Bisnis & Ekonomi

Fitch Ratings: Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat pada Semester II 2026

×

Fitch Ratings: Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat pada Semester II 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Fitch Ratings: Ekonomi RI Tumbuh Melambat Semester II 2026 - Market

jurnalistik.co.id – Fitch Ratings memperkirakan kinerja ekonomi Indonesia pada paruh kedua 2026 akan melambat. Lembaga pemeringkat itu menilai pertumbuhan akan berada di bawah level 5% pada semester II tahun tersebut.

Dalam proyeksinya untuk keseluruhan tahun 2026, Fitch menargetkan ekonomi tumbuh maksimal 5,2%. Angka tersebut dinilai meleset dari sasaran pemerintah yang ditetapkan sebesar 5,4%, sehingga ada jarak sekitar 0,2 poin persentase dari rencana awal.

Sebelum perlambatan diproyeksikan terjadi, Fitch juga menempatkan semester I 2026 sebagai pembanding. Pada periode tersebut, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil tercatat meningkat 5,4% secara tahunan (year-on-year /yoy).

Proyeksi ini muncul dari laporan hasil riset Fitch Ratings berjudul “Ketidakpastian Kebijakan dan Hambatan Eksternal Membayangi Prospek Pertumbuhan Indonesia” yang dirilis pada 21 Oktober 2026. Dalam laporan itu, Fitch menyoroti bahwa dinamika kebijakan dan tekanan eksternal dapat membatasi akselerasi pertumbuhan ke paruh kedua tahun berjalan.

Alex Muscatelli, analis Fitch Ratings, menyampaikan pandangannya dalam kutipan langsung berikut: “Fitch memproyeksikan pertumbuhan sepanjang tahun 2026 sebesar 5,2%, di bawah target awal pemerintah sebesar 5,4%, karena momentum diperkirakan akan melambat pada semester kedua 2026, menyiratkan pertumbuhan tahunan di bawah 5% pada paruh kedua,” ujar Analis Fitch Ratings Alex Muscatelli dalam laporan hasil riset, dikutip Selasa (27/10/2026).

Fitch juga menilai faktor dari sisi fiskal berperan dalam pembentukan pola pertumbuhan itu. Menurut penilaian mereka, dukungan fiskal pemerintah diperkirakan akan memudar setelah belanja difokuskan lebih awal pada semester pertama (front-loaded spending) pada 2026.

Perubahan dinamika belanja itu dipandang berimplikasi ke jalur permintaan domestik. Fitch memperkirakan belanja konsumen akan ikut melambat sepanjang sisa tahun 2026, seiring dengan keyakinan konsumen yang dinilai lebih rendah dibanding kondisi pada awal tahun.

Dengan kombinasi dua jalur tersebut, Fitch memandang momentum ekonomi berada dalam fase transisi menuju kecepatan yang lebih rendah di paruh kedua. Hal ini konsisten dengan proyeksi bahwa pertumbuhan tahunan pada semester II akan berada di bawah 5%, yang pada akhirnya membentuk target pertumbuhan tahunan maksimal 5,2% di 2026.

Secara keseluruhan, penilaian Fitch menekankan pentingnya mengantisipasi perubahan kontribusi kebijakan saat tahun bergeser dari paruh pertama ke paruh kedua. Ketika dukungan fiskal yang lebih awal mulai surut dan sisi konsumsi melemah karena sentimen rumah tangga, laju pertumbuhan berpotensi tidak mencapai target pemerintah sebesar 5,4% pada akhir 2026.

Fitch memetakan bahwa peralihan dari paruh pertama ke paruh kedua 2026 tidak sekadar berarti kenaikan angka pertumbuhan yang melambat, tetapi juga perubahan komposisi pendorong pertumbuhan itu sendiri. Dengan skenario semester II yang lebih lemah, capaian tahunan pun dibatasi, sehingga proyeksi 5,2% ditempatkan sebagai batas atas untuk 2026.

Dalam laporan risetnya, Fitch menekankan bahwa prospek tidak berjalan dalam ruang yang sepenuhnya stabil. Ketidakpastian kebijakan dan hambatan eksternal disebut dapat mengurangi ruang percepatan pertumbuhan pada paruh kedua, sehingga momentum yang sempat lebih kuat di awal tahun tidak berlanjut dengan ritme yang sama.

Di sisi fiskal, Fitch menggambarkan pola belanja yang sebelumnya lebih dominan di semester pertama. Karena pengeluaran pemerintah diperkirakan lebih terkonsentrasi di awal tahun (front-loaded), dampak dorongan tersebut dinilai makin melemah ketika tahun memasuki paruh kedua. Perubahan dukungan ini kemudian merembet ke jalur permintaan domestik dan memengaruhi ekspektasi aktivitas ekonomi.

Fitch juga mengaitkan pelemahan permintaan dengan sisi konsumsi rumah tangga. Ketika keyakinan konsumen dinilai lebih rendah dibanding kondisi pada awal 2026, belanja konsumen diperkirakan ikut melambat sepanjang sisa tahun. Kombinasi perlambatan fiskal yang mulai surut dan penurunan dukungan konsumsi menjadi alasan mengapa pertumbuhan pada semester II dipatok di bawah 5%, sekaligus membuat target pemerintah 5,4% sulit tercapai dan menyisakan jarak sekitar 0,2 poin.