jurnalistik.co.id – Sebuah skema undian berbayar baru kembali disorot setelah terungkap bahwa Anton Hall, mantan pengelola Level Up Giveaways, terlibat dalam usaha sejenis meski perusahaannya telah dibubarkan dan ia sendiri dinyatakan bangkrut. Kegelisahan datang dari sejumlah pemenang yang sebelumnya menunggu hadiah dari undian yang dijalankan perusahaan itu.
Di salah satu kasus, Ami Shuttleworth bersama tunangannya, Chris Smith, mengatakan mereka diberi kabar telah memenangkan £10.000 dari kompetisi yang mengharuskan peserta membayar untuk masuk undian. Ami menuturkan, “We were over the moon, our wedding was going to be paid off.” Namun, menurut penuturan mereka, tidak ada pembayaran yang mereka terima.
Mel Higgins, 33 tahun, juga mengaku memiliki rencana besar setelah diberi tahu ia memenangkan £5.000. Ia berkata, “I was going to pay off my credit card and whatever was left I was going to put into my business.” Dalam ceritanya, ia menangis karena merasa kabar itu akan “change my life”, tetapi pada akhirnya hadiah tersebut juga tidak dibayarkan.
Level Up Giveaways berbasis di Sowerby Bridge, West Yorkshire, kemudian dibubarkan oleh High Court pada Agustus 2025 akibat utang yang tidak dibayar. Dalam proses yang terpisah, Anton Hall juga dinyatakan bangkrut pada November 2025. Menurut penjelasan BBC, perusahaan itu sebelumnya memiliki kewajiban membayar “tens of thousands” dalam hadiah yang belum diberikan kepada pelanggan sebelum berhenti beroperasi.
Perdebatan soal aturan saat bangkrut
Setelah diketahui Hall kembali terlibat dalam undian berbayar baru, Ami menyatakan kemarahannya. Ia mengaku, “Like a lot of people I’m just angry.” Baginya, pengalaman itu terasa tidak adil; Mel pun menyebut hal tersebut “just feels wrong”.
Alasan yang menjadi sorotan berkaitan dengan pembatasan bagi orang yang dinyatakan bangkrut. Dalam ketentuan legislatif mengenai restriksi kebangkrutan, disebutkan, “You need the permission of the court to act as a company director.” Ketentuan tersebut juga menegaskan, “This includes directly or indirectly, taking part in, or having a concern in the promotion, formation or management of a limited company.” Sementara itu, pembatasan tidak berlaku bagi orang bangkrut yang bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan.
Hall, yang menurut dokumen pengadilan kini tinggal di York, menyampaikan kepada BBC bahwa ia tidak menjalankan perusahaan dengan format tertentu. Ia mengatakan, “I haven’t set up or owned a limited company, and I’m not a director of, or managing, a limited company.” Ia juga menyatakan kompetisi yang ia adakan dijalankan secara pribadi melalui platform Raffall. Dalam penjelasannya, ia menegaskan, “The competitions I hosted have been run personally through the Raffall platform.”
Raffall digambarkan sebagai situs independen yang memungkinkan individu menjadi penyelenggara undian berbayar miliknya sendiri. Model ini, sering juga disebut prize draws atau pay-to-enter competitions, bekerja dengan menjual sejumlah tiket masuk undian yang hasilnya ditetapkan melalui undian, umumnya dengan hadiah berupa uang tunai. Secara terpisah, Department for Culture, Media and Sport juga menyebut prize draws dan kompetisi sebagai pasar yang “significant and growing market”.
Berita Terkait
Meski Hall menyebut dirinya hanya menjalankan melalui Raffall, sejumlah indikator justru mengarah pada keterlibatan aktif dalam promosi dan operasional usaha yang sama. Dalam video YouTube yang dirilis pada Agustus, Hall menyatakan ia akan menjadi karyawan dari usaha baru yang dijalankan pihak lain. Akan tetapi, BBC menilai ia tetap memainkan peran utama dalam mempromosikan dan menjalankan skema yang juga menggunakan namanya.
Setelah mengumumkan usaha baru, Hall terlihat memandu arah venture itu melalui unggahan media sosial, termasuk pembahasan jumlah penjualan serta data keuntungan dan kerugian. Raffall founder dan CEO Stelios Kounou juga mengonfirmasi bahwa akun @antonlevelup terdaftar atas nama Hall secara pribadi. Kounou menyatakan pembayaran dilakukan hanya ke rekening yang tertulis atas nama Anton Hall, dan ia menambahkan bahwa akun tersebut dibuat sebelum Hall dinyatakan bangkrut. Kounou juga mengatakan bahwa Raffall telah dihubungi oleh Insolvency Service—lembaga yang menangani kebangkrutan Hall—terkait akun tersebut.
Seorang juru bicara Insolvency Service mengatakan mereka tidak memberi komentar untuk kasus individual. Di sisi lain, Hall membahas usaha barunya beberapa waktu lalu dan mengaku menerima respons yang ia sebut baik. Ia mengatakan, “A few people negative, understandably, I get it – potentially the winners from Level Up Giveaways who didn’t get paid unfortunately.” Hall juga menyatakan, “We have agreed that if [the new venture] takes off – it’s a big if – and it starts making a decent amount of profit we are going to look at trying to pay out people who didn’t get paid from Level Up Giveaways. The ultimate goal.”
Pembatasan akibat kebangkrutan Hall berlangsung selama 12 bulan dan akan berakhir pada 7 November. Restriksi itu mencakup kewajiban untuk memberi tahu trustee kebangkrutan bila ada pendapatan tambahan di luar yang sudah dideklarasikan. Dalam periode tiga tahun, uang tersebut bisa dipakai untuk membayar para kreditor.
Hall juga menyatakan ia tidak memperoleh keuntungan bersih dari menjalankan undian. Ia mengatakan ia “not made any net profit” dari menjalankan undian. BBC kemudian menanyakan bagaimana ia bisa membuat janji mengenai pembayaran dari potensi keuntungan masa depan, mengingat ia mengaku hanya sebagai karyawan. Ia menjawab bahwa video tersebut direkam “before I became aware of the bankruptcy proceedings and related restrictions”. Ia menambahkan, “At that time, I was discussing working with someone else on a proposed business, but once I became aware of the situation, that proposed arrangement did not proceed.”
Setelah dihubungi BBC, Hall mengisyaratkan ia tidak akan lagi menjalankan kompetisi melalui unggahan media sosial. Ia menulis, “The raffle thing isn’t worth putting my family through the drama.”
Kembali ke pengalaman pemenang, Ami dan Chris mengatakan mereka pernah memenangkan £10.000 bersama Level Up Giveaways pada 2023, saat perusahaan tampak berjalan lebih baik. Namun, pada tahun berikutnya, masalah yang mereka rasakan meningkat, hingga sejumlah pemenang yang lain juga dibiarkan tanpa kepastian. Dalam video YouTube yang terbit Januari 2025, Hall menyebut ia kesulitan menjual tiket dalam jumlah yang cukup untuk menutup biaya, sehingga ia tidak bisa membayar hadiah yang dijanjikan—sementara kompetisi tetap berjalan.
Ami menceritakan ia harus berulang kali mengejar status pembayaran melalui panggilan telepon. Ia menuturkan, “It did cause a lot of stress in the lead up to the wedding.” Meski ia merasa momen pernikahan tidak hilang seluruhnya, ada beban yang tetap tersimpan: “It’s always going to be in the back of my mind how it could have changed it.” Bagi Mel, pengalamannya disebut “hugely upsetting”. Ia menegaskan, “Fair enough things go wrong and people do make mistakes, but when you are that far into it you have got to pull the plug and stop taking money from people.”
Mel juga mengaitkan kekisruhan itu dengan cara Hall mempromosikan undian terbaru di media sosial. Ia mengaku yakin perilaku semacam itu menjadi bagian dari persoalan sejak awal: “I’m pretty sure that behaviour got him into the mess in the first place.”









