Teknologi

Menjadi Anggota BPK, Nyoman Adhi Perkenalkan Audit Berbasis AI AIFA

×

Menjadi Anggota BPK, Nyoman Adhi Perkenalkan Audit Berbasis AI AIFA

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Resmi Jadi Anggota BPK, Nyoman Adhi Kenalkan Audit Berbasis AI - Market

jurnalistik.co.id – Anggota terpilih Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Nyoman Adhi Suryadnyana, memperkenalkan pendekatan audit baru yang memadukan teknologi dan cara pandang masa depan. Dalam uji kelayakan dan kepatuhan (fit and proper test) bersama Komisi XI DPR RI, Senin (5/10/2026), ia menyampaikan gagasan Audit AI-Augmented Foresight Audit (AIFA) sebagai bagian dari transformasi pemeriksaan.

AIFA, menurut Nyoman, dirancang untuk menggabungkan kecerdasan buatan (AI) dengan big data, riset, serta analisis berorientasi foresight. Kombinasi itu diarahkan agar proses audit tidak berhenti pada temuan atas persoalan yang telah terjadi, melainkan juga membantu pembacaan risiko dan kemungkinan dampak dari kebijakan yang akan berjalan.

Audit yang tak hanya menilai pelaksanaan, tetapi juga keberlanjutan

Nyoman menekankan bahwa pendekatan AIFA mengubah fokus pemeriksaan agar lebih relevan dengan kebutuhan publik. Pemeriksaan diharapkan bukan sekadar menjawab apakah suatu program dilaksanakan dengan baik, tetapi menilai sejauh mana program tersebut memiliki manfaat yang berkelanjutan serta menghasilkan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat.

“Dengan pendekatan ini, pemeriksaan tidak hanya menjawab apakah suatu program telah dilaksanakan dengan baik, tapi apakah program tersebut manfaatnya berkelanjutan serta mampu menciptakan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat,” kata Nyoman dalam uji kelayakan dan kepatuhan atau fit and proper test bersama dengan Komisi XI DPR RI, Senin (5/10/2026).

Gagasan tersebut sejalan dengan arah transformasi pemeriksaan yang ingin membuat audit lebih mampu mengantisipasi konsekuensi kebijakan. Melalui AI dan pengolahan data dalam skala besar, auditor dapat diarahkan untuk menyoroti aspek-aspek yang berpotensi menjadi risiko, sekaligus memetakan dampak yang mungkin muncul ke depan.

Dengan demikian, AIFA berupaya memperkaya cara pandang dalam pemeriksaan: dari verifikasi atas kondisi yang sudah terjadi menuju penelusuran kemungkinan yang masih akan berkembang. Pada titik ini, riset serta analisis foresight berfungsi sebagai jembatan agar audit lebih tajam dalam membaca arah kebijakan dan pengaruhnya terhadap program.

Uji penerapan lewat audit tematik ketahanan pangan pada 2025

Nyoman juga menyampaikan bahwa pendekatan ini bukan konsep yang benar-benar baru tanpa jejak praktik. Ia menyatakan cara pandang AIFA sejatinya sudah dijalankan dalam pemeriksaan tematik ketahanan pangan nasional pada 2025.

Dalam audit tematik tersebut, pemeriksaan melibatkan 14 kementerian/lembaga, dua badan usaha milik negara (BUMN), dan 29 pemerintah provinsi. Struktur keterlibatan yang luas itu menunjukkan bahwa pendekatan yang ia tawarkan diarahkan untuk menghadapi kompleksitas kebijakan dan pelaksanaan di banyak tingkat.

Menurut paparan Nyoman, pengalaman dalam pemeriksaan tematik menjadi bukti bahwa pemeriksaan dapat diarahkan untuk membaca lebih dari sekadar kepatuhan pelaksanaan. Audit dapat dirancang agar mampu melihat bagaimana program yang berjalan berpotensi memunculkan dampak di berbagai pihak, serta bagaimana risiko dapat dipahami lebih awal.

Ia menempatkan AIFA sebagai strategi transformasi pemeriksaan BPK yang menggabungkan proses analitis dengan kemampuan prediktif dari AI. Big data dipakai untuk memperkuat penelusuran informasi yang relevan, sedangkan riset dan foresight diposisikan untuk membantu analisis yang menatap kemungkinan ke depan.

Dengan kerangka tersebut, audit yang dihasilkan diharapkan lebih mampu menilai kualitas program secara lebih menyeluruh: bukan hanya menilai kepatuhan pada tahapan pelaksanaan, tetapi juga menilai keberlanjutan manfaat dan potensi dampak terhadap masyarakat.

Dalam konteks uji kelayakan dan kepatuhan di Komisi XI DPR RI, Nyoman menegaskan bahwa inti dari pendekatan AIFA terletak pada cara pemeriksaan diarahkan. Audit diarahkan agar dapat menyerap sinyal risiko dan menilai prospek dampak kebijakan, sehingga temuan yang disampaikan tidak berhenti pada apa yang sudah terjadi, melainkan juga memberi masukan untuk mengantisipasi arah kebijakan berikutnya.

Langkah transformasi melalui AIFA, dengan demikian, diposisikan sebagai upaya agar pemeriksaan BPK semakin adaptif, berbasis data, dan berorientasi pada nilai manfaat yang dirasakan publik. Nyoman menempatkan pemeriksaan yang lebih berwawasan ke depan sebagai cara untuk memperkuat kontribusi audit bagi perbaikan program dan kebijakan.