jurnalistik.co.id – Hashim Djojohadikusumo memaparkan dua penggerak yang menurutnya bisa mendorong pertumbuhan Indonesia: sektor perumahan serta konektivitas internet yang terjangkau.
Ketua Satgas Perumahan sekaligus Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi ini menyampaikan pandangannya dalam Investor Daily Summit pada Rabu (7/10/2026).
Dalam paparannya, Hashim menempatkan perumahan sebagai potensi “driver” yang bekerja lintas rantai ekonomi, terutama jika diarahkan pada kebutuhan kelompok masyarakat tertentu.
“Menurut saya salah satu potensi driver for growth untuk Indonesia itu adalah perumahan. Khususnya perumahan sosial untuk kelas menengah,” kata Hashim.
Ia menilai besarnya ruang penguatan sektor tersebut tercermin dari kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Hashim menyebut, saat ini sektor perumahan berkontribusi sebesar 14% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Dengan angka kontribusi itu, Hashim melihat potensi pertambahan yang masih terbuka. Menurutnya, pertumbuhan perumahan tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan banyak aktivitas ekonomi lain yang turut bergerak ketika pembangunan properti berjalan.
Hashim menjelaskan keterkaitan itu melalui luasnya cakupan bidang industri yang tersentuh oleh kegiatan perumahan dan konstruksi. “Dan kita tahu bahwa perumahan dan konstruksi properti ada kaitan dengan 185 bidang atau sektor industri ekonomi kita. Antara lain mebel, listrik, kabel, bohlam listrik, semen, kayu, dan sebagainya,” sebut Hashim.
Rincian tersebut menunjukkan bahwa proyek perumahan pada akhirnya menyentuh berbagai komponen kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan infrastruktur. Di titik ini, daftar yang disebut Hashim—mulai dari mebel hingga semen—menggambarkan keterhubungan antara aktivitas pembangunan dengan pasokan barang dan layanan.
Lebih jauh, ketika pembangunan properti bergerak, kebutuhan akan material dan perlengkapan teknis ikut meningkat. Hashim secara spesifik menyebut sektor seperti listrik, kabel, serta bohlam listrik, yang memperlihatkan peran elemen pendukung di tahap konstruksi maupun kelengkapan fungsional sebuah hunian.
Berita Terkait
Ia juga menyoroti keterlibatan komponen berbasis material seperti kayu, yang relevan dalam proses produksi dan penyediaan bahan bangunan. Dengan cara pandang seperti ini, perumahan diposisikan sebagai pengungkit yang dapat memberi efek turunan ke banyak industri yang berbeda.
Selain perumahan, Hashim menempatkan konektivitas internet sebagai motor pertumbuhan berikutnya. Menurutnya, kemampuan akses terhadap internet yang terjangkau dapat menjadi pemicu aktivitas ekonomi karena memperluas jangkauan penggunaan layanan digital.
Untuk mendukung gagasannya, Hashim menyadur laporan McKinsey. Ia menyebut temuan bahwa setiap 10% populasi suatu negara tersambung dengan internet murah, maka pertumbuhan ekonomi bisa naik 0,7-1,3% per tahunnya.
Dengan kerangka tersebut, konektivitas internet dipahami sebagai faktor yang dapat mendorong laju pertumbuhan melalui peningkatan adopsi akses digital. Angka rentang 0,7-1,3% per tahun yang dikutip Hashim dipakai sebagai indikator besaran dampak potensial dari perluasan koneksi yang terjangkau.
Hashim mengaitkan dua sektor—perumahan dan internet—sebagai kombinasi penggerak yang berbeda karakter namun sama-sama berpotensi mempercepat dinamika ekonomi. Perumahan menyalurkan dampak lewat pembangunan dan rantai industri, sementara internet terjangkau bekerja lewat peningkatan konektivitas yang lebih luas.
Pada akhirnya, pesan utama Hashim adalah perlunya melihat pertumbuhan sebagai sesuatu yang bisa digerakkan melalui bidang-bidang yang punya efek turunan. Dengan menyebut kontribusi 14% PDB, cakupan keterkaitan 185 bidang industri, serta parameter dampak konektivitas internet menurut McKinsey, ia menempatkan perumahan dan internet terjangkau sebagai dua titik tumpu yang dapat diperhatikan dalam mendorong laju ekonomi Indonesia.
Dalam penjelasannya, Hashim juga menekankan bahwa efek turunan tersebut tidak hanya berhenti pada proses membangun rumah, melainkan berlanjut pada kebutuhan perangkat, bahan, dan layanan pendukung yang dibutuhkan agar hunian dapat berfungsi dan layak digunakan.
Ia kemudian memperluas pandangan ke konektivitas internet yang terjangkau sebagai peluang serupa: ketika lebih banyak orang dapat mengakses layanan digital, aktivitas ekonomi yang memanfaatkan internet ikut bertambah, sehingga mendorong laju pertumbuhan secara lebih luas.
Dengan menempatkan dua penggerak ini dalam satu kerangka, Hashim mengajak agar kebijakan pembangunan diarahkan pada area yang mampu memperbesar keterkaitan antarindustri sekaligus memperluas kesempatan pemanfaatan teknologi, sesuai indikator dampak konektivitas yang dirujuknya dari McKinsey.












