Internasional

Aktivis GSF Tuding Israel Bertindak Brutal: “Mereka Perlakukan Hewan Lebih Baik”

7
×

Aktivis GSF Tuding Israel Bertindak Brutal: “Mereka Perlakukan Hewan Lebih Baik”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Aktivis GSF Sebut Israel Bertindak Brutal: “Mereka Perlakukan Hewan Lebih Baik”

jurnalistik.co.id – ISTANBUL — Sejumlah aktivis “Flotilla for Gaza” menuding pasukan Israel melakukan kekerasan saat mencegat kapal mereka di perairan internasional dalam perjalanan menuju Gaza. Salah satu aktivis asal Belgia, Julien Cabral, mengaku mengalami luka di wajah dan tubuh setelah kapal yang ditumpanginya dihentikan oleh pasukan Israel.

Cabral tiba di Bandara Istanbul pada Kamis (21/5/2026) setelah dievakuasi bersama ratusan orang lain oleh pemerintah Turkiye. Ankara diketahui telah mengevakuasi 422 orang dengan penerbangan khusus, termasuk 85 warga negaranya sendiri, serta menyiapkan dokter dan ambulans untuk para aktivis yang dipulangkan.

Aktivis berusia 57 tahun itu mengatakan, dirinya berada di kapal kecil yang berangkat dari Turkiye bersama enam aktivis lain. Mereka berasal dari Italia, Belgia, Malaysia, Finlandia, Kanada-Palestina, dan Afrika Selatan.

Menurut Cabral, sekitar 10 personel pasukan Israel mencegat kapal mereka di perairan internasional, lebih dari 500 kilometer dari pantai Israel, pada Senin (18/5/2026). Ia menggambarkan momen itu berlangsung ketika kapal masih berada di siang bolong dan komunikasi kapal lebih dulu dibuat kacau.

“Mereka pertama-tama mengacaukan komunikasi lalu menaiki kapal di siang bolong dengan senjata dan menembakkan peluru plastik hanya untuk bersenang-senang,” kata Cabral, seperti dikutip AFP.

Cabral menambahkan, saat insiden itu terjadi, kapal mereka ternyata menjadi kapal ke-12 yang dicegat. Ia juga menyebut ada korvet di sekeliling mereka, sementara pasukan bergerak dengan sangat keras meski seluruh penumpang kapal telah mengangkat tangan.

“Kami mengetahui bahwa kami adalah kapal ke-12 yang dicegat. Kami terkejut. Ada korvet di sekeliling kami. Mereka bergerak dengan sangat keras meski kami semua mengangkat tangan,” lanjutnya.

Cabral menyebut pasukan yang mencegat mereka adalah komando marinir Israel. Ia juga mengklaim dirinya dipukul ketika pengambilalihan kapal dimulai. Menurut dia, kapten kapal yang merupakan warga Italia masih berdiri ketika pasukan langsung menargetkannya.

“Kapten kami, orang Italia, masih berdiri dan mereka langsung menargetkannya. Saya mendapat pukulan di pelipis kiri,” ujarnya.

Ia mengatakan para aktivis kemudian dipindahkan dengan tangan terikat kabel plastik ke sebuah “kapal penjara” dan ditempatkan di dalam kontainer. Cabral menuturkan, selama proses itu ia mendengar suara orang-orang yang berbicara dalam bahasa Inggris dan mengatakan “ayo bersenang-senang”.

Dalam keterangannya, Cabral juga menyebut para tahanan meminta bertemu dokter selama tiga hari, tetapi permintaan itu terus dijawab dengan kata “nanti, nanti”.

Keterangan Cabral menjadi salah satu dari sejumlah kesaksian aktivis yang menyoroti cara pasukan Israel mencegat armada tersebut. Dari pengakuannya, insiden itu tidak hanya melibatkan penghentian kapal di laut lepas, tetapi juga pemindahan paksa, pembatasan akses medis, dan dugaan kekerasan fisik saat proses penangkapan berlangsung.

Peristiwa itu juga menambah perhatian pada nasib para aktivis yang semula dibawa dalam rangkaian pelayaran menuju Gaza. Setelah proses evakuasi oleh Turkiye, Cabral menjadi salah satu penumpang yang kemudian tiba di Istanbul dan menceritakan langsung pengalamannya setelah meninggalkan lokasi penahanan.

ISTANBUL — Sejumlah aktivis “Flotilla for Gaza” menuding pasukan Israel melakukan kekerasan saat mencegat kapal mereka di perairan internasional dalam perjalanan menuju Gaza. Salah satu aktivis asal Belgia, Julien Cabral, mengaku mengalami luka di wajah dan tubuh setelah kapal yang ditumpanginya dihentikan oleh pasukan Israel.

Cabral tiba di Bandara Istanbul pada Kamis (21/5/2026) setelah dievakuasi bersama ratusan orang lain oleh pemerintah Turkiye. Ankara diketahui telah mengevakuasi 422 orang dengan penerbangan khusus, termasuk 85 warga negaranya sendiri, serta menyiapkan dokter dan ambulans untuk para aktivis yang dipulangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *