Teknologi

iPhone 18 Pro Menuju RI, Biaya Produksi Diperkirakan Naik 38% dari Seri 17 Pro

×

iPhone 18 Pro Menuju RI, Biaya Produksi Diperkirakan Naik 38% dari Seri 17 Pro

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: iPhone 18 Pro Siap Masuk RI, Biaya Produksinya Diramal Naik 38% - Teknologi

jurnalistik.co.id – Pergerakan menuju peluncuran iPhone 18 Pro di Indonesia mulai terlihat lebih nyata. Di level distributor resmi, iBox Indonesia menampilkan halaman pendaftaran minat untuk iPhone 18 Pro, iPhone 18 Pro Max, dan iPhone Duo.

Meski sinyal kebutuhan pasar sudah muncul, informasi kunci seperti tanggal mulai penjualan dan harga resmi di Indonesia masih belum diumumkan. Pada tahap ini, kehadiran perangkat tersebut di pasar domestik disebut sedang berjalan lewat proses sertifikasi.

Menurut laporan, iPhone 18 Pro, iPhone 18 Pro Max, serta iPhone Duo telah mencatatkan sertifikasi TKDN 40% dan memperoleh sertifikat Postel pada September 2026. Sertifikasi tersebut menunjukkan bahwa perangkat tidak hanya berhenti pada penyiapan distribusi, tetapi juga sudah menempuh proses kepatuhan untuk dapat hadir di pasar.

Langkah distribusi: pendaftaran minat dan proses sertifikasi

Halaman pendaftaran minat yang ditampilkan iBox menjadi salah satu indikator bahwa Apple sedang menyiapkan jalur masuk untuk lini produk terbaru tersebut. Dengan adanya registrasi minat, pihak distributor bersiap mengukur animo konsumen dan menyiapkan alur operasional menjelang rilis.

Namun, karena tanggal dan harga resmi belum dipublikasikan, konsumen masih perlu menunggu informasi lanjutan dari pihak terkait. Pada saat yang sama, keberadaan TKDN dan Postel memberi sinyal bahwa persyaratan untuk peredaran perangkat telah mulai dipenuhi.

Proyeksi biaya naik: dampaknya pada harga eceran

Di tengah persiapan tersebut, biaya produksi iPhone 18 Pro diproyeksikan mengalami kenaikan yang cukup besar. TrendForce memperkirakan bill of materials (BOM) iPhone 18 Pro varian 256 GB meningkat sekitar 38% secara tahunan dibandingkan iPhone Pro generasi sebelumnya.

Kenaikan biaya tersebut disebut terutama didorong oleh lonjakan biaya memori. Dengan komponen yang lebih mahal pada level perakitan, struktur biaya keseluruhan ikut terdorong naik, sehingga ruang untuk mempertahankan harga menjadi semakin sempit.

TrendForce juga menuliskan bahwa membuat harga eceran lebih tinggi tidak dapat dihindari. Kalimat tersebut menegaskan bahwa pada skenario kenaikan BOM sebesar 38%—terutama karena biaya memori—penyesuaian harga di tingkat konsumen cenderung menjadi konsekuensi logis yang sulit dihindari.

Secara mekanisme, BOM yang lebih tinggi berarti biaya yang harus ditanggung pada tahap komponen dan perakitan meningkat. Produsen umumnya menyeimbangkan berbagai elemen biaya agar produk tetap dapat dipasarkan secara berkelanjutan, termasuk mempertimbangkan margin dan biaya lain yang mengikuti perubahan komponen.

Karena itu, proyeksi kenaikan harga eceran menjadi bagian dari rangkaian yang saling terkait: ketika harga komponen utama naik, angka yang akhirnya dibayar konsumen kemungkinan besar ikut bergerak. Dalam konteks ini, laporan menekankan bahwa kenaikan tidak hanya berasal dari satu faktor tunggal, melainkan dari perubahan biaya yang tercermin dalam BOM, dengan memori sebagai pemicu utama.

Implikasi bagi pasar Indonesia

Bila sinyal sertifikasi di September 2026 berlanjut menuju rilis resmi, konsumen Indonesia perlu bersiap menghadapi kemungkinan penyesuaian harga. Poin pentingnya bukan hanya “kapan” perangkat datang, tetapi juga “bagaimana” biaya yang meningkat akan memengaruhi harga eceran.

Saat ini, karena tanggal peluncuran dan angka harga resmi belum diumumkan, proyeksi biaya tersebut masih berfungsi sebagai gambaran awal tekanan biaya yang mungkin dialami menjelang rilis. Namun, dari sisi substansi, laporan menyatakan bahwa lonjakan BOM sekitar 38%—yang dipicu kenaikan biaya memori—mengarah pada kemungkinan harga eceran yang lebih tinggi.

Dengan demikian, tahapan masuk pasar Indonesia untuk iPhone 18 Pro terlihat bergerak dari dua arah: persiapan distribusi yang ditandai pendaftaran minat, serta kesiapan kepatuhan melalui sertifikasi TKDN 40% dan Postel pada September 2026. Pada saat yang sama, proyeksi biaya produksi mengingatkan bahwa aspek harga berpotensi menjadi bagian yang akan paling terasa bagi konsumen.