dan Prancis pada 1956 dan menjadi satu-satunya tim Afrika yang pernah mencapai semifinal Piala Dunia 2022 di Qatar.

Begitu juga Korea Selatan yang menjadi satu-satunya wakil Asia yang menembus empat besar sebagai tuan rumah pada 2002. Meski demikian, Szymanski menilai ada pula negara yang sulit “tidak catching up”, termasuk Indonesia, India, Bangladesh, dan lainnya.

Hambatan sumber daya dan kapasitas nyata Menurut ekonom tersebut, kesulitan yang dialami banyak negara berkaitan dengan kekurangan sumber daya dan kemampuan yang diperlukan. Bahkan jika investasi dinaikkan, persoalan know-how tetap berpotensi menjadi penghambat.

Untuk Ethiopia, perjalanan kualifikasi juga tidak pernah sampai ke Piala Dunia. Negara itu memang pernah menjuarai Piala Afrika pada 1962, tetapi peluang paling dekat terjadi pada kualifikasi Afrika 2014, saat Ethiopia mencapai babak final namun kalah dari Nigeria dalam dua leg.

Di sisi domestik, kondisi sepak bola Ethiopia digambarkan media lokal sebagai kurang investasi. Salah satu contohnya, kompetisi Liga Utama musim yang sedang berjalan mengalami kekurangan stadion yang layak untuk pertandingan.

“Musim ini, kami menggelar lebih dari 380 pertandingan dengan hanya tiga stadion yang disetujui,” kata CEO Liga Utama Ethiopia, Kifle Seife, kepada The Reporter pada 27 Juni. Kekurangan itu turut memengaruhi tim nasional putra, yang harus memainkan laga kandang dalam kualifikasi di Maroko.

Kerumitan di Asia Selatan: dominasi kriket Ada pula negara yang menghadapi masalah karena “kesuksesan” olahraga lain menyedot ruang dan bakat. India disebut sebagai salah satu kekuatan kriket dunia, dan liga profesionalnya, IPL, merupakan yang terkaya di dunia.

Menurut mantan pemain internasional India Shyam Thapa, keberhasilan IPL membuat perekrutan pemain sepak bola menjadi lebih sulit. Ia mengatakan kesuksesan liga itu mendorong orang tua kelas menengah hingga kelas atas untuk mengarahkan anak-anak menjauh dari sepak bola dan menuju kriket.

“Mereka [orang tua] perlu memahami bahwa jika mereka bisa menjadikan sepak bola sebagai karier, ada uang yang baik juga,” ujar Thapa kepada BBC News.

Audite Karim, aktor, penulis, dan penggemar sepak bola Bangladesh, tidak sepenuhnya sependapat bahwa kriket semata-mata menjadi akar masalah. Ia menilai Australia dan Selandia Baru tetap bisa mengembangkan sepak bola dan menembus Piala Dunia meski sama-sama kuat di kriket.

“Popularitas kriket murni hanya alasan,” kata Karim tentang Bangladesh. Ia menambahkan, “Kami tidak punya persiapan dan kerangka struktural yang dibutuhkan agar sebuah negara bisa bermain di Piala Dunia [sepak bola].”

Kasus China: investasi besar tapi keputusan top-down China juga kerap dianggap “lebih membingungkan” dibanding negara lain. Dalam beberapa dekade terakhir, China menjadi salah satu yang paling berhasil dalam sejarah Olimpiade, tetapi upaya di sepak bola putra tidak menghasilkan capaian setara.

Mark Dreyer, pakar sepak bola China yang berbasis di Beijing, meyakini bahwa secara teori China bisa menghasilkan pemain level dunia. Namun ia menekankan hambatan tata kelola. “Masalah utamanya adalah di China semuanya dikendalikan negara dan mengalir dari atas ke bawah,” katanya. “Anda butuh orang-orang sepak bola yang membuat keputusan sepak bola, tetapi gangguan politik terlalu besar.”

China tidak kembali ke Piala Dunia sejak 2002, meski sejak tahun 2010-an investasi untuk sepak bola cukup besar. Upaya itu termasuk “mengalirkan” sejumlah nama terkenal dari sepak bola Amerika Selatan dan Eropa ke liga profesional untuk menaikkan kualitas permainan.

Indonesia, yang juga sempat merasakan aksi Piala Dunia sekali sebelumnya pada 1938 saat masih bernama Hindia Belanda, mengalami pola serupa: keterlibatan yang lebih dipengaruhi strategi pemain ketimbang pembinaan lokal. Tim Asia Tenggara itu tampil baik pada kualifikasi 2026, sampai mencapai babak final, namun penampilan itu dinilai lebih dekat dengan keputusan merekrut pemain Eropa berdarah Indonesia.

Jerome Wirawan, News Editor layanan BBC Indonesia, menyebut bahwa pada beberapa fase kualifikasi, susunan starter Indonesia memuat “delapan atau sembilan pemain yang lahir di Eropa”.

Politik dan problem regenerasi: Pakistan dan Bangladesh Dari kualifikasi Asia, Pakistan dan Bangladesh tersingkir di fase grup tanpa meraih kemenangan dalam enam pertandingan. Pakistan juga menghadapi larangan dari FIFA sebanyak tiga kali pada periode 2017 hingga 2025 akibat konflik politik di tubuh federasi mereka.

Dalam konteks itu, bagi penggemar di banyak negara, kejayaan Piala Dunia mungkin terasa jauh. Namun bagi sebagian suporter, ada cara lain untuk tetap merayakan turnamen sambil menahan jarak terhadap mimpi lolos.

Karim menyampaikan pandangannya dengan nada suram namun tegas. “Dengan kenyataan yang ada, saya tidak melihat kemungkinan melihat Bangladesh bermain di Piala Dunia selama hidup saya.”

Meski begitu, ia yakin penggemar Bangladesh tetap ingin merasakan setiap momen kegembiraan turnamen, meski jalur menuju panggung utama masih panjang.