jurnalistik.co.id – Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, akan menjadi titik temu berbagai kendaraan dan perlengkapan militer mulai hari ini, Sabtu (19/9/2026). TNI menggelar TNI Fair 2026 sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 TNI.
Acara berlangsung selama dua hari, hingga Minggu (20/9/2026), dan memberi ruang bagi masyarakat untuk melihat alutsista dari TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, serta TNI Angkatan Udara. Selain pameran kendaraan dan senjata, kegiatan ini juga menampilkan inovasi teknologi militer serta atraksi dari ketiga matra.
Berbagai aktivitas lain turut disiapkan, mulai dari bakti kesehatan, makan gratis, pembagian sembako, informasi pendaftaran TNI, pameran kendaraan klasik, hingga panggung hiburan. TNI Fair digelar di tengah upaya pembaruan kekuatan militer yang dilakukan pemerintah dalam hampir dua tahun sejak Prabowo Subianto dilantik sebagai presiden pada 20 Oktober 2024.
Kapal induk pertama Indonesia
Kedatangan alutsista besar yang menjadi sorotan adalah kapal induk bekas Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi. Kapal tersebut baru tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Jumat (18/9/2026).
Setelah bergabung dengan TNI Angkatan Laut, kapal ini akan menggunakan nama KRI Sriwijaya. Kehadirannya menempatkan Indonesia untuk pertama kalinya memiliki kapal induk.
Giuseppe Garibaldi menempuh perjalanan dari Italia sejak 24 Agustus 2026. Dalam pelayaran menuju Indonesia, kapal melintasi Terusan Suez, Laut Merah, dan Samudra Hindia sebelum memasuki wilayah melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia I.
Saat berada di sekitar perairan Bangka, kapal mendapat pengawalan dari KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Kapal induk ringan itu tiba di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, pada Jumat (18/9/2026).
KRI Sriwijaya memiliki panjang sekitar 180 meter dan lebar 33 meter. Empat turbin gas dengan total tenaga sekitar 81.000 horsepower membuat kapal mampu melaju dengan kecepatan maksimum 30 knot.
Pada kecepatan jelajah sekitar 20 knot, kapal dapat menempuh perjalanan hingga 7.000 mil laut atau hampir 13.000 kilometer. Daya jelajah tersebut memungkinkan KRI Sriwijaya beroperasi dalam waktu yang panjang di wilayah laut Indonesia.
Geladak penerbangannya dapat digunakan untuk mengoperasikan berbagai jenis helikopter. Dalam konfigurasi tertentu, kapal ini mampu membawa belasan helikopter sekaligus untuk mendukung operasi udara, pencarian dan penyelamatan, evakuasi, serta pengiriman bantuan.
Ketika masih digunakan Angkatan Laut Italia, Giuseppe Garibaldi juga mampu membawa pesawat tempur AV-8B Harrier II. Pesawat tersebut dapat lepas landas dalam jarak pendek dan mendarat secara vertikal, dengan dukungan ski-jump pada bagian depan kapal.
Meski begitu, belum ada keterangan bahwa TNI Angkatan Laut akan menggunakan pesawat tempur sejenis di atas KRI Sriwijaya. TNI Angkatan Laut juga menyiapkan kapal ini terutama untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang.
KRI Sriwijaya dapat difungsikan sebagai pusat komando, pangkalan helikopter, sarana evakuasi, serta tempat pengiriman bantuan ketika terjadi bencana. Untuk kesiapan pengoperasian, TNI Angkatan Laut telah menyiapkan 310 personel sebagai calon awak kapal yang menjalani pelatihan memahami berbagai sistem dan kemampuan yang dibutuhkan.
Rafale dan penataan kekuatan udara
Selain kapal induk, alutsista besar lain yang masuk dalam periode pemerintahan Prabowo adalah pesawat tempur Dassault Rafale buatan Prancis. Tiga Rafale pertama tiba di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, pada 23 Januari 2026.
Kedatangan tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang mengoperasikan Rafale. Rafale merupakan pesawat tempur Multi-Role Combat Aircraft (MRCA) yang dapat menjalankan misi pertempuran udara, serangan terhadap sasaran di darat, pengintaian, serta patroli wilayah udara.
Tiga unit berikutnya datang menjelang acara penyerahan alutsista oleh Presiden Prabowo Subianto di Lanud Halim Perdanakusuma pada 18 Mei 2026. Dengan tambahan itu, TNI AU telah menerima enam dari total 42 Rafale yang dipesan.
Pesawat-pesawat tersebut memperkuat Skadron Udara 12 di Lanud Roesmin Nurjadin. Sebelumnya, skadron ini mengoperasikan pesawat Hawk 109/209 sebelum kemudian dipindahkan ke Skadron Udara 1.
Penyerahan Rafale juga dilengkapi rudal udara-ke-udara jarak jauh Meteor serta AASM HAMMER. Dalam acara pada Mei 2026, pemerintah secara simbolis menyerahkan satu rudal Meteor dan enam AASM HAMMER kepada TNI AU.
Berita Terkait
Perluasan kemampuan itu sejalan dengan persiapan operasional TNI Angkatan Udara pada latihan demo udara untuk memperingati HUT ke-81 TNI di Terminal Selatan Lanud Halim Perdanakusuma pada Sabtu, 15/8/2026.
Transport strategis: Airbus A400M dan Falcon 8X
Pembenahan mobilitas udara juga terlihat dari kedatangan pesawat angkut strategis Airbus A400M. TNI AU menerima pesawat Airbus A400M kedua pada 2026 dengan nomor registrasi A-4002 yang mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma pada 28 Maret 2026.
Penerbangan A-4002 berasal dari fasilitas Airbus di Sevilla, Spanyol, dan melengkapi A-4001 yang telah tiba pada November 2025. Dengan demikian, dua A400M yang dipesan Indonesia telah berada di dalam negeri.
A400M mampu mengangkut personel, kendaraan militer, alat berat, logistik, serta perlengkapan kemanusiaan. Pesawat ini juga dapat beroperasi dari landasan yang relatif pendek dan menjalankan misi pengisian bahan bakar di udara.
Kemampuan tersebut memperluas jangkauan operasi TNI AU, terutama untuk mengirimkan pasukan dan logistik ke berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, A400M dapat digunakan dalam operasi penanganan bencana serta misi kemanusiaan ke luar negeri.
Pesawat kedua kemudian diserahkan secara resmi oleh Prabowo kepada TNI dalam acara di Lanud Halim Perdanakusuma pada 18 Mei 2026.
Dalam kategori yang berbeda, TNI AU juga menerima empat pesawat Dassault Falcon 8X pada 2026. Keempat pesawat itu diserahkan dalam acara yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Lanud Halim Perdanakusuma pada 18 Mei 2026.
Falcon 8X bukan pesawat tempur. Pesawat ini digunakan sebagai angkutan militer jarak jauh untuk mendukung mobilitas strategis, perjalanan komando, dan pengawasan.
Falcon 8X juga akan dipakai untuk membawa presiden, wakil presiden, serta tamu negara setingkat kepala negara. Kabin pesawat dapat disesuaikan untuk berbagai kebutuhan penerbangan jarak jauh, sehingga rombongan terbang menuju berbagai negara dengan lebih sedikit pemberhentian.
Kehadiran empat Falcon 8X menambah kemampuan angkut strategis TNI AU dan melengkapi A400M yang lebih banyak digunakan untuk membawa pasukan, kendaraan, alat berat, serta logistik dalam jumlah besar.
Pelatihan dan misi tempur ringan dengan T-50i Golden Eagle
Pada sektor penerbangan tempur-latih, TNI AU menerima enam pesawat T-50i Golden Eagle baru dari Korea Selatan. Pengiriman dimulai pada Februari 2026 dan diselesaikan pada akhir Juni.
Korea Aerospace Industries kemudian mengumumkan penyelesaian proses penerimaan seluruh pesawat pada 16 Juli 2026. Enam unit tersebut merupakan bagian dari kontrak senilai sekitar US$240 juta yang ditandatangani pada 2021, termasuk dukungan teknis dan paket logistik.
T-50i merupakan pesawat latih jet supersonik yang juga dapat digunakan untuk menjalankan misi tempur ringan. Pesawat ini dimanfaatkan untuk melatih calon penerbang sebelum mengoperasikan pesawat tempur dengan kemampuan lebih tinggi.
Indonesia sebelumnya telah menerima 16 T-50i berdasarkan kontrak pertama yang ditandatangani pada 2011. Dengan kedatangan enam unit terbaru, jumlah T-50i yang pernah dikirim kepada Indonesia menjadi 22 pesawat.
Modernisasi kapal tempur: Brawijaya dan Prabu Siliwangi
Pembaruan juga dilakukan di laut melalui kedatangan KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321. Kedua kapal tempur multiguna dibuat oleh Fincantieri di Italia.
KRI Brawijaya diserahkan kepada TNI Angkatan Laut pada 2 Juli 2025 dan tiba di Indonesia pada September 2025. Sementara itu, KRI Prabu Siliwangi diserahkan pada Desember 2025 dan tiba di Tanah Air pada Maret 2026.
Keduanya memiliki panjang sekitar 143 meter dan bobot penuh mencapai 6.270 ton. Kehadiran dua kapal ini ikut menguatkan modernisasi kekuatan laut, termasuk dalam pengawalan pelayaran kapal induk saat memasuki perairan sekitar Bangka sebelum melanjutkan menuju Jakarta.












