Teknologi

Polisi Metropolitan (Met) Membongkar Jaringan Penyelundupan Ponsel Terbesar

×

Polisi Metropolitan (Met) Membongkar Jaringan Penyelundupan Ponsel Terbesar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How 'largest phone smuggling network' was uncovered by Met

jurnalistik.co.id – Penyelidikan bermula dari sebuah ponsel yang dicuri, lalu ditemukan di dalam sebuah paket tertutup rapat di sebuah gudang dekat Bandara Heathrow. Ponsel itu sempat dilacak secara elektronik oleh korban, sebelum akhirnya membuat polisi membongkar jaringan penyelundupan yang diyakini terbesar di Inggris.

Kasus ini dimulai setelah ponsel tersebut dicuri pada akhir 2024, tepat sebelum Natal. Korban kemudian melacak perangkat itu hingga lokasi gudang dan memberi tahu perusahaan pengiriman DHL. “The phone was ringing in the package,” ujar Commander Andy Featherstone, lead Metropolitan Police terkait pencurian ponsel. “It was still on. Which is very unusual in these circumstances, because they tend to be wrapped up, so the signal isn’t working. But in this case it was.”

Menurut penjelasan polisi, ponsel curian kerap dibungkus aluminium foil agar sinyal nirkabel terhalang dan perangkat tidak bisa dilacak. Namun dalam paket yang menjadi titik awal ini, sinyal perangkat tetap aktif. Ketika polisi datang untuk memeriksa, mereka menemukan lebih dari 800 unit perangkat.

Perangkat-perangkat tersebut ditata dalam batch masing-masing lima unit, lalu disusun ke dalam sembilan kotak. Sebagian dibungkus foil, sementara lainnya berada di dalam bubble wrap. Semua ponsel yang ditemukan dinyatakan hasil curian dan akan dikirim ke Hong Kong.

Untuk melacak pelaku, penyelidikan utama bernama Operation Echosteep pun diluncurkan. Tim yang menangani kasus ini melibatkan detektif yang biasa mengusut perampokan bersenjata dan penyelundupan narkoba, dengan fokus pada penelusuran tersangka serta alur pengiriman berikutnya.

Seiring penyelidikan, pengiriman lanjutan berhasil dicegat. Dari hasil forensik atas paket-paket tersebut, polisi mengidentifikasi dua pria, lalu keduanya ditempatkan di bawah pengawasan. Langkah itu berujung pada penindakan pada September 2025.

Pada September 2025, polisi menghentikan sebuah mobil saat kendaraan melintas melalui Waltham Forest. Dari operasi itu, Amir Muhammad Khadikhel dan Ismat Miakhel ditangkap. Di dalam mobil, beberapa ponsel terlihat berantakan di kursi belakang, sementara ponsel lain berada di lantai dan dibungkus foil.

Kedua tersangka juga mengenakan kalung dengan pin untuk melepas kartu SIM perangkat. Polisi menyebut sekitar 2.000 perangkat lain turut ditemukan di properti-properti yang terkait dengan mereka.

Sidang di Southwark Crown Court juga mengungkap tempat penyimpanan ponsel curian. Salah satu toko, Roshan Fruit and Nuts, yang berada di Lea Bridge Road, Leyton, London timur, disebut digunakan untuk menyimpan perangkat sebelum dikirim. Polisi menemukan trapdoor yang mengarah ke ruang bawah tanah, tempat kotak-kotak berlabel barang kering menyimpan paket-paket ponsel yang dibungkus foil, bersama uang tunai sebesar £44,665.

Di tempat lain yang terkait kasus, pengadilan mendengar ponsel-ponsel curian juga ditemukan tersimpan di dalam microwave. Dari rangkaian penemuan itu, penuntut umum menyimpulkan para terdakwa berperan dalam operasi kriminal terorganisasi.

Prosecutor Karen Robinson KC mengatakan para pria tersebut memainkan peran “leading role” dalam jaringan yang “sophisticated and criminal network”. Ia menyebut jaringan itu telah membuat lebih dari 5.000 ponsel disita oleh polisi, dengan nilai sekitar £5.5m di Inggris.

Sidang juga menyebut Amir Muhammad Khadikhel melarikan diri dari Afghanistan pada 2019 dan datang ke Inggris sebagai pencari suaka. Mansoor Mohammed—pria ketiga yang datang dari India pada 2019 dengan visa—juga diidentifikasi terlibat dalam penanganan perangkat.

Dalam persidangan, Khadikhel (35) dari Wanstead dan Miakhel (33) dari Walthamstow, bersama Mohammed (30) dari Wood Green, pada April mengaku bersalah. Mereka mengaku bersalah atas konspirasi untuk menangani barang curian serta ikut serta dalam aktivitas kegiatan kelompok kejahatan terorganisasi. Khadikhel dan Miakhel juga mengaku bersalah atas konspirasi untuk menghilangkan barang curian.

Pada hari Jumat, Judge Adam Hiddleston menjatuhkan vonis penjara. Khadikhel dijatuhi hukuman sembilan setengah tahun, Miakhel sembilan tahun, dan Mohammed enam setengah tahun.

Hakim menyatakan kejahatan ini terjadi pada “enormous scale financially” dan kriminalitasnya “highly organised and sophisticated”. Penuntut umum menambahkan bahwa penyelundupan ponsel di London bersifat “prolific” dan merupakan “very significant societal problem”.

Polisi juga menduga jaringan tersebut bertanggung jawab menyelundupkan hingga 40.000 ponsel selama 2024 dan 2025, dengan pengiriman ke China. Jumlah itu disebut setara sekitar 40% dari semua perangkat yang dicuri di London pada periode tersebut.

Featherstone menjelaskan kelompok yang lebih besar memiliki “many layers in its hierarchy”. Ia menyebut para pengatur merekrut pencuri jalanan melalui media sosial, sekaligus mempromosikan besaran bayaran untuk setiap ponsel curian yang dapat mereka kumpulkan. “So a modern device, or the most recent phone that had been released, would fetch a higher premium – in most cases around the £500 mark,” paparnya.

Menurut Featherstone, jaringan ini mengumpulkan ponsel dari pencuri jalanan di berbagai wilayah London. Setelah jumlahnya mencukupi, ponsel kemudian dikemas dan dikirim keluar Inggris menuju China. Ia menambahkan, “This network were collecting phones all across London from street thieves, and then they would take those phones in, and when they had enough they would then package them up and ship them out of the UK into China.”

Saira Pike dari Crown Prosecution Service menekankan pencurian ponsel tidak hanya soal kerugian finansial. Ia menyampaikan, “Phone theft is more than just a financial loss as it involves victims losing personal data, precious pictures or memories and their sense of security.” Ia juga mengatakan para terdakwa berada di pusat operasi kriminal terorganisasi yang rumit, yang mengambil keuntungan dari penderitaan korban. “Amir Khadikhel, Ismat Miakhel and Mansoor Mohammed were at the heart of a sophisticated organised crime operation that profited from the misery of victims who had their mobile phones stolen across London.”

Polisi menambahkan, anak-anak kerap direkrut lewat media sosial untuk melakukan pencurian ponsel. Featherstone menceritakan seorang anak laki-laki berusia 14 tahun sempat dihentikan dengan sekitar 20 ponsel curian pada dirinya. Ia menilai dalam satu hari, anak tersebut berpotensi menerima ribuan poundsterling.

Featherstone menyebut beberapa perangkat—terutama iPhone—bisa bernilai hingga £5.000 di China dan Hong Kong. Ia menjelaskan, “Some of these devices, particularly iPhones, can fetch up to £5,000 in China and Hong Kong. The reason being that they can work on the internet without any type of restriction,” sebelum menambahkan, “This was a global operation, millions of pounds involved, because of the value of these devices.”

Metropolitan Police menyatakan sudah melakukan 14 penangkapan yang terkait Operation Echosteep. Polisi juga menyita lebih dari £250.000 dalam bentuk uang tunai dan memulihkan lebih dari 10.000 ponsel curian, meski jumlah korban yang akhirnya bisa kembali memperoleh perangkatnya disebut lebih rendah, yakni lebih dari 1.000 orang.

Dalam upaya menargetkan pencuri, polisi menyebut memakai sepeda listrik, drone, serta pengenalan wajah secara langsung. Catatan polisi juga menunjukkan jumlah pencurian ponsel dan perampokan menurun menjadi 62.029 pada tahun yang berakhir Agustus 2026, dibanding 78.344 pada periode tahun sebelumnya—turun 20%.

Di borough Westminster, yang mencatat tingkat pencurian ponsel tertinggi di London, 672 kasus pencurian ponsel dan perampokan tercatat pada bulan lalu, setara sekitar 21 kejadian per hari. Featherstone mengakui angka tersebut masih “too high”. Ia mengatakan, “This is where we need assistance from industry, because this cannot be resolved by arrests and prosecutions and we need assistance from industry to design this problem out.”

Pada Juni, Commissioner Metropolitan Police Sir Mark Rowley menyebut telah menulis kepada Home Secretary untuk meminta legislasi agar perusahaan telepon mempublikasikan data perangkat yang dicuri, termasuk apakah perangkat tersebut tersambung kembali ke jaringan. Ia juga meminta penegakan langkah agar perangkat curian menjadi “unusable bricks”.

Kepolisian juga menyatakan mulai berbagi data dengan Apple untuk lebih memantau apakah handset curian tersambung kembali ke jaringan setelah diambil dari korban.